Friday, May 22, 2020

#22 : Rafas Merebut Teratai Emas

Hai hai ! Kembali lagi.. ada sebuah kejadian menarik di klinik pagi ini. seorang pasien datang meminta obat antibiotic.. untuk ikannya. Sebuah pembelajaran baru, ternyata obat antibiotic manusia juga bisa untuk hewan (?) Lumayan, kisah pagi ini membuat suasana hati menajdi tidak kaku setelah ada kejadian yang membuat tidak enak hati. Cukup cerita pagi ini, mari lanjut dongeng yang kemarin :D

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

Setelah Horsi melewati masa kritisnya, Kelana menemukan barang yang paling berharga (#17) dan ia melewati perjalanan lagi untuk menghadapi ujian yang ketiga.

Di sini ia mendarat pada sebuah pemukiman padat dan bertemu dengan seorang pencuri secara tidak disengaja. Bila berhasil melewati ujian yang terakhir ini, Kelana akan mendapatkan teratai emas (#18). Di pemukiman tersebut, Kelana bertemu dengan seorang pencuri yang ternyata adalah adiknya sendiri, Maharani (#19).

Setelah bertemu dengan adik dan juga ibunya, Kelana merasa menyesal telah berbuat jahat kepada mereka dan ia meminta maaf atas perlakuannya. Mereka pun memaafkan Kelana (#20). Mereka bertiga berbincang dan akhirnya diketahuilah bahwa teratai emas itu disimpan oleh ibu Kelana setelah satu hari yang lalu seorang wanita menitipkannya kepadanya (#21).

***

Kelana sampai di istana dan langsung menuju ke kamar Putri Mahesa. Di sana sudah terdapat ketujuh ksatria, sang Raja, dan dayang kerajaan. Tampak dayang-dayang yang merupakan pelayan sang putri menangis tersedu-sedu. Para ksatria menunduk lesu dan sang raja memegang tangan Putri Mahesa serta membelai lembut rambutnya. Di samping tempat tidurnya terdapat jam pasir yang menunjukkan tenggat waktu dari Rafas. Waktu yang diberikan hampir habis. Kelana segera membuka kotak miliknya dan mengambil teratai emas itu.

Semua orang yang ada di situ terkejut dengan kedatangan Kelana, terlebih oleh teratai emas yang ada di tangannya. Sang raja menatap Kelana dengan tatapan haru, matanya berkaca-kaca, dan tak lama kemudian ia menangis.

“Kelana..” katanya.

“Yang Mulia, aku berhasil mendapatkan teratai emas ini. Aku akan meletakkannya di kepala Tuan Putri agar sihir itu menghilang,” Kelana berjalan mendekati Putri Mahesa. Belum sempat ia meletakkan teratai itu pada kepalanya, tiba-tiba ruangan dipenuhi kegelapan. Tampak kabut asap berwana abu-abu menyelimuti ruangan itu.

Sebuah hentakan keras terdengar, dan muncullah Rafas, sang penyihir jahat.

“Hahaha.. Lagi-lagi kita bertemu ! Tak kusangka kau berhasil menemukan teratai itu !” ucapnya. Tampak di tangannya terdapat tongkat tengkorak yang menyala-nyala.

            Kelana memasukkan teratai itu ke dalam saku bajunya perlahan, sedangkan kotak kecil tempat teratai itu diletakkan di samping tempat tidur Putri Mahesa. Ia pun mengeluarkan pedang miliknya. Bersamaan dengan itu, para kstaria juga melakukan hal yang sama. Mereka menyerang Rafas namun tidak ada satupun yang berhasil menjangkaunya. Rafas mengangkat tongkatnya dan para ksatria terdorong jatuh.

            Rafas masih terlalu kuat bagi mereka. Kelana memutar otak bagaimana bisa mengelahkannya. Ia kemudian melihat ke arah tongkat Rafas. Ia yakin kekuatan Rafas ada pada tongkat itu. Cara untuk mengalahkannya adalah dengan menghancurkan tongkat itu.

“Berikan teratai itu padaku ! Atau akan membunuh Putri Mahesa !” kata Rafas kepada Kelana.

            Kelana bangkit berdiri dan berkata,

“Tidak akan kuberikan kepadamu hai orang jahat !”

            Rafas tertawa,

“Kalian tidak ada yang bisa mengalahkanku, sang raja kegelapan ! “

            Kelana kemudian berlari menuju ke arah kotak kecil itu berada. Rafas yang melihatnya langsung mengayunkan tongkat miliknya dan seketika kotak itu sudah berpindah tangan kepadanya.

“Hahaha.. lihatlah teratai itu sudah menjadi milikku ! Habislah kalian semua ! kerajaan ini menjadi milikku !” ucapnya.

 


Thursday, May 21, 2020

#21 : Penemuan Teratai Emas

Hai ! Beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Bagi yang berpuasa, semoga tetap kuat dan bagi yang merantau, semoga tetap kuat menahan rindu kepada orang-orang tercinta. Untuk menghilangkan perasaan sedih atau galau, boleh dibaca dongeng ini :D

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

Setelah Horsi melewati masa kritisnya, Kelana menemukan barang yang paling berharga (#17) dan ia melewati perjalanan lagi untuk menghadapi ujian yang ketiga.

Di sini ia mendarat pada sebuah pemukiman padat dan bertemu dengan seorang pencuri secara tidak disengaja. Bila berhasil melewati ujian yang terakhir ini, Kelana akan mendapatkan teratai emas (#18). Di pemukiman tersebut, Kelana bertemu dengan seorang pencuri yang ternyata adalah adiknya sendiri, Maharani (#19). Setelah bertemu dengan adik dan juga ibunya, Kelana merasa menyesal telah berbuat jahat kepada mereka dan ia meminta maaf atas perlakuannya. Mereka pun memaafkan Kelana (#20).

***

Mereka bertiga kemudian duduk melingkar di bawah. Di sana tidak ada meja ataupun kursi, sehingga hanya bisa duduk di lantai. Di situ Kelana melepas rasa rindunya terhadap orang-orang yang amat dicintainya itu. Mereka saling bertukar cerita, dimulai dari mengenang masa lalu hingga masa saat ini. Rani bercerita bagaimana mereka harus menjual rumahnya dan pindah ke pemukiman itu demi bertahan hidup, sedangkan Kelana bercerita tentang kehidupan di istana.

“Kudengar Putri Mahesa terkena kutukan sihir jahat. Bagaimana kondisinya ?” Tanya Rani.

Ia tiba-tiba teringat akan tugas utamanya yang sejenak ia terlupakan. Iapun menjawab, “ya.. ia disihir oleh Rafas. Ia saat ini terbaring dan bila dalam waktu seminggu tidak ada yang bisa membangunkannya, ia akan mati… dan Rafas akan mengambil alih kerajaan ini….”

“Lantas, apa yang bisa membangunkannya ?” tanya ibunya.

“Teratai emas. Kami berpencar untuk mencari teratai itu..” Kelana menjawab pelan.

Maharani dan ibu saling bertatapan. Mereka tampak heran dengan jawaban Kelana.

“Teratai emas ? sebentar..” ibu pergi dari hadapan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.

Tak berapa lama, ibu mengeluarkan kotak kecil berwarna coklat. Dibukanya kotak tersebut di depan Kelana. Tampak teratai kecil berwarna emas. Teratai itu bersinar dan mengeluarkan cahaya yang amat indah. Kelana melonjak dari duduknya melihat benda yang ia cari selama ini ada di depan matanya.

“Bagaimana ibu bisa memilikinya ?” tanya Kelana.

“Seorang perempuan kemarin datang dan memberikannya kepada ibu. Ia berpesan untuk tidak memberikannya kepada seorangpun kecuali ada yang mengatakan bahwa ia mencarinya,” kata Maharani.

“Ambillah, sebelum waktu berakhir dan kutukan itu menjadi abadi. Selamatkan Putri Mahesa, Kelana,” ibu menyerahkan teratai itu kepadanya. Kelana segera mengambil kotak itu. Sejenak ia berpikir untuk tidak kembali ke istana dan akan menetap bersama ibu serta adiknya. Namun ia juga menanggung beban terhadap istana dan negaranya.

“Pergilah..” ibu memeluknya erat.

“Terima kasih ibu, Rani.. aku bersumpah tidak akan melupakan atau meninggalkan ibu dan adik lagi,” Kelana bersiap untuk pergi. Ketika ia sampai di pintu depan, ia mengeluarkan Horsi dari sakunya.

“Ayo Horsi, kita kembali ke kerajaan. Aku sudah menemukan teratai itu,” kata Kelana.

Segera setelahnya, tiba-tiba Horsi terlempar ke hadapan Kelana. Horsi kembali ke bentuk asalnya, seekor kuda yang gagah. Tidak hanya itu, baju Kelana pun berubah. Jubahnya yang sudah lusuh itu kembali indah seperti sedia kala. Kelana tampah sangat menawan dengan jubah, pedang, dan kuda miliknya.

Sebelum ia pergi, muncul angin yang berhembus kencang.  Udara seketika menjadi sangat dingin dan mencekam. Ibu dan Maharani ketakutan pada situasi itu, namun Kelana menenangkan mereka. Kelana yakin bahwa itu adalah pertanda suara yang menuntunnya itu kembali datang. Dan ternyata benar, suara itu menggelegar dan berkata,

“Selamat, Kelana ! kamu sudah berhasil mendapatkan teratai emas itu atas usahamu. Kamu telah berhasil melewati ujian yang ketiga, di mana kamu mengalahkan egomu sendiri untuk meminta maaf dan kembali kepada keluargamu ! sekarang pergilah ke istana. Letakkan teratai itu di kepala Putri Mahesa.”

Kelana mengangguk dan segera memacu Horsi kembali ke istana sebelum waktu yang diberikan oleh Rafas berakhir.

 


Wednesday, May 20, 2020

#20 : Kebesaran Hati Keluarga Kelana

Hai ! Maafkan karema tulisan ini terlambat beberapa jam dari yang seharusnya terjadwal. Tanpa banyak basa-basi, mari kita lanjutkan dongeng ini :D

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

Setelah Horsi melewati masa kritisnya, Kelana menemukan barang yang paling berharga (#17) dan ia melewati perjalanan lagi untuk menghadapi ujian yang ketiga.

Di sini ia mendarat pada sebuah pemukiman padat dan bertemu dengan seorang pencuri secara tidak disengaja. Bila berhasil melewati ujian yang terakhir ini, Kelana akan mendapatkan teratai emas (#18). Di pemukiman tersebut, Kelana bertemu dengan seorang pencuri yang ternyata adalah adiknya sendiri, Maharani (#19).

***

Pertanyaan itu seperti tidak terjawab. Maharani hanya menunduk dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku tidak..” ia terbata-bata.

“Di mana kamu mengambilnya ? supaya ibu bisa meminta maaf dan menggantinya,” akhirnya sang pemilik suara itu muncul di hadapan Kelana. Seorang  berusia lanjut, wajah cantiknya masih terlihat meski ia sudah menua, rambut putihnya menunjukkan kedewasaan, tatapan lembutnya tidak berubah seperti dahulu kala.

“Kita memang miskin, tapi jangan sekali-sekali kamu melakukan tindakan terlarang. Ingat, kakakmu, Kelana, adalah seorang prajurit, bahkan kudengar sekarang ia diangkat menjadi ksatria.. ia adalah penegak kebenaran.. ia..” belum sempat ibu meneruskan kata-katanya, Maharani langsung menanggapi,

“ibu ! dia sudah tidak menganggap kita lagi ! aku kemarin menemuinya dan ia bahkan tidak memandangku sama sekali ! ia mengatakan berasal dari keluarga ksatria dan tidak memiliki keluarga lagi !” suara Maharani menggelegar menunjukkan kekecewaannya.

Kelana menahan tangis mendengar perkataan adiknya itu. Ia merasa amat bersalah kepada mereka. Demi harga dirinya, ia dengan tega tidak menganggap keluarganya sendiri. Ia ingin minta maaf dan memeluk adik serta ibunya, namun ia mengetahui bahwa ia tidak pantas untuk melakukannya. Ia merasa tidak memiliki wajah untuk bertatapan dengan mereka. Sementara itu Horsi melihat Kelana dengan keheranan. Kelana memandang Horsi dan tersenyum kepadanya. Kelana kemudian memasukkan Horsi ke dalam saku celananya.

“Maharani, putri kesayanganku. Sudah lupakan itu semua. Bagaimanapun juga, ia adalah kakakmu, meskipun katamu ia tidak menganggapmu, bahkan ibu. Namun ibu yakin, kakakmu memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya, demi kepentingan negara. Sudahlah.. maafkan kakakmu, nak…” ibu memeluk Maharani dan membelai lembut rambut hitam panjangnya. Maharani hanya bisa menangis di pelukan ibunya.         

Kelana sudah tidak tahan lagi melihat semuanya. Ia memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan mata berkaca-kaca, ia mendekati ibu dan adiknya yang sedang berpelukan.

“Maafkan keegoisanku, ibu… Rani..” katanya terbata-bata.

Maharani dan ibunya segera menengok ke arah Kelana. Sungguh terkejutlah mereka, melihat orang yang sudah lama hilang kini kembali ke rumah.

“Aku adalah orang jahat.. aku tidak pantas memiliki keluarga ini.. demi harga diri, melakukannya. Maafkan aku Rani, telah mengusirmu… aku sungguh bersalah…” Kelana jatuh dan berlutut di hadapan kedua orang itu.

“Kak…”

“Kelana…”

Mereka berdua langsung membantu mengangkat Kelana yang berlutut di hadapannya. Air mata Kelana menetes deras dari pipinya. Baru kali ini ia merasa sedih hingga menangis terisak. Kelana tertatih dan terbangun. Mereka bertiga saling berpelukan.

“Maaf bu.. Rani..” Kelana masih menangis tersedu-sedu.

“Tidak apa-apa, anakku sayang.. kami memaafkanmu….” ucap ibunya lembut.

 


Tuesday, May 19, 2020

#19 : Siapakah Pencuri Itu ?

Hai ! Pada saat ini hujan turun dengan cukup deras di tempatku, sepertinya membuat segelas coklat hangat sangat menyenangkan. Yuk, pembaca juga menyiapkan minuman hangat untuk membaca dongeng ini. Hahaha..

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

Setelah Horsi melewati masa kritisnya, Kelana menemukan barang yang paling berharga (#17) dan ia melewati perjalanan lagi untuk menghadapi ujian yang ketiga.

Di sini ia mendarat pada sebuah pemukiman padat dan bertemu dengan seorang pencuri secara tidak disengaja. Bila berhasil melewati ujian yang terakhir ini, Kelana akan mendapatkan teratai emas (#18).

***

 

Ia menggunakan jubah panjang berwana coklat yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia menggunakan tudung kepala dan masker untuk menutupi wajah serta kepalanya. Ia tidak menengok sedikitpun ketika menabrak Kelana. Dari belakang Kelana mendengar seseorang berteriak,

“hei dasar pencuri ! kembalikan sayuran milik kami !” suara itu berasal dari seorang perempuan separuh baya. Tubuhnya besar gemuk dengan celemek yang menutupi dada dan kakinya. Di tangannya terdapat sapu, seperti ia siap memukul sang pencuri itu dengan sapu miliknya. Perempuan itu berlari untuk mengejarnya.

“Anak muda. Mengapa kau diam saja ? bantu aku menangkap pencuri itu ! berani-beraninya ia mengambil makanan kami !” ucapnya lagi. Kelana yang masih tampak heran ikut membantu mengejar pencuri makanan. Pencuri itu sungguh lihai. Ia mampu mencari celah untuk menghindar. Ia dapat masuk sampaike gang terkecil sekalipun. Ia dapat memanjat dinding dan melompat dari atap ke atap. Perempuan yang mengejarnya itupun menyerah dan kembali ke rumahnya.

Lain halnya dengan Kelana. Ia sudah berlatih bertahun-tahun di istana dan ia masih penasaran dengan pencuri lihai itu. Kelana masih berusaha untuk menangkapnya. Ketika itu ia menemui jalan buntu, namun dari ujung matanya ia melihat pencuri itu bersembunyi di balik dinding rumah. Kelana mengejarnya dan pencuri itu kabur. Mereka berlari di sepanjang pemukiman kumuh itu. Kelana merasa gembira dengan pengejarannya karena ia bisa bermain dengan pencuri itu. Bagi Kelana, hal seperti ini adalah permainan yang menyenangkan. Ia teringat saat kecil, ia dan adiknya sering bermain kejar-kejaran seperti ini. Mereka berlari di dalam dan sekitar rumah, sebelum ibu memanggil mereka untuk mandi dan makan, atau memarahi ketika mereka memecahkan piring dan gelas sembari berlari.

Pengejaran itu akhirnya terhenti ketika Kelana melihat pencuri itu masuk ke dalam sebuah rumah lewat pintu belakang. Kelana mengikuti nya dan sampai masuk ke dalam rumah itu. Ia mengendap-endap supaya tidak ketahuan. Rumah itu tampak sangat sederhana. Dari jauh dilihatnya pencuri itu membuka jubah warna coklatnya. Sungguh terkejutlah ia karena sosok itu adalah orang yang pernah ia usir sebelumnya, orang yang tidak ia akui sebelumnya; yaitu adik kandungnya yang bernama Maharani.

“Aku pulang, bu. Lihatlah aku membawa seikat sayur untuk kita makan,” katanya perlahan sambil mengaitkan jubah itu di gantungan.

Kelana berusaha untuk menahan nafasnya dan terus mengamati dari balik dinding. Jantungnya berdegup dengan kencang, ia merasa ada ibunya juga di situ.

“Apakah kau mencuri lagi  ?” suara itu sungguh amat dikenal di telinga Kelana. Suara lembut yang sangat meneduhkan, suara ibunya.

 


Monday, May 18, 2020

#18 : Ujian Terakhir Kelana

Hai ! Lagi-lagi banyak berita yang membuat pusing kepala. Klarifikasi sana sini, mulai dari pemerintah hingga selebgram. Yasudah, yang penting sebagai rakyat kita tetap cuci tangan, pakai masker, dan social distancing; sambil berharap segala yang kita alami akan menjadi lebih baik. Amin.. sekarang mari kita lanjutkan dongeng yang sudah tujuh belas hari berlangsung ini.

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

Setelah Horsi melewati masa kritisnya, Kelana menemukan barang yang paling berharga (#17) dan ia melewati perjalanan lagi untuk menghadapi ujian yang ketiga.

***

Kelana dan Horsi akhirnya mendarat di sebuah tempat. Tempat itu tampak seperti pemukiman padat yang kumuh. Tampak genangan air kotor di mana-mana. Jalan yang menghubungkan rumah dengan rumah lain pun sangat sempit. Tidak ada tanaman atau pohon yang tumbuh di sana. Hanya rumput liar yang mudah ditemui.

Langit menjadi gelap, terdengar gemuruh dari langit, yang menandakan suara yang akan memberi petunjuk ujian kepada Kelana akan datang. Kelana duduk di pinggir jalan dengan Horsi yang ada di bahunya sedang makan remahan roti.

“Selamat datang di ujian yang terakhir. Kali ini tantangan yang harus kamu hadapi adalah menemukan teratai emas !” kata suara itu.

Kelana mengernyitkan dahi, ia merasa keheranan. Bagaimana mungkin di tempat kumuh seperti ini ada teratai emas yang selama ini ia cari-cari ? ia pun bertanya kepada sang suara,

“Di manakah tempat teratai itu berada ?”

“Carilah,” suara itu kemudian menghilang.

Kelana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah menduga bahwa suara itu tidak akan memberikan arah yang jelas mengenai ujian terakhirnya itu. Kelana bangkit dari tempat duduknya, berkeliling dan berjalan di sekitar pemukiman untuk mendapatkan petunjuk. Ia mengamati sekitarnya. Sekilas ia tampak prihatin karena tempat itu sungguh berbeda dengan istana tempat ia tinggal.

Ia sempat bertemu dengan segerombolan anak yang bermain dengan tanah penuh lumpur yang kotor. Mereka tampak amat gembira bermain bersama. Perlahan Kelana ikut tersenyum melihat kesederhaan orang-orang mungil di depannya itu. Ia teringat akan masa kecilnya yang senang bermain bersama teman-temannya.

Hari masih sore ketika ia itu. Ia sesekali ikut permainan anak-anak di sana. Mereka sangat ramah kepadanya. Mereka tampak bebas dan tidak memiliki beban pikiran. Kelana kemudian berefleksi terhadap dirinya sendiri. Saat ini ia sudah dewasa dan memiliki banyak tanggung jawab. Bahkan dengan diangkatnya ia menjadi seorang ksatria, ia harus menanggung beban keselamatan istana, bahkan negara. Ia terkadang ingin kembali ke masa kecilnya, di mana ia masih bebas dan hanya bermain saja. Namun ia juga menyadari, bagiamanapun, seseorang pasti tumbuh besar. Itu pasti. Dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Ia memilih untuk menjadi seorang yang dewasa.

Ketika itu seorang anak dipanggil oleh ibunya untuk segera mandi karena hari mulai gelap. Kelana mengamatinya lagi. Kali ini ia teringat akan ibunya. Bagaimana ibunya mengasuhnya sejak kecil dan dengan sabar menasehatinya ketika ia nakal. Ibunya jugalah yang telah berjuang dengan keras untuk menghidupinya dan sang adik. Tanpa sadar Kelana meneteskan air matanya, terlebih mengingat kejahatan yang pernah ia lakukan kepada keluarganya itu.

Tiba-tiba lamunannya buyar setelah dari belakang ada seseorang menabraknya.


Sunday, May 17, 2020

#17 : Penemuan Barang Paling Berharga

Hai ! Di tengah berita-berita yang membuat pusing kepala : selegram yang ignorant, orang-orang yang rencana mudik, surat sehat bebas COVID-19 yang diperjualbelikan, marilah kita tarik napas sejenak dan lanjutkan membaca hal yang tidak berhubungan dengan itu semua untuk mendinginkan kepala. Kita lanjutkan dongengnya. Hahaha..

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut. Lama ia mencari, namun belum juga ketemu. Lalu tiba-tiba, teman seperjalanannya, Horsi, mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sadarkan diri (#16).

***

Kelana kemudian berteriak,

“hei suara yang ada di langit. Tolong selamatkan Horsi !”

Terdengar gemuruh dari langit, suara itu kembali terdengar dan menjawab,

“hei anak muda ! sepertinya kamu tidak mengerti apa yang kamu cari. Lihatlah karena kecerobohanmu, satu-satunya sahabatmu hampir mati karena kekurangan cairan. Baiklah karena kamu sudah meminta tolong, maka akan kukabulkan permohonanmu !”

Belum sempat Kelana menjawab, suara itu kembali berkata, “lihatlah kantong air milikmu !”

Kelana membuka kantong air miliknya. Botol air minum yang semula kosong, sekarang sudah terisi penuh. Kelana segera meneteskannya kepada Horsi. Setelahnya, Horsi tampak membuka matanya. Kelana menuangkan air itu pada gelas kecil dan Horsi menenggaknya.

Kelana sangat bahagia melihat sabahatnya itu kembali hidup, ia menjawab,

“terima kasih !”

Setelah itu, Horsi kembali ke bahunya dengan aktif seperti sedia kala. Kelana berjanji untuk lebih memerhatikan teman seperjalanannya itu. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Tak terasa, hari sudah berganti, dan siang terik kembali muncul. Kelana masih belum bisa mendapatkan barang yang ia cari.

Kelana dan Horsi kemudian kembali duduk di bawah tenda. Ketika sedang berteduh, datanglah seorang ibu beserta anaknya menghampiri mereka. Kelana terkejut melihat anak yang digendong oleh ibunya itu. Anak itu sama dengan yang ia temui kemarin, anak yang meminta minum namun Kelana tidak dapat memberinya. Kali ini anak itu tampak pucat dan sangat lemas. Ibu itu datang kepada mereka dan berkata,

“Tuan, tolonglah kami. kami tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan minuman. Anakku satu-satunya tidak dapat bangun sedari pagi. Tolong kami, tuan.”

Kelana melihat anak itu seperti ia kemarin melihat Horsi. Ia mengerti kekhawatiran ibunya melihat anaknya terkapar dengan kondisi yang memprihatinkan. Kelana mengalami kebimbangan. Ia ingin membantu mereka, namun barang yang ia cari masih belum didapatkan. Setelah termenung beberapa saat, Kelana bangkit dari tempat duduknya dan mempersilakan ibu itu untuk duduk.

Kelana segera berlari untuk membeli sepotong roti dan segelas minuman. Setelahnya ia kembali kepada ibu dan anak yang menghampirinya. Ia memberikan roti dan minuman itu kepada mereka.

“Makanlah dan minumlah. Jangan sampai anak anda kekurangan cairan, bu. Maaf hanya ini yang bisa  kuberikan,” Kata Kelana.

Sang ibu itu melihat Kelana. Ia tampak terharu akan kebaikannya.

“Terima kasih, ini sangat berharga bagi kami. Nak, bukanlah kamu ingin membeli barang di sini ? apakah kamu masih memiliki cukup uang untuk membelinya ?”

“Itu mudah. Aku bisa bekerja untuk membeli barang yang kubutuhkan. Namun anak ibu perlu tindakan segera. Aku pernah mengalami kejadian seperti ini, sangat mengerikan. Aku tidak ingin ibu merasakannya,” Kelana tersenyum.

Ibu membalas senyum Kelana dan segera memberikan minuman itu kepada anaknya yang sudah lemas tak berdaya. Anak tu minum dan makan dengan amat lahap.

Segera setelah kejadian itu, tiba-tiba terdengar suara dari langit,

“Selamat ! kamu berhasil menemukan hal yang paling berharga di sini. Memang tidak mudah untuk mendapatkannya, tapi kamu berhasil melakukannya ! hal itu adalah kebaikan dan kemurahan hati. Hal yang tidak ternilai harganya !”

Kelana tertegun mendengar perkataan dari sang suara dari langit. Ia merasa tidak pantas untuk dipuji seperti itu. Tiba-tiba pikirannya kembali kepada ibu dan adiknya yang pernah tidak ia anggap. Ia menunduk dan merasa sedih.

Kemudian Kelana lagi-lagi mengalami perjalanan ruang dan waktu. Kali ini ia menutup matanya, bukan karena ketakutan, namun karena merasa sedih dan bersalah kepada keluarganya. Namun ia harus tetap menjalani petualangannya, untuk menghadapi ujian yang ketiga, ujian terakhir untuk mendapatkan teratai emas demi Putri Mahesa.

 


Saturday, May 16, 2020

#16 : Horsi Sekarat

Hai ! Selamat bermalam minggu ! Bagi yang masih ada kepentingan mendesak di luar rumah, jangan lupa masker, tetap social distancing, cuci tangan setelah memgang wajah atau ketika sampai di rumah; untuk yang di rumah, tetap semangat dan tidak bosan. Untuk menemani malam minggu, mari kita lanjutkan dongeng kemarin. Berikut adalah kisah pada episode 1-15.

Dongeng ini berjudul “Petualangan Kelana”, bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12). Pada perjalanannya tersebut, Horsi, kuda kesayangannya, berubah dari kuda menjadi seekor tikus.

Pada #13 Kelana masih mencari cara untuk bisa mengalahkan raksasa dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya itu dengan menggnakan taktik yang cerdik. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

Kelana sampai pada sebuah keramaian pasar untuk ujiannya yang kedua. Kali ini ia diminta untuk menemukan barang yang paling berharga di sana (#15). Kelana masih belum menemukannya, sesekali ia melihat uang yang ada di dompetnya manakala ada keajaiban yang menggandakan uang tersebut.

***

 

Namun sesuai yang diduga, hal itu tidak terjadi. Uang tersebut hanya cukup untuk membeli sebuah roti dan segelas minuman.

Hari makin terik. Matahari makin menunjukkan sinarnya yang terang. Kelana dan Horsi mulai kelelahan di tengah panasnya cuaca di sana. Mereka berteduh di atap teras sebuah rumah untuk sejenak menghindari cahaya matahari. Horsi mulai tampak tidak seaktif biasanya. Ketika itu datangnya seorang anak kepada mereka. Anak itu masih berusia sekitar delapan tahun. Bajunya lusuh dan banyak tambalan.

“Tuan, bisakah anda memberiku sedikit untuk minum ? aku tidak memiliki sepeser pun uang untuk membelinya. Aku sangat kehausan,” katanya.

Kelana memandang anak itu dengan penuh iba.

“Maaf, nak. Aku juga tidak memiliki uang yang banyak. Aku harus membeli sebuah barang dan bila uang ini kuberikan padamu, aku tidak bisa mendapatkannya,” jawab Kelana.

“Baiklah tuan,” anak itu menjawab sambil pergi.

Kelana melihat anak itu sampai menghilang di keramaian. Siang itu sungguh terik dan Kelana tidak memiliki air ataupun makanan. Kelana melihat Horsi yang mulai tertidur. Ia melanjutkan perjalanan untuk mencari barang berharga yang dimaksud itu.

Lama berjalan, namun Kelana masih juga belum mendapatkan petunjuk yang ia cari, sedangkan badannya semakin lemas karena kekurangan cairan. Ia tidak ingin menggunakan uang yang dimilikinya karena barang tersebut belum dapat ditemukan. Sampai suatu saat, ia melihat bahwa Horsi terlalu lama tertidur. Kelana mengambil Horsi dari bahunya dan mulai menepi ke pinggir jalan.

Kelana memanggil-manggil Horsi namun ia tidak membuka matanya. Kelana mulai menggerakkan badannya, masih tidak ada reaksi yang diharapkan. Napasnya mulai tertatih-tatih. Kelana kemudian berteriak meminta tolong. Namun orang-orang di sekitarnya melihat dengan aneh karena mereka pikir itu hanyalah seekor tikus yang tidak berarti.


Friday, May 15, 2020

#15 : Ujian Kedua Kelana

Hai ! Bagaimana kabarmu ? Semoga sehat selalu ya. Tadi aku memakan semangkuk Indomie rebus dengan lima cabai dan perutku perih beberapa jam kemudian. Padahal makan pedas dan asam lambung adalah dua hal yang tidak bersahabat. Beginilah, sering menasehati orang lain namun tidak memerhatikan kesehatan diri sendiri. Baik, sekarang akan aku lanjutkan dongeng yang sudah empat belas hari berlangsung.

Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12).

Pada #13 dan #14 menceritakan kesuksesan Kelana dalam menghadapi ujian pertamanya yaitu raksasa. Setelah mengalahkan raksasa, Kelana kembali mengalami perjalanan ruang dan waktu.

***

Sampailah mereka di tempat yang baru. Kali ini mereka berada di sebuah pasar.  Pasar itu terletak di padang gurun yang amat terik. Selain panas ynang menyengat, pasar itu sangat ramai dengan orang-orang lalu lalang melakukan jual beli. Banyak barang yang ada di sana, seperti makanan, minuman, peralatan rumah tangga, bahkan bawang mewah seperti gelang emas dan perhiasan dijual di sana.

Kelana melihat ke sekitarnya dan mencari teratai emas. Beberapa saat ia berkeliling, namun tidak menemukannya juga. Ia kemudian menjadi bingung mengenai ujian apakah yang akan dihadapinya sekarang. Kemudian terdengar suara dari langit,

“Halo, anak muda ! kamu sudah sampai di tempat ujian yang kedua. Seperti yang kamu lihat, sekarang kamu berada di pasar. Di sini semua barang dapat ditemukan. Dan ujianmu yang kedua adalah untuk menemukan barang paling berharga di tempat ini,” kata suara itu.

“Seperti apakah barang itu ? bagaimana aku membelinya ? aku tidak memiliki apa-apa !” jawab Kelana.

“Aku akan memberimu sejumlah uang untuk mendapatkannya. Gunakan dengan baik.” Suara itu kemudian menghilang.

Kelana menghela napas panjang-panjang. Ketika ia mengecek di kantong jubahnya, terdapat sejumlah uang. Namun ternyata uang itu tidak sebanyak yang ia pikirkan.

“Bagaimana bisa uang ini membeli barang yang paling berharga ?” tanyanya pada Horsi. Horsi hanya bisa menatapnya.

Mereka pun melanjutkan pencariannya. Beberapa kali mereka berhenti di penjual untuk bertanya mengenai barang yang paling berharga yang dimilikinya. Para penjual itu kebingungan mengenai maksud dari pertanyaan Kelana. Tentu masing-masing dari para penjual memiliki barang yang berharga dari mereka. Barang itu berbeda-beda tergantung dari apa yang dijual.

Ketika Kelana bertanya kepada penjual roti, penjual itu menjawab barang paling berharga yang ia miliki adalah roti gandum berkualitas tinggi. Ketika Kelana bertanya kepada penjual minuman, ia menjawab bahwa yang paling berharga adalah anggur yang sudah disimpan lama dan memiliki harga mahal. Ketika Kelana bertanya kepada penjual perhiasan, ia berkata yang paling berharga adalah batu berlian. Lain pula dengan penjual kain, ia berpendapat barang yang paling berharga adalah kain sutra yang amat lembut.

Kelana kemudian melihat uang yang ada di kantongnya. Seluruh uangnya itu tidak bisa membeli barang-barang paling berharga yang disebutkan oleh para penjual tadi. Ia kemudian duduk dan berpikir. Ia memegang dan menghitung uang itu, kalau-kalau tiba-tiba jumlahnya berlipatganda.


Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...