Sabtu, 26 Januari 2019

A Little Reflection

One day I read my devotional book and it’s written, 

“Whenever you feel so tired, take time to relax and do reflection”

And here I am.

January is my special month. Not only because it’s my birthday but also my first rotation on the internship program was ended and I had to face my second rotation.  

My first rotation on primary health care was amazing. I got both a new family and many experiences there. I learned about how to take care patients, how to consult with senior doctors (what should be reported), how to refer the patients to a hospital, and I had a sight about living on the working place.
I realized as a paramedic is full of making a decision for others, especially patient. If someone got a high body temperature, we have to decide if blood checking is reasonable or just give the medicine. It’s the simplest case.

One day I had a patient, she arrived in my room and said that she had allergic to something that her eyes and foot were swollen. It’s my second day on primary health care so I was still on my adaptation mode. When I checked the patient, I felt something wrong with her, but I confused about what should I did. Then one nurse came into my room and he said that I could do some laboratory examination. I checked her blood and her urine. When the result came.. her hemoglobin just 3.9 (normal value is about 12 – 13). Well, as soon as possible I referred her into the hospital to get a blood transfusion. 

Referring patient to the hospital was so tricky. The patient should ‘not too bad to be referred’ and ‘not too good to be referred’. I will give two cases. First was my friend’s patient. She came with unconsciousness. Her face was pale and her blood pressure was too low; she had no reperfusion for her body and it caused death soon. There’s nothing much we could do at primary health care because both laboratory examination and paramedic are limited. We just did some first emergency management and some laboratory examinations. Later, we knew that she had an ectopic pregnancy. We tried to call the hospital but her condition was too bad and it caused hardness to get referred. She stayed for about 3 hours and then finally we could get referred her, but three days later she’s passed away..

The Second case was about a patient with high temperature, low platelet, and hypotension. We tried to call a hospital to refer this patient but none accepted it because her platelet was not that low to get referred. Then, we took care of her at our primary health care but with a heart beat fast; we got scared if her tension dropped and had a reperfusion problem.

Well, that’s just some little cases on primary health care. We had to choose the best decision for patients. And because of that, I always pray to God. I just want to get wisdom to decide. I don’t want to hurt my patients. I just want the best for them. And so I asked Him, give me a case that I can solve. Don’t give me something that I can’t solve.. I believe that He knows my capability so He never gives me more than my strength..

And the tension gets higher after I finished my first rotation at primary health care. I had to face my second rotation at the emergency department’s hospital. With more complex case.. I really think that I will have a hard time. I don’t know what should I do.. I cried every day.. I was too scared to face future..

First day on my emergency department was unbelievable. This was emergency department of a big hospital but at my first time worked there.. the patient just like at the primary health care, such as dyspepsia or flu. The senior doctor also got confused about the patients at that day. And I felt like..

God is amazing.

He really knows that this is my first experience and He doesn’t give me something that I can’t face. Even though, after a few days, I still cry at my bedroom. I tried to adapt on this new place.. with new people. But at the first time, it’s hard (it’s still hard until I wrote this tough..). Sometimes I plan to go to psychologist or psychiatrist to check up my mental health.. because.. I felt I have a mental break down……

Move to my 17th January, my birthday. I am turning 26 years old. And I start the day with another amazing moment. 

On 16th January, I had an idea. I wanted to stay overnight at a hotel. Working at emergency department was so frustrating and I need to refresh myself. Suddenly, I had this idea. Kind of crazy.. hahaha.. I told my mother and asked her to prepare clothes. I paid for the hotel tough.. hahaha..

Stayed overnight at the hotel was so refreshing. I could sleep on the big bed with warm blanket. I brought a delicious cake and in the morning I asked my mother to prepare the cake with candle for me. Hahaha.. I was so happy. I spent a day with my mother and my friends (intermezzo, I remember one of the 'The Try Guy’s video.. they talked about refreshing themselves from Youtube by taking a holiday. And so am I ! I was taking my super short holiday. Money well spent  <3

Yeah, all of this was hard. But I believe that He doesn’t give something over my strength (yes.. I have to repeat it.. because… it is) and I have to remember one thing..

I am loved.

I am really grateful to have many people that love me. They support me. Whenever I cry, they give shoulder to me (even virtual). They listen to my story, my sadness, my fear.. and they always say,

You can do it.
This will pass.
You are not alone.

I know that maybe they have their own problem. But they keep supporting me. And that’s what I need.

So.. the conclusion is.. This is my reflection :

He will not give something more than my strength.. and He sent me many people to love me.. :)

Thank God.

Minggu, 25 November 2018

Perangi Malas, Cegah Hoax - A Lesson Learned


Saat ini informasi dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Kemudahan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang begitu pesat. Contohnya, untuk mendapat sebuah berita tidak perlu repot-repot menunggu surat kabar cetak, namun bisa dicari menggunakan internet yang ada di telepon genggam. Dengan demikian, banyak informasi yang didapatkan oleh masyarakat.

Banyaknya informasi yang beredar dengan mudah memiliki dampak positif dan negatif. Contoh dari dampak positif yang dihasilkan adalah persebaran informasi dapat dengan cepat sampai ke khalayak. Sementara itu, salah satu dampak negatifnya adalah terdapat oknum yang memanfaatkan kemudahan penyampaian informasi ini untuk menyebarkan hoax atau berita bohong.

Maraknya hoax yang ada tentu menimbulkan masalah. Misalnya terjadi kesulitan untuk membedakan antara hoax dan berita faktual. Para pembuat hoax dapat merangkai kata-kata dengan bahasa yang menarik dan mudah dimengerti sehingga membuat pembaca memercayai bahwa hal itu adalah nyata dan benar adanya. Semakin banyak orang yang percaya, semakin sulit untuk menentukan kebenaran akan sebuah berita.

Hoax dikemas dalam bahasa yang dapat menggugah emosi para pembacanya, baik itu rasa kaget, takut, marah, senang, dan sedih, sehingga banyak yang tertarik untuk membagikannya kepada orang lain tanpa memvalidasi terlebih dahulu. Bahasa memang menjadi hal yang krusial dalam persebaran informasi. Bahasa bisa menjadi senjata tajam bagi penerima informasi, terutama bila terjadi kesalahpahaman dalam penyampaiannya. Oleh karena itu, bahasa dalam sebuah berita, termasuk hoax, perlu mendapat perhatian.

Hoax tidak bisa dilepaskan dari internet, yang merupakan sarang penyebarannya. Media sosial merupakan sarana utama penyebaran hoax disusul aplikasi obrolan seperti WhatsApp dan Line. Wahana tersebut menjadi sasaran empuk oknum penyebar hoax karena selain penggunanya yang sangat banyak juga belum ada sistem penyaringan untuk sebuah berita. Semua pengguna dapat mengunggah foto atau cerita secara bebas tanpa diketahui kebenarannya.

Dalam upaya pencegahan hoax, kaum muda memiliki peran yang sangat penting. Kaum muda adalah pengguna aktif daring media sosial, sebut saja Facebook, Twitter, dan Instagram yang terbesar. Maka, timbul sebuah pertanyaan :

Bagaimana upaya nyata pencegahan hoax yang dapat dilakukan oleh kaum muda ?

Pertama, jangan malas membaca. Bacalah sumber berita secara keseluruhan, bukan hanya dari judulnya saja. Pahami dengan benar isinya, apakah narasumber sudah sesuai dengan artikel yang ditampilkan dan apakah narasumber menyertakan data valid untuk mendukung pernyataannya. Tak hanya itu, bacalah juga berita terkait untuk mengetahui kronologi sebuah berita. Bila perlu, bandingkan berita dari sebuah sumber dengan sumber lain. Dengan demikian, informasi yang didapatkan menjadi sebuah kesatuan yang komprehensif.  

Kedua, jangan malas untuk membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun sesuai etika. Media sosial sangat rentan dengan hoax, maka sebagai kaum muda hendaknya tidak memperkeruh suasana melalui ucapan atau kata-kata yang membuat situasi memanas. Ucapan yang berisi makian, hinaan, atau bahkan dehumanisasi lebih baik disingkirkan. Tanggapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Isilah media sosial dengan hal yang positif. Selain itu, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa bahasa dapat memiliki makna yang berbeda, maka mari kita berusaha untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk meminimalisir kemungkinan kesalahpahaman yang terjadi.   

Ketiga, jangan malas untuk selalu mengingatkan orang lain, terutama orang tua. Sebagai kaum muda, amatlah baik bila kita memberi tahu lain, terutama kepada orang tua mengenai hoax yang mudah beredar. Pada umumnya, orang tua memiliki grup obrolan yang sangat memungkinkan penyebaran hoax. Apabila orang tua bertanya kepada kita mengenai kebenaran sebuah berita yang ada, janganlah malas untuk selalu mengingatkan bahwa tidak semua berita itu benar dan perlu divalidasi. Ajaklah orang tua untuk berdiskusi.

Melawan kemalasan memang sulit. Hal ini bisa disebabkan karena kemalasan masih menjadi budaya dalam masyarakat, terlebih segala sesuatu sudah serba instan termasuk dalam penerimaan informasi. Informasi yang didapatkan diterima begitu saja tanpa ada pikiran untuk mengkritisi. Sehingga mau tidak mau memang untuk melawan kemalasan harus dimulai dari diri sendiri. Harus ada keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik dan usaha yang keras.


Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa segala perkembangan terknologi informasi ini memiliki banyak sisi positif namun tetap saja ada yang mengambil keuntungan pribadi, yaitu dengan menciptakan hoax. Sebagai kaum muda, kita memiliki peran penting dalam pencegahan hoax yaitu dengan memerangi sikap malas, baik itu kemalasan dalam membaca, kemalasan berbahasa sesuai etikam dan kemalasan untuk mengingatkan orang lain. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan mengubah sikap untuk menuju bebas hoax bagi masyarakat. Diawali dengan niatan, dilanjutkan dengan perbuatan, diakhiri dengan keberhasilan.  

***

Hi guys ! So, I've joined writing contest for the umpteenth time and haven't won yet. Hahaha.. I'm literally laughing when remembering it. This essay was one of many writing I've joined for contests. I like to join writing contest to stimulate my self, not to win it. To win is a side effect, but the most important is I have motivation and deadline to write.
One thing that I hate about writing contest is I don't know about the quality of the writing. The one and only standard is, if it's not winning, then it's not a good essay. But what's the advice to make it better ?
I'm happy that on this contest there are some of the participants upload their writing on the web (I haven't uploaded yet because I haven't had LINE username. It's one of the requirement) so I can compare mine with others. Well, I realize that my writing is far from the main theme and many people have the same essence as mine. So, what's making my writing special ? Well, none. Hahaha..
Nevertheless, I'm still grateful to know that I have to think more to make my essay suitable with the main theme and I have to think out of the box. It makes me getting excited to join another writing contest. Hahaha.. I'm still learning and nothing's wrong with failure while learning, isn't it ? ;) 


Selasa, 16 Oktober 2018

Blessing in Disguise

Have you ever read about my story 'Christmas' ? I’ve found the proper phrase about that. Blessing in disguise. It’s related to my current situation (honestly, I just want to calm down myself by finding good in a bad occasion, but there’s no problem by doing a little reflection, isn’t it ?)

Let’s begin with a conversation on one of my favorite film.

“Let me ask you something. If someone prays for patience, you think God gives them patience ? Or does He give them the opportunity to be patient ?” 
“If he prayed for the courage, does him give him courage, or does He give him opportunities to be courageous ?” 
“If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does He give them opportunities to love each other ?”

Well, any other related to these lines?
If you have watched Evan Almighty, then you should be related.

Okay, so… let’s move to my story.

I’m dealing with my own house job (internship) place, a big hospital with a university name behind it. I have to learn and work about one year in this place. I neither hate nor love it, I just feel that this place doesn’t suitable for myself. First, I really want to have a house job out of Yogyakarta. Twenty-five years stay in the same place, I just want to go outside. Seeking another story, another experience.. I want to take care of myself, cooking, cleaning, organize my own money, dealing with home-sickness, and being the new “me”. Hahaha..

But I couldn’t. yeah.. my mother would be alone, so.. she’s the main reason why I chose Yogyakarta in the first place. The other, about the proportion of participant (it’s a more technical reason), which is if your hospital and university in the same area, the chance will bigger. Well, I don’t want to talk about the technically on this write.

Second, having a place that has a university name behind it, it’s terrifying. Hahaha.. It feels like you go to a foreign place and you become a stranger. Furthermore, most people are from the same place, except you.
Umm…

For a few months before choosing the hospital, I always asked God, ‘please place me in the best place, a place that I can upgrade myself; both my knowledge and my personality’. I didn’t mention any hospital, but deep down in my heart, I wanted to get outside Yogyakarta. But in the deepest my heart, there’s my mom. I didn’t know where to go, so let God leads me.

And He sent me into this place.
And I’m trying to sincere of what I’ve got.
And I remember about Evan Almighty conversation and pretend that God talks to me.

“If someone prayed for themselves to be a better person, do you think God gives them a brand new both brain and heart, or does He give them opportunities to be a better person ?”

 Yea, He gave me an opportunity to be a better person here.

I always think that to increase or upgrade yourself, you have to go outside and see the world. That’s true. But stay in the same place on a different perspective could be the other way to increase and upgrade yourself, couldn’t it ?

I tried to change my perspective, then. I’m artificially live as if I’m not with my mother by staying on the house, next to my real house. I tried to manage myself include paying for the house, wi-fi, and others to my mother. But I’m still my mother’s little girl, so, sometimes she gave me food and free soap. But at least I’m trying, right ? hahaha..

Going outside from your comfort zone, it doesn’t ALWAYS mean that you have to go from your place, you can change your point of view; if you want to make a change. He gave the opportunity to be a better person, depends on your will, but the chance always there.

Back to my blessing in disguise.
It was not a happy story to get this place. I felt tired stay in the same place. Then I was crying because I was scared of my high-level hospital, umm, I’m not that smart.. thought the mentors have a high expectation, but I’m not ! no, I haven’t !

And then I write this. I believe this is something called a blessing in disguise. I believe God has a beautiful plan for me by giving His opportunity to grant my prayers.

I have a lot of things to do here, beside my house job program. For example, I prepared the symposium and it coincides with my hospital’s orientation. If I wasn’t in Yogyakarta, then I couldn’t join the symposium that we’ve prepared before. Another example, I can help my teacher by became his research assistant. Maybe I can do more here than the other place. If I got outside Yogyakarta, I’ll do my house job only and I still on my comfort zone.

Well then, maybe my blessing is still in disguise, but the fog will disappear little by little, then it will be seen.      

Senin, 03 September 2018

Twitter dan Efeknya pada Kehidupan(ku)

Media sosial apakah yang paling memengaruhi kehidupanmu ?

Facebook, twitter, instagram, atau yang lainnya ?

Bagiku sendiri, media sosial yang paling berpengaruh adalah twitter.

Menurut Wikipedia, twitter adalah layanan jejaring sosial dan mikroblog yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan berbasis teks, atau yang disebut tweet, hingga 140 karakter dan pada tanggal 7 November 2017 bertambah hingga 280 karakter. Saat ini banyak pengguna twitter yang membuat utas atau thread, yaitu kumpulan dari beberapa tweet yang membentuk sebuah cerita mengenai suatu topic terkait.

Aku sendiri sudah menggunakan twitter sejak tahun 2009. Sembilan tahun menyelami dunia twitter cukup mengubah cara pandangku terhadap banyak hal.

Menurutku, twitter merupakan media social yang paling update dibandingkan dengan media social lainnya, seperti facebook atau instagram. Segala kejadian, seperti gempa atau event-event besar dapat dengan mudah diketahui perkembangannya lewat twitter. Kekuatan twitter, selain ke-update-an-nya yang mumpuni, juga dapat membuat orang lain mengetahui cara pandang seseorang akan suatu isu. Pada umumnya, pengguna twitter membuat utas yang menyuarakan opini (yang pada beberapa tema diperkuat dengan dukungan fakta) mereka terkait isu terhangat yang sedang terjadi di masyarakat.

Contoh pertama adalah tagar (#) TumpukDiTengah

Tagar adalah bentuk metadata tag, merupakan kumpulan kata yang diketikkan pada media social seperti twitter, instagram, dan media social lain yang berfungsi untuk pengelompokkan pesan.

#TumpukDiTengah merupakan gerakan untuk menumpuk piring dan gelas di tengah meja makan setelah selesai makan. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membantu kinerja petugas kebersihan di suatu tempat makan. Pro dan kontra muncul mengenai isu ini. Ada yang berpendapat bahwa petugas kebersihan sudah dibayar untuk melakukan tugasnya sehingga kita tidak perlu untuk menumpuk piring dan gelas di tengah meja. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan melakukan gerakan tersebut, tidak hanya membantu petugas kebersihan namun juga membantu pengguna meja lain agar nyaman setelah kita meninggalkan tempat tersebut.

Dalam contoh ini, menurutku pribadi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua ini merupakan cara pandang seseorang mengenai suatu isu. Dan pilihan kembali lagi kepada kita, apakah kita mau melakukannya atau tidak. Aku sendiri senang karena mendapatkan pandangan yang berbeda mengenai isu ini, sehingga aku tidak hanya melihat dari satu sisi saja, melainkan dari dua sisi, yaitu pihak yang pro dan kontra. Untuk selanjutnya, dapat dipertimbangkan mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing masing tindakan. Apakah ada yang dirugikan ? apakah banyak yang diuntungkan ?

Contoh kedua adalah mengenai sapaan.

Sering kita mengalami kejadian bertemu dengan teman lama di suatu tempat. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita katakan kepadanya setelah sekian waktu tidak bertemu ? meskipun hanya salam basa basi, namun ternyata sapaan ini menjadi isu di twitter.

“kok gendutan ?” “kok jerawatan ?”

Banyak yang mengatakan bahwa sapaan ini merupakan body shaming, yaitu penilaian negatif terhadap kondisi fisik seseorang. Body shaming merupakan salah satu jenis bullying yang berkedok bercanda atau basa basi. Pada awal membaca opini ini lewat twitter, aku menjadi tersadar bahwa selama ini aku mungkin bisa menyakiti hati orang lain ketika menyapanya dengan hal seperti itu.

“gimana kabarmu ?” “sibuk apa sekarang ?” “bagaimana kabar keluargamu ?”

Lagi-lagi, sapaan ini juga mengandung pro dan kontra. Ada yang mengatakan bahwa lebih baik menanyakan hal di atas bila dibandingkan dengan sapaan body shaming. Namun, beberapa berpendapat bahwa tidak semua orang memiliki kabar yang baik. Bagaimana bila dia tidak memiliki kesibukan karena diberhentikan dari pekerjaannya ? bagaimana bila ia merasa sedih karena sanak saudaranya ada yang meninggal ?

Dalam hal ini, akupun pernah mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan mengenai kesibukan. Lebih baik orang mengatakan aku kurus, gendut, hitam, atau putih dibandingkan dengan pertanyaan tersebut. Aku pernah mengalami kegagalan dalam bidang akademis dan itu membuatku harus menunda untuk melanjutkan studi.

Contoh ketiga adalah isu yang muncul ketika atlet bulutangkis, Jojo, membuka baju.

Asian Games 2018 telah usai, namun banyak momen viral yang masih melekat dan menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah ketika salah satu atlet bulutangkis Indonesia, Jonatan Christie atau Jojo, melakukan selebrasi dengan membuka bajunya ketika memasuki babak final dan ketika menjadi juara pada Asian Games 2018. Aksinya mendapatkan reaksi yang beragam dari masyarakat, terutama perempuan.

Banyak perempuan yang menyanjung tubuh atletis Jojo dan mengungkapkannya secara gamblang, seperti “aduh, rahimku anget” atau “ovariumku meledak”. Ungkapan-ungkapan ini menjadi viral di media sosial. Banyak yang menganggap hal ini sebagai ungkapan hiperbola untuk mengekspresikan kegembiraan, namun ada pula yang menganggapnya sebagai sebuah pelecehan seksual.

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai aksi Jojo ini, mari kita menilik ke beberapa waktu ketika isu pelecehan seksual ini menjadi ramai diperbincangkan di twitter.

Ketika itu sejumlah orang muda Indonesia mencapai prestasi di kancah internasional. Banyak yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya, namun ada beberapa warganet, atau netizen, yang fokus kepada kecantikan salah satu pemudi dibandingkan dengan prestasinya. Hal ini mengundang reaksi dari netizen, terlebih karena ada judul artikel yang mengungkapkan kecantikan pemudi tersebut.

“fokus sama prestasi, jangan fisiknya !”

Kata-kata itu menjadi perdebatan yang cukup panjang di twitter. Sebagai salah seorang penikmat adanya perbedaan pendapat ini, aku membaca banyak opini yang menyatakan pro dan kontra. Ada yang mengatakan bahwa pujian itu wajar, namun ada yang mengatakan hal itu adalah pelecehan seksual.

Isu ini kembali muncul ketika Jojo, yang notabene adalah seorang laki-laki, membuka bajunya. Banyak perempuan yang reflek mengungkapkan kegembiraannya tersebut. Tentu, hal ini membuat pro dan kontra. Ada yang mengatakan terjadi standar ganda karena bila laki-laki memuji perempuan akan fisiknya, hal itu adalah pelecehan seksual. Namun, bila pujian dilakukan oleh perempuan kepada seorang laki-laki, belum tentu hal itu termasuk dalam pelecehan seksual.  

Hal ini menjadi pertanyaan pula untukku sendiri.

Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah opini bahwa yang dilakukan perempuan dengan mengungkapkan organ kewanitaannya ketika melihat selebrasi Jojo, adalah sebuah pelecehan seksual. Yang membedakan adalah efeknya. Bila seorang laki-laki mengomentari atau memuji fisik dari seorang perempuan, hal itu bisa menyebabkan rasa tidak aman bagi seorang perempuan. Namun, bila perempuan memuji fisik laki-laki, maka laki-laki tersebut tidak perlu merasa khawatir. Hal ini sangat terkait dengan budaya patriarki yang mengungkapkan bahwa laki-laki memiliki kedudukan dan posisi yang lebih tinggi dari perempuan. Paling tidak, hal itulah yang kutangkap dari beberapa utas yang kubaca.

Tiga contoh isu di atas adalah sebagian kecil dari banyak isu yang dibahas di twitter. Bahkan, hampir setiap hari twitter muncul dengan beragam topic yang menarik. Seringnya terpapar dengan hal tersebut, sangat memengaruhi pemikiran dan tindakanku.

Berhati-hati. Itulah salah satu efek yang diberikan. Contoh mengenai sapaan. Ternyata, kita tidak pernah tahu bila sapaan basa-basi atau candaan kita dapat menyakiti hati orang lain. Memang semua orang tidak dapat dipukul rata, namun paling tidak kita sudah berusaha untuk tidak menyakiti hati orang lain, apalagi ternyata kata-kata itu adalah pelecehan seksual.

Meskipun tidak dapat dipungkiri, dengan adanya berbagai pemikiran ini menjadikan kehati-hatian dan overthinking yang berlebihan.

"Bilang cantik aja ternyata masuk pelecehan ya" bagi sebagian orang, bisa.
"Trus apa bedanya memuji secara tulus, dengan sebuah pelecehan ?"

Pertanyaan yang berkembang di kepalaku. Dalam hal ini, aku menerapkan suatu hal. Bila kita bermaksud baik, niscaya hasilnya juga baik. Namun, perlu disadari, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Menanamkan sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat adalah hal yang amat baik bila dilakukan. Semua isu, semua keputusan, pasti memiliki dampak yang positif dan negative yang menyebabkan adanya pro dan kontra. Tidak ada suara yang seratus persen bulat. Mengenai sebuah tindakan, hal itu kembali kepada diri kita sendiri. Terbuka akan perbedaan dan percaya bahwa perbuatan yang maksudnya baik juga akan menghasilkan buah yang baik.

Sebaliknya, kita tidak mungkin menuntut seseorang untuk selalu berkata hal yang baik kepada kita. Oleh karena itu, aku sendiri merasa perlu untuk tidak mudah tersinggung dan marah. Sangat sulit, namun, setidaknya sudah ada usaha. Dan semoga, usaha itu akan terus meningkat tiap harinya.

Okay, itulah yang ada di pikiranku tentang twitter. Di balik banyaknya utas yang mengandung isu berat, twitter juga menyediakan jokes receh yang membuat tersenyum tiap harinya J jadi seimbang gitu lah ya..  :p

Sehingga, tulisan di atas dapat menjadi jawaban atas pertanyaan, "masih jaman ya twitteran ?"

Minggu, 15 Juli 2018

Stockholm Syndrome dalam Tembakau


Hi guys ! I wrote a little analysis of tobacco, especially cigarette. I joined a writing contest a few months ago but I don't know what's the result until now. Hahahaha.. I hope that if you are reading this writing, you can give me advice so I can write better :D 
enjoy !

Stockholm syndrome.

Sebuah istilah yang mungkin tidak umum bagi masyarakat. Istilah ini berawal dari perampokan bank sekitar empat puluh tahun yang lalu pada suatu kota di Swedia, yaitu kota Stockholm. Perampok menyandera beberapa orang yang terdiri dari pegawai bank dan nasabahnya. Petugas kepolisian mengawasi tempat tersebut, hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam bank dan berusaha menyelamatkan para sandera. Menariknya, para sandera justru berusaha menyelamatkan para perampok itu agar tidak ditangkap.

Fenomena menarik ini lalu berkembang menjadi istilah baru, Stockholm Syndrome, di mana sandera menjadi simpati bahkan beberapa kasus tidak bisa lepas dengan penyanderanya. Hal ini menjadi mungkin karena secara psikologis ketika seseorang berada di bawah tekanan, segala bentuk kebaikan meski sekecil apapun itu akan menjadi sangat berarti. Para sandera berada di bawah tekanan dan ketika sang perampok memberikan sedikit perhatian, seperti meminjamkan jaket, mereka akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang amat berharga. Mereka bahkan percaya bahwa para perampok sebenarnya adalah orang yang baik.

Merokok Membunuhmu.

Berbeda dengan istilah Stockholm Syndrome, slogan ini jauh lebih familiar pada masyarakat. Kata-kata ini dapat dengan mudah ditemukan di bungkus rokok. Hal ini sesuai peraturan pemerintah nomor 109 tahun 2012 tentang iklan dan promosi rokok, terkhusus pasal 14 ayat 1 yang menyebutkan bahwa Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan.” Dan ayat 2 menyebutkan:  “Peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk gambar dan tulisan yang harus mempunyai satu makna”.

Dilansir dari European Heart Journal, tembakau, yang merupakan bahan utama rokok, merupakan factor resiko utama pada penyakit kardiovaskular dan penyakit lainnya seperti kanker paru-paru atau tenggorokan. Tembakau bertanggung jawab pada lebih dari 5 juta kematian setiap tahunnya atau 12% dari semua kematian dan diperkirakan pada tahun 2030 jumlah ini meningkat menjadi lebih dari 8 juta kematian setiap tahunnya.

Melihat fakta mengenai efek samping jangka panjang yang disebabkan oleh tembakau, maka pemerintah dirasa perlu untuk memberikan edukasi yang singkat, padat, dan jelas kepada masyarakat mengenai bahaya yang ditimbulkannya. Salah satu cara yang paling efisien adalah dengan memberikan peringatan pada bungkus rokok, meskipun ternyata peringatan dengan tulisan tidak efektif sehingga ditambahkan gambar seram pada bungkus rokok.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah tembakau benar-benar membunuh ?

Secara kesehatan, ya, meskipun tidak secara langsung. Tembakau yang terkandung dalam rokok masih menjadi salah satu factor resiko yang berbahaya bagi kesehatan dan sudah dilakukan banyak penelitian untuk membuktikannya. Akan tetapi, secara ekonomi mungkin berkata lain.

Tak dapat dipungkiri, tembakau merupakan salah satu ladang ekonomi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Tentu, karena Indonesia adalah negara produsen tembakau terbesar keenam di dunia dengan jumlah petani tembakau sebanyak 527.688 orang. Indonesia juga menjadi Negara konsumen produk tembakau terbesar ketiga di dunia. Hasil utama dari produksi tembakau adalah rokok dan angka produksi rokok meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini seharusnya menguntungkan bagi para petani tembakau di Indonesia seiring dengan berkembangnya perindustrian rokok.

Menurut buku Petani Tembakau di Indonesia : Sebuah Paradoks Kehidupan, disebutkan bahwa kehidupan petani tembakau di Indonesia sangat bertolak belakang dengan perkembangan bisnis produk tembakau yang dihasilkannya. Terlihat pada tahun 2013 penghasilan petani tembakau masih berada di bawah upah minimum regional. Hal ini disebabkan karena tata niaga tembakau di Indonesia masih timpang dan keuntungan hanya dirasakan oleh sebagian orang, seperti pemodal dan industri rokok.

Pihak lain yang mendapatkan keuntungan dari tembakau, khususnya rokok adalah negara. Pendapatan negara yang didapat dari sektor rokok ternyata sangat besar. Terdapat pajak dan bea cukai serta hasil ekspor yang nilainya juga fantastis. Namun, apakah ini benar-benar sebuah keuntungan ?

Menteri Kesehatan Indonesia, Nila Moeloek, menyampaikan bahwa perilaku merokok dapat semakin membebani biaya kesehatan dan pengobatan yang ditanggung negara. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa tembakau atau rokok menjadi faktor resiko utama berbagai penyakit, misalnya penyakit terkait kardiovaskular, seperti hipertensi, jantung koroner, dan payah jantung. Sebuah media online menyebutkan, pada tahun 2015 saja biaya kesehatan akibat rokok mencapai angka 596,61 triliun. Nilai ini meningkat bila dibandingkan tahun 2010 yang senilai 167 triliun. Nilai ini didapatkan dari pendekatan biaya kesakitan yang terdiri dari biaya yang ditimbulkan karena penyakit dan biaya terkait lainnya serta nilai kerugian produksi karena berkurangnya atau hilangnya jam kerja.

Masih terkait dengan biaya kesehatan, Indonesia sendiri saat ini sedang gencar dengan sistem pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosisl (BPJS) dengan peserta mencapai 72,9% dari penduduk di Indonesia. Hampir semua penyakit diklaim oleh BPJS dan penyakit jantung menempati urutan teratas dari sekian banyak penyakit yang membuat dana BPJS terkuras. Pada tahun 2017, defisit BPJS diperkirakan hingga 9 triliun banyaknya. Hal yang menarik adalah, untuk mengatasi defisit tersebut, pemerintah akan mengatasinya dengan bea cukai yang didapat dari industri rokok.   

Pemaparan tersebut menggambarkan kompleksitas tembakau, khususnya rokok. Di satu sisi, tembakau sangat berbahaya bagi kesehatan dan menyebabkan kerugian dalam bidang kesehatan. Namun di sisi lain, kerugian tersebut dapat diatasi dengan keuntungan yang dihasilkan dalam industri tembakau. Bila dilakukan pengurangan atau bahkan pembatasan aktivitas industri tembakau, maka yang ditakutkan adalah salah satu dampaknya yang secara langsung mengenai perekonomian para petani tembakau.

Melihat fakta-fakta ini, penulis merasa bahwa hubungan dari citra tembakau dengan petani tembakau tak ayalnya seperti sebuah Stockholm Syndrome. Tembakau dengan berbagai efek samping dan kerugian yang dihasilkannya, telah ‘menyandera’ banyak aspek, seperti para petani tembakau, yang tidak bisa lepas begitu saja dan bahkan sudah sangat terikat dengan industri tembakau.

Bagaimanakah akhir kisah ini ?

Mungkin, kisah ini tidak akan pernah berakhir. Masih kemungkinan, kita lihat saja.

Sabtu, 12 Mei 2018

National Exam, Yay or Nay ?

Becoming a doctor is a struggle. We have to face many years to get this title. Even though, the educational period is different depends on each university. But the differences are not that far. Let’s make a count : 

To get a bachelor, we have to study for about 3,5 until 4 years. After that, we have to take clerkship for about 1,5 until 2 years. Note, it’s the fastest time, if you can pass all part without remedial. If you have to study over again, it will take more time. Next, we have to take the final exam, the one, and only exit exam. After that, we can get Hippocratic oath. Finally, we are legal to become a doctor. But, we haven’t practice yet. It’s illegal. We have to take an internship for 1 year, the place depends on the national. They will give us some places, then we have to select one of many places by using a computer.

In this writing, I want to give my opinion about national exam.

National exam as an exit exam began in 2014. There are two national exams. First is a theory, it’s a multiple choice, we have to choose one from five possibly answer. We call this a CBT (Computer Based Test) because you have to do this exam by computer. Second, it’s a skill, we call it OSCE (Objective Stricture Clinical Examination). We have twelve stations with different diagnoses, then we did doctor-patient (with simulation patient) activity and the senior doctor will observe and rate us. Many students say that the most horrible test is CBT because we’re rated by a computer while OSCE by senior doctor, mostly from their own university. 

There are pro and contra about national exam. There are four batches of national exam in one year. If a student doesn’t pass the exam yet, then he has to take the exam again 4 months later. Many sources have different sight about how much national exam can be taken. Some say twelve, but others say different. If until twelve times he still doesn’t pass the exam, he has to get private study from national then takes another exam. If he still doesn’t pass it, he can’t be a doctor and can’t get Hippocratic oath. His journey stops in bachelor. 

There was a medical student passed away a few moments ago because of depression. He didn’t want to eat anything. This news becomes viral because the reason for his depression was he didn’t pass the national exam for tenth times. 

It’s ironic. The struggle for, say six years, and still can’t be a doctor yet. How can be six years of study determined by 200 minutes for CBT and about four hours for OSCE ? Many people asking that question. Let’s we make some analyze.

There are so many faculties of medicine and not all of them have the same accreditation. Some have A accreditation, but there are many C accreditation (my university’s accreditation is B). National exam was made to be standardized for medical education in Indonesia. If students pass national exam, then they considered having same competence whatever their university accreditation.    

National exam becomes hard when it’s the one and only exit exam for becoming a doctor. If they can’t pass the exam, then they can’t be a doctor. They become bachelor of medicine, it’s not a doctor yet. Imagine their dream (and maybe their parent’s dream) to be a doctor, they have studied for many years, and the dream just falls off because of national exam. That’s why there was a student passed away because of depression. I believe there are a lot of students out there, without publicity, feel depression because of this national exam.

I had an informal talk with one of the senior doctor in my university. He said that national exam is ironic. Why should it be the one and only exam ? If a student doesn’t pass the exam, their journey stop in bachelor. Why not their journey stop in doctor ? at least, they have that title, but maybe they can’t practice in clinic.

I totally agree with that. There are many ways for a doctor. They not only just sitting in the chair, examining patient, making diagnose, then giving the medicine, but also they can be a lecture (by continuing study as a master), became a researcher, or maybe become a politician, businessman, and so on. 

I don’t agree with national exam as one and only an exit exam. There are many situations that can’t be predicted that make someone failed. Maybe they were sick while doing an exam, maybe they nervous so bad then they can’t do their best. We can’t judge their not competent just because they do not pass the national exam. Maybe we can make a deal with this by make a percentage. Example, 100% of all graduate mark can be divided 50% percentage by national exam and 50% by institution. And for the final result is make an average of this mark.

My conclusion is, 
National exam as a standardized quality in medical education ? yay. 
National exam as one and only exit exam ? nay. 

Selasa, 01 Mei 2018

Cerpen Edukasi : Kisah Siro


Hi guys ! To celebrate National Education Day in Indonesia, I made an educational-short-story :D enjoy !

***

Kulihat lapang kosong di depanku yang perlahan-lahan mulai terisi dengan air. Saluran air yang bocor menyebabkan air mengalir ke sana, semakin lama semakin banyak sehingga lapang kosong itu menjadi hampir penuh terisi air.

Kulihat pula teman-temanku sedang bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan harian, yaitu membersihkan barang-barang milik majikan kami. Mereka sudah terlihat sangat lelah dengan pekerjaan-pekerjaan yang overload. Ditambah dengan kondisi ruangan kami yang semakin lusuh dan tidak terawat. Ruangan tempat kami bekerja terasa menjadi semakin sempit dengan adanya benda-benda yang sama sekali tidak berguna.

“hah… hah…” kudengar suara napas salah seorang pekerja, Om Thomas, yang jaraknya hanya beberapa langkah dariku. Suaranya terdengar semakin berat. Kurasa ia sudah kelelahan dengan pekerjaan-pekerjaan ini.

“lihat, sebentar lagi ia pasti akan dipaksa untuk beristirahat” ucap temanku, Bang Rio, yang bekerja di sampingku.

“ya. Dan kemudian benda itu akan datang, menambah pekerjaan kita, dan memenuhi ruangan ini” jawabku.

“hahaha.. bertahanlah, kawan. Kamu masih terlihat kuat. Kuharap memang benar kuat-kuat, tidak sepertiku yang semakin lemah ini”  Bang Rio berkata sambil menepuk bahuku.

“jangan berkata seperti itu, Bang. Umur kita sama, kekuatan kita juga sama. Kita pasti bisa melewati pekerjaan-pekerjaan ini..” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Bang Rio sudah menimpali,

“kalau saja majikan kita tidak memberi tugas yang terlalu berat. Sudah lebih dari dua puluh tahun pekerjaan kita menjadi semakin melelahkan.  Uhuk.. uhukk..”

“Bang.. “ aku menjadi khawatir dengan kesehatan Bang Rio yang sudah terbatuk-batuk sejak beberapa bulan ini.

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

“Mari kita lanjutkan” Bang Rio memberikan senyumnya kepadaku.

“baik, Bang”  aku membalas senyumnya, dengan senyum kecut. Dalam hati aku berdoa, semoga kami semua akan baik-baik saja.

Sudah menjadi kebiasan, bila ada pekerja yang kelelahan, pekerjaannya akan digantikan oleh sebuah benda yang menurutku sama sekali tidak berguna; atau bahkan mengganggu. Ingin rasanya aku berteriak dan berkata kepada majikan kami, bahwa benda itu sangat mengganggu atau aku ingin menyampaikan agar ia berhenti membebani kami dengan semua ini, seandainya bisa.. akan tetapi, kami semua mengetahui bahwa hal itu sudah terlambat.

Ya beginilah hidup kami, para pekerja yang terlupakan ini.

Kami bekerja di tempat ini sudah sekitar lima dekade. Lama ? Tergantung. Kami bisa bertahan lebih lama lagi, jika sang majikan memperhatikan kami. Memang, pada awalnya, pekerjaan kami tidak terlalu berat, namun keadaan berubah sejak sekitar dua puluh tahun terakhir. Ia selalu membebani dengan pekerjaan yang sangat berat dan melebihi kemampuan kami, hingga satu per satu dari kami mengalami kelelahan dan pekerjaan akan diambil alih oleh sebuah benda yang tidak berguna itu.

Aku juga tidak tahu benda apa itu karena hal yang ia lakukan adalah mengganggu kami bekerja. Yang ia lakukan hanya diam dan mempersempit ruangan kami bekerja. Ia seperti sampah yang sama sekali tidak berguna. Akan tetapi sudah merupakan sebuah sistem, bahwa ia akan muncul bila salah satu dari kami kelelahan.

Gluduk gluduk..

Tidak perlu menunggu waktu yang lama hingga benda itu datang untuk menggantikan pekerjaan dari Om Thomas. Benda itu kembali memenuhi ruangan tempat kami bekerja. Aku melihat ke pipa saluran air yang tertekan di atasnya. Aku sangat ketakutan bila suatu saat pipa itu bocor karena pasti hal yang mengerikan akan berulang.

Pipa saluran air pernah bocor sekitar satu minggu yang lalu, namun tidak di ruangan kami. Meski kebocoran tidak terlalu besar, namun cukup untuk membuat kami dan teman-teman dari divisi lain ikut mengalami gangguan. Aku ingat, kejadian itu sangat mengerikan. Tak terhitung pekerja yang tumbang dan tidak dapat bekerja lagi. Temanku dari divisi lain mengatakan, banyak sekali  pegawai baru yang masuk untuk membantu.  Dan hingga saat ini, keadaan belum juga membaik, bahkan yang kudengar keadaan menjadi lebih buruk.

Oleh karena itu, aku sangat khawatir bila pipa-pipa tersebut bocor lagi, walaupun dengan adanya kebocoran itu majikan kami menjadi sangat baik dengan mengurangi beban kerja. Tetapi, tetap saja kondisi kami sudah memprihatinkan dan tidak bisa kembali seperti semula.

Gubrak.. !

Terdengar suara seperti ada yang terjatuh. Aku sangat kaget karena ternyata yang jatuh adalah Bang Rio yang bekerja tepat di sampingku.

“Bang.. bang Rio !” aku memanggil dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tubuhnya sudah lemas dan tidak berdaya. Ia sama sekali tidak menggerakkan badannya. Aku juga ikut terguncang melihat teman terbaikku jatuh terkapar di lantai.

Tet.. tet..

Alarm berbunyi menunjukkan adanya kebocoran. Kulihat sekelilingku, tidak ada kebocoran di ruangan tempatku bekerja, aku yakin kebocoran pasti di bagian lain; tempat yang sama ketika seminggu yang lalu kebocoran itu terjadi. Aku kemudian berlari melihat ke arah luar. Ternyata air di lapang kosong semakin banyak dan sudah memenuhinya.

Keadaan menjadi sangat kacau. Kudengar alarm dari ruangan lain sudah berbunyi. Kami belum pernah mengalami hal separah ini sebelumnya. Teman-teman yang berada di ruanganku menjadi sangat panik, aku menjadi saksi mata bagaimana mereka satu per satu tumbang.

Hingga akhirnya hanya tersisa aku seorang.

Kudengar teriakan dan isak tangis dari luar sana. Tidak ada yang bisa kita semua lakukan. Semua sudah terlambat. Mataku berkunang-kunang, napasku sudah terasa sesak. Tidak berapa lama, aku jatuh ke lantai.

Aku mati.

Majikanku pun, mati.

Inilah akhir kisah hidupku, sel parenkim hati.

***

Sel parenkim hati bekerja untuk membersihkan racun yang masuk ke dalam hati. Majikan kami senang mengonsumsi alcohol selama puluhan tahun, hal itulah yang membuat pekerjaan kami semakin berat. Ketika kami merasa lelah, kami akan menjadi rusak dan akan tumbuh jaringan baru, yang dinamakan jaringan fibrosis, benda yang tidak berguna itu. Jaringan fibrosis adalah proses alami ketika sel mengalami kerusakan.

Kerusakan pada sel hati juga menyebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah, diibaratkan sebuah pipa. Pembuluh darah mengalami kerusakan dan tumbuh jaringan fibrosis, hal ini mengakibatkan terjadinya hipertensi porta. Seperti selang yang memiliki kerak di dalamnya, agar air dapat tetap mengalir tentu aliran harus kuat untuk melawan kerak tersebut, inilah hipertensi, di mana tekanan darah akan meningkat.  Hipertensi porta kemudian menyebabkan varises esophagus (pelebaran pembuluh darah pada esophagus).

Terjadinya gangguan tekanan onkotik dan hidrostatik pada pembuluh darah juga menyebabkan terjadinya kebocoran plasma, dan bisa mengisi lapang atau ruang kosong pada perut atau disebut dengan rongga peritoneal.

Apakah semua itu berbahaya ? tentu. Adanya sirosis hati menunjukkan adanya kerusakan sistemik yang dimulai dari organ hati dan berakibat pada hamper seluruh organ, misalnya ginjal. Tekanan osmotic dan onkotik akan berperan pada regulasi natrium di ginjal. Sedangkan varises esophagus dapat pecah dan terjadi perdarahan organ dalam. Bisa mengakibatkan syok dan akhirnya berujung pada kematian.

Pada cerita di atas, saya mengibaratkan majikan adalah sang pemilik tubuh. Majikan ini sedang berada di ruang rawat intensif (ICU) karena sebelumnya sudah mengalami pecahnya pembuluh darah esophagus. ‘Pegawai baru’ yang dimaksudkan adalah mesin-mesin di ruang rawat intensif. Dalam waktu seminggu, dengan komplikasi ascites (terkumpulnya cairan pada rongga peritoneal), pasien kemudian mengalami kegawatan (alarm berbunyi) dan akhirnya meninggal.

Segala kejadian yang terjadi inilah yang disebut dengan sirosis hati.