Thursday, May 14, 2020

#14 : Kelana Mengalahkan Raksasa

Hai ! Hari ke-14 dan masih semangat untuk menulis. Meski kadang ketika membaca ceritaku ini aku sendiri ketawa-ketawa karena membandingkan tulisanku dengan tulisan orang lain sepertinya lebih berfaedah. Tapi ceritaku harus tetap berjalan, kan ? Seperti kata Indra Herlambang dalam salah satu kicauannya,

‘Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, tapi kita kan bukan sapi jadi ga masalah’

Membuatku merasa lebih tenang. Setiap orang punya porsi masing-masing jadi kadang tidak perlu untuk membandingkan dengan orang lain (dan berpikir, apakah ini hanya excuse atas sebuah kemalasan ? Hahaha..) Lanjut saja dongengnya ya..

Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12).

Pada #13 menceritakan perjuangan Kelana untuk mengalahkan raksasa.

 

***

 

Ia kemudian menggerakkan tangannya berusaha menggapai Kelana. Kelana berhasil menghindar dengan lincah. Ia kemudian berdiri dan berusaha menginjak Kelana namun lagi-lagi Kelana bisa menghindar.

“Dasar kau manusia kecil ! berani-beraninya kau membangun tidur nyenyakku !” katanya.

“Tangkap aku jika kau bisa ! hahaha..” Kelana menggoda.

Raksasa itu murka dan berlari mengejarnya. Karena badannya yang besar, sang raksasa tidak bisa berlari dengan mudah. Lain halnya raksasa, Kelana dapat berlari dengan cepat dan lincah karena ia badannya lebih kecil dan terutama karena ia telah berlatih sebelumnya. Raksasa itu tampak kewalahan mengikuti gerakan Kelana. Namun Kelana dengan semangat terus mengarahkannya ke jebakan yang telah dibuat sebelumnya.

Tak berapa lama, tiba-tiba sang raksasa tampak kehilangan keseimbangan. Rupanya Horsi yang sedari tadi berjalan-jalan di liang telinga sang raksasa membuatnya merasa geli. Raksasa itu tidak nyaman dan terus menggoyang-goyangkan kepalanya untuk mengeluarkan Horsi sambil terus berlari mengejar Kelana.

Akhirnya sampailah mereka ke tempat yang telah dirancang oleh Kelana. Memasuki tempat yang dituju, Kelana melihat di depannya sudah ada ikatan tali tersebut. Kelana menunduk dengan hati-hati melewati tali yang dibuat sebelumnya dan ia melihat raksasa masih menggerakkan kepalanya.

“Ayo ke sini !” kata Kelana.

Raksasa itu berlari menuju ke arah Kelana sambil memukul-mukul telinganya yang gatal itu. Ia tidak menyadari bahwa di depannya sudah terdapat bentangan tali. Ketika kakinya mengenai tali tersebut, ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Kepalanya juga ikut terperangkap dalam lubang yang dibuat Kelana sebelumnya, serta badannya menyeruduk pohon-pohon yang ada. Hal itu membuatnya sulit untuk terbangun. Segera Kelana mengambil kesempatan itu. Ia naik ke atas pohon di dekat sang raksasa terjatuh. Kemudian ia mengeluarkan pedang miliknya. Setelah menarik napas dalam, ia melompat ke bagian belakang raksasa sambil menusuknya dengan pedang tersebut. Pedang tersebut tertancap di punggung raksasa dan tak lama darah menetes dari sana. Horsi yang berada di dalam telinga keluar dan kembali ke bahu Kelana.

Setelah itu terdengar suara dari langit. Suara itu menggelegar dan berkata,

“Selamat, anak muda. Kamu telah berhasil melewati tantangan yang pertama ! aku cukup kagum dengamnu, namun jangan cepat puas, karena masih ada dua tantangan lagi menantimu !” katanya.

“Apakah tantangan berikutnya ?” tanyanya.

“Nanti juga kau akan tahu. Bila kamu memiliki tekad yang kuat, pasti bisa melewati semuanya !” lanjutnya, “sekarang bersiaplah !”

Tiba-tiba suara itu menghilang dan Kelana serta Horsi kembali mengalami perjalanan waktu dan tempat. Keadaan menjadi gelap, yang tadinya di sana adalah hutan dengan padang rumput yang luas, sekarang menjadi gulita. Kelana kemudian memejamkan matanya. Tubuhnya lagi-lagi seperti diputar. Horsi memegang baju Kelana dengan erat.

 


Wednesday, May 13, 2020

#13 : Strategi Kelana

Hai ! Jumpa lagi. Semoga masih semangat untuk menjaalani kehidupan, terutama dengan berita yang katanya iuran BPJS akan naik. Selain harus semangat, tentu juga harus sehat selalu. Sekarang mari lanjutkan dongengnya.

Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11).

Kelana mengalami perjalanan sihir hingga sampai ke sebuah tempat yang asing baginya, di mana tempat itu terdapat tantangan untuk diselesaikan demi mendapatkan teratai emas. Tantangan pertamanya adalah mengalahkan raksasa (#12).

***

 

Kelana tidak putus asa. Ia masih berusaha untuk mengetahui titik lemah raksasa. ia kemudian mengambil beberapa batu lagi dan melemparkannya. Kali ini salah satu batu mengenai wajah sang raksasa. Iapun terbangun dan menghentak-hentakkan kaki serta tangannya.

“Siapakah yang berani mengganggu tidurku ?” katanya berteriak. Raksasa itu gusar dan membuat dataran yang semula tenang menjadi bergoyang dengan hebat. Kelana langsung naik ke celana raksasa sebelum ia berdiri. Raksasa itu kemudain melihat ke sekeliling dan menemukan beberapa buah batu.

Ia berdiri dan mulai mengamuk. Ia berlari sambil melihat ke bawah, kalau-kalau menemukan pelakunya. Kelana berusaha menggenggam erat celana sang raksasa agar tidak terjatuh. Kelana memejamkan matanya ketakutan. Horsi yang setia di pundaknya berusaha untuk memegang baju Kelana.

Setelah lelah mencari, raksasa itu menyerah dan kembali berbaring untuk tidur. Kelana keudian perlahan turun dari celana dan berlari sekuat mungkin sebelum raksasa itu kembali terbangun.

Kelana memanjat sebuah pohon untuk beristirahat sembari mengambil buah di sana. Ia berpikir bagaimana menjatuhkan raksasa itu.

“Kau lihat sendiri Horsi, bagaimana petualangan kita hari ini. Sangat mengerikan ! apakah kamu memiliki ide ?” katanya pada Horsi, “ah, sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu.”

Kelana bangun dari istirahat singkatnya dan mulai berkeliling hutan untuk mencari cara mengalahkan raksasa. Ia melihat pohon, tanah, dan langit untuk mendapatkan petunjuk. Ia mencoba menggali tanah bilamana ada senjata yang tertimbun. Namun hasilnya nihil. Kemudian ia berlari diantara pohon untuk berlatih kelincahan, bilamana diperlukan untuk melarikan diri dari raksasa, sebelum akhirnya ia berhenti karena kelelahan. Ia duduk di atas batu sambil berpikir.

Tiba-tiba ia terkejut karena ada sesuatu yang membuat geli telinganya. Kelana sampai jatuh terpeleset karena benda di telinganya mengganggu keseimbangannya. Horsi yang sedari tadi ada di bahu Kelana pun ikut terjatuh di pangkuannya. Ia berusaha mengeluarkan benda itu dan ternyata seekor semut kecil keluar dari sana. 

“Ah, dasar semut kecil ini membuatku jatuh,” gumamnya. Setelah itu, tiba-tiba Kelana mendapatkan sebuah ide, “kau benar Horsi ! kita harus memanfaatkan tubuh mungil kita ini !” ucapnya gembira.

Kelana berlari untuk mengamati di mana raksasa itu berada. Sang raksasa masih tertidur dengan pulas. Sementara itu, Kelana menyiapkan jebakan untuk menjatuhkannya. Ia menggali tanah sedalam dan seluas mungkin sebelum raksasa itu terbangun. Ia juga mengikat seutas tali yang dibuat dari kumpulan akar dan ranting. Tali itu diikat dan dibentangkan kuat di antara kedua pohon. Ia membuat beberapa lubang dan ikatan. Hal itu ia lakukan sepanjang hari demi berhasilnya rencana yang ia buat.

Sampai pada suatu hari, ketika itu Kelana merasa cukup puas dengan kinerja jebakan yang ia buat. Kelana kemudian mengamati sang raksasa yang sedang makan pohon. Selesai makan, raksasa itu kembali tertidur. Kelana mengambil kesempatan dengan mendekatinya dan menyiapkan beberapa batu besar. Horsi yang semula berada di bahu Kelana perlahan diturunkan.

“Ayo Horsi, aku percaya kamu bisa melakukannya !” ucapnya.

Horsi kemudian berjalan menuju kepada raksasa. Kelana menarik napas dalam-dalam. Setelah memastikan kawannya itu berada di tempat yang tepat, ia melemparkan batu itu ke tubuh sang raksasa. Sang raksasa yang merasa terganggu kemudian terbangun dari tidurnya.

“siapa yang mengangguku ?” teriaknya.

Kelana kemudian menjawab, “hei hei. Sebelah sini, raksasa ! akulah yang membangunkanmu !” Kelana membalas dengan teriakan yang amat keras.

Raksasa mencari di mana sumber suara itu. Raksasa itu masih belum melihat Kelana yang ukurannya jauh lebih kecil dari dirinya. Kelana lagi-lagi melempar batu untuk menarik perhatian raksasa dan kali ini batu itu mengenai wajahnya. Kelana mengangkat tangan dan berkata, “hei.. lihat aku !”

Raksasa itu geram melihat Kelana.

 

 


Tuesday, May 12, 2020

#12 : Kelana Menemui Ujian Pertamanya

Hai ! Bagaimana kabarmu ? Semoga sehat selalu. Sedikit klarifikasi, aku baru menyadari bahwa jam yang tertera pada blog ini adalah pukul 05.00, sebenarnya tidak. Aku selalu upload setiap jam 19.00 namun memang pengaturan waktu tidak aku hiraukan, mungkin itu penyebab timbulnya waktu yang tidak sesuai. Sekarang mari kita kilas balik ceritanya.

Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.

            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      

Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.

Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10).

Ketika berada di tengah hutan, Kelana menyelamatkan seekor kelinci milik seorang wanita tua. Sebagai balas jasa, ia memberitahukan cara untuk mendapatkan teratai emas dengan menunjukkan lembah terdalam hutan. Sesampainya di sana, Kelana melihat cermin dan tersedot masuk ke dalamnya (#11)

***

 

Kelana membuka matanya. Ia terkejut karena di sekelilingnya sudah berubah. Ia tidak lagi di lembah terdalam hutan. Ia saat ini berada di padang rumput yang amat luas. Kelana memandang ke sekitar dan tidak tampak ada seorangpun di san, hanya beberapa kelomppok pohon dan tanaman yang tumbuh. Ia sungguh bingung mengenai apa yang terjadi. Ia berlari tanpa arah dan tujuan, berteriak meminta tolong.

“Seseorang ! tolong aku ! ada di manakah aku ini ?”

Ketika ia sedang berlari berteriak-teriak, tiba-tiba ia terhenti karena mendengar suara seseorang yang ia kenal.

“Hihihi… selamat datang di dunia yang baru, anak muda,” kata suara itu. Suara itu terdengar ada di langit, tak terlihat wujudnya. Kelana melihat ke atas namun tidak mendapati apa-apa. Yang ia lihat hanyalah langit biru yang tampak cerah. Namun ia yakin suara itu adalah suara sang wanita yang beberapa kali ia temui.

“Hei.. ada di manakah aku ?” teriak Kelana

Üntuk mendapatkan teratai emas, kamu harus melewati tiga ujian di sini. Bila kamu berhasil melewatinya, maka akan kuberikan teratai itu. Kamu memiliki tiga bantuan yang bisa digunakan. Bila ingin menggunakannya, katakanlah ‘tolong’ dan jangan lupa ucapkan ‘terima kasih’ ketika sudah mendapatkannya. Namun kamu tidak bisa menggunakan bantuanku untuk menyelesaikan ujian-ujian itu,” katanya.

Kelana menggerutu mendengar kata-kata dari suara itu. Ia merasa bingung harus berbuat apa dan tidak bisa seenaknya menggunakan bantuan yang ditawarkan. Ujian yang dimaksud pun tidak secara jelas disebutkan.

“Hei.. apa yang harus kulakukan? Jangan tinggalkan aku sendirian di sini !” kata Kelana.

“Kau bisa mengucapkan kata ‘tolong’ untuk meminta,” sahut suara itu.

“Baiklah. Tolong berikan teman untuk di sini bersamaku !” pinta Kelana.

Segera setelah permintaannya itu, tiba-tiba di sampingnya muncul seekor tikus kecil. Tikus itu terlihat gembira dan memeluk Kelana. Kelana mengetahui siapakah tikus kecil itu.

“Horsi ! kau mengubahnya menjadi tikus ?” katanya terkejut.

“Yah.. begitulah. Hihihi.. aku tidak bisa membawanya kemari sebagai kuda, jadi kuubah ia menjadi seekor tikus,” tawanya. Kelana hanya bisa membelalakkan matanya mendengar hal itu. Ia merasa dipermainkan oleh suara itu. Belum sempat Kelana menyampaikan protesnya, suara itu berkata, “baiklah. Akan kujelaskan. Seperti sudah kujelaskan, kamu akan menghadapi tiga ujian. Kamu harus melewatinya dengan baik untuk mendapatkan teratai itu. Hanya orang terbaik yang dapat meraih teratai emas ! Dan ingat, aku hanya akan muncul ketika kamu meminta dan ketika kamu akan menghadapi ujian. Sebagai ujian pertama, kamu harus mengalahkan raksasa yang ada di sini. Baiklah, semoga sukses !”

Kelana terdiam mencerna kata-kata dari suara yang berwujud itu. Kemudian ia melihat Horsi yang menjadi tikus itu. Horsi memandangnya dengan keheranan.

“Raksasa, katanya. Bagaimana bisa kita mengalahkannya sementara kita tidak memiliki apa-apa, Horsi ?” tanyanya kepada hewan kesayangannya. Dan Horsi pun sesuai dugaan, tidak menanggapi dan sibuk menggigiti kuku-kuku mungilnya.  

Mereka pun merlanjutkan berjalan ke tempat yang antah berantah itu. Sudah jauh berjalan, dari kejauhan terdengar suara menggelegar disertai hentakan kaki yang cukup membuat dataran bergoyang. Kelana kemudian berlari untuk bersembunyi di balik pohon, bersamatikus kecil Horsi di pundaknya. Ampak dari kejauhan sura dan hentakan itu berasal dari seorang raksasa.

Ia memiliki tubuh yang gemuk besar, melebihi pohon-pohon yang ada di sana. Rambutnya hitam sebahu, bergelombang dan tidak beraturan. Matanya bulat besar dengan taring menonjol di antara mulutnya. Ia tidak menggunakan baju, hanya celana pendek menggantung di kakinya. Perutnya tampak buncit dengan beberapa rambut di perut dan dadanya. Kakinya amat besar, ia berjalan-jalan tanpa memakai alas kaki.

Kelana masih dalam persembunyiannya mengamati keadaan sekeliling. Ia berpikir bagaimana caranya dapat mengalahkan raksasa itu demi teratai emas. Tampak raksasa itu mencabut pohon yang ada di sekitarnya dengan tangannya sedniri dan memasukkannya ke dalam mulut. Setelah memakan beberapa pohon, raksasa itu tertidur dengan pulas di tanah.

Setelah yakin bahwa ia rtidur, Kelana mencoba mendekat dan mengamatinya. Kelana berusaha mencari celah untuk  bisa mengalahkan sang raksasa. Dengan hati-hati Kelana mengitari tubuhnya. Sesekali ia mencoba untuk menyentuh tubuh besar itu. Kulitnya yang coklat teraba keras dan tebal. Kelana mengambil pedang di sarungnya dan menusukkannya perlahan. Raksasa itu tidak bergerak sedikitpun. Kelana kemudian mengambil batu dan melempar ke tubuhnya. Kali ini raksasa mulai merasa terganggu dan mulai menggaruk tangannya yang terkena batu itu.

 


Monday, May 11, 2020

#11 : Wanita, Lembah Terdalam, dan Cermin


Hai ! Bagaimana puasanya ? Semoga lancar terus ya.. hari ini akan lanjut bercerita tentang dongeng kemarin dan hari ini sepertinya menjadi yang terpanjang selama 10 hari terakhir.

Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.
            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      
Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.
Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai perjalanannya ke arah tenggara (#10) dan kisah di bawah secara singkat adalah mengenai Kelana yang bertemu dengan seorang wanita yang akan membawanya mendapatkan teratai emas.
***

Kelana terbangun mendengar suara itu dan langsung mencari sumbernya. Ternyata suara itu berasal dari seekor kelinci yang ekornya terjepit oleh ranting pohon. Tanpa pikir panjang, Kelana langsung menolong kelinci kecil itu dan kembali menuju ke tempat tidur alamnya.
Ia memposisikan untuk tidur kembali, sembari menatap ke langit yang dipenuhi bintang-bintang, kemudian terdengar suara lagi,
“Terima kasih anak muda,” terdengar suara serak yang membuyarkan lamunan Kelana.
Kelana bangkit dan berkata, “siapa anda ?”
“Terima kasih sudah menolong kelinci kesayanganku. Tanpanya, pasti aku tidak punya teman lagi. Hihihi..” jawabnya terkekeh.
Kelana memandang sosok di depannya. Seorang perempuan lanjut usia, rambutnya putih panjang, kulitnya tampak keriput, hidungnya mancung dan besar. Ia menggunakan tongkat untuk membatunya berjalan. Postur tubuhnya membungkuk, tangan kanan memegang tongkat dan tangan kirinya memegang kelinci kecil yang diselamatkan oleh Kelana beberapa saat yang lalu.
“Apa yang kamu lakukan di sini anak muda ?” tanyamya.
“Ah.. iya. Aku ingin mencari sebuah teratai,” jawab Kelana.
“Hahaha.. teratai emas ?” wanita itu terkekeh. Mata Kelana terbelalak mendengar jawaban darinya. Belum sempat Kelana membuka mulutnya, ia melanjutkan perkatannya,
“Sudah banyak yang berusaha mencarinya. Namun tidak berhasil. Hihihi..”
Kelana yang terkejut langsung menjawab, “apakah anda mengetahui di mana teratai itu ? aku membutuhkannya demi sang Putri !”
“Hihihi.. aku sudah tahu, nak.. sang Putri tertidur karena sihir jahat Rafas dan yang bisa mematahkan sihirnya hanyalah teratai emas itu.”
“Ya, itu benar ! kumohon, tunjukkan kepadaku di mana teratai itu berada ! bila tidak segera kutemukan.. Putri Mahesa akan mati !”
“Baiklah. Akan kuberi sebuah petunjuk sebagai ucapan terima kasihku kepadamu karena telah menyelamatkan kelinciku. Teratai itu ada di bagian terdalam dari hutan ini. Hihihii..” wanita itu tertawa sambil membalikkan badan dan berjalan menjaduhi Kelana.
“Di manakah itu ? Hei.. jangan pergi dulu..” Kelana berusaha untuk menggapai wanita. Namun ia tiba-tiba menghilang di semak-semak hutan.
Kelana kemudian melepas ikatan Horsi di pohon dan segera menuntunnya berkeliling hutan. Hutan itu sangatlah luas, namun Kelana dengan gigih mencari di mana teratai emas itu berada. Ia melihat genangan air yang ada diantara pohon-pohon di sana dan menyusuri sepanjang sungai, namun belum juga membuahkan hasil. Akhirnya sampailah ia  pada hilir sungai. Ia menghela napas panjang, dicermatinya ke mana air sungai itu mengalir, dan matanya terhenti pada sebuah lembah yang dalam.
Lembah itu tampak gelap. Untuk menuju ke sana, Kelana harus menuruni bebatuan yang curam. Ia sempat ragu untuk menuju ke sana, namun dia teringat akan petunjuk dari wanita yang ia temui. Kelana kemudian kembali mengikat Horsi pada sebatang pohon dan mulai turun ke lembah itu.
Bebatuan licin dan tajam membuat Kelana beberapa kali jatuh terpeleset.  Namun ia pantang menyerah untuk sampai ke sana. Akhirnya sampailah ia pada lembah itu. Di sana ia berkeliling dan tidak menemukan teratai yang dicari. Lembah itu tidak terlalu luas dan tidak ada tanaman serta peohonan apapun di sana; yang ada hanyalah tanah lembab dengan bebatuan besar. Kelana duduk sambil beristirahat. Ia menghela napas panjang.
“Kurasa inilah bagian terdalam dari hutan ini. Aku sudah mencari ke manapun namun belum juga menemukannya.. ah, ke mana lagi aku harus pergi ?” gumamnya.
Di tengah keputusasaannya itu, tampaklah sesuatu yang bercaya di balik sebuah batu besar. Kelana berdiri dari tempat peristirahatannya dan berjalan menuju ke arah sumber cahaya itu. Di balik batu besar, Nampak sebuah cermin yang berkilauan. Cermin itu sangatlah besar, dengan bingkai ukiran berwarna emas. Kelana kemudian sejenak bercermin dan melihat pantulan dirinya sendiri.
Seragam dan jubah megah yang tadinya indah dan megah miliknya sekarang sudah lusuh dan robek. Wajah tampannya menjadi kusam karena terkena debu dan tanah. Bilamana ia pergi dengan pakaian seperti itu, pastilah orang tidak menyangka banhwa ia adalah calon ksatria kerajaan.
“Ternyata tidak ada gunanya pakaian yang kupakai saat ini. Aku tidak lebih baik dari seorang gelandangan atau pengemis,” ujarnya sambil berdiri mematung di depan cermin, “bahkan mereka jauh lebih baik daripada diriku yang tidak menganggap keluargaku sendiri..”
“Itu benar,“ Kelana mengenali suara itu, itu adalah suara wanita yang memberitaunya tentang lembah terdalam. Ia mendatangi Kelana, masih dengan tongkat dan kelinci di tangannya.
“Selamat datang di lembah terdalam hutan ini,” katanya sambil tersenyum.
“Anda ! di manakah teratai itu ?” Kelana berteriak sambil memegang lengan sang wanita, kalau-kalau ia kembali menghilang.
“Lepaskan tanganmu itu dan berjalanlah menuju ke arah cermin itu. Ihihi..” jawabnya.
Kelana masih memandang ragu ucapannya. Bagaimana bisa berjalan ke sebuah cermin ? namun ia tetap melakukan apa yang wanita itu sampaikan. Ia mulai mendekat ke cermin tersebut. Beberapa langkah kemudian, tubuhnya seperti terseret masuk ke dalam cermin. Kelana memejamkan matanya karena ketakutan. Tubuhnya seperti diputar-putar dan di sekelilingnya gelap. Ia merasa menuju kepada dimensi yang lain. Kelana berteriak sekencang mungkin dengan mata tertutup.

Sunday, May 10, 2020

#10 : Petualangan Kelana Dimulai


Hai sobat insecure, yang setiap saat merasa “they do something, I do nothing”. Sini berpelukan virtual.. semoga segera dihilangkan pikiran tersebut. Hari ini akan aku lanjutkan cerita tentang “Petualangan Kelana”ini.
Dongeng ini bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana (#2) yang berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Karenanya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.
            Ketika Putri Mahesa menanyakan keluarga Kelana, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu lima tahun yang lalu (#5).      
Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas muncul dan menyihir Putri Mahesa hingga tak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir jahatnya, Permaisuri menemuinya dan merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Pada saat itu pula, Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.
Atas kejadian ini, para penasihat dan Ksatria istana mengadakan pertemuan dan didapatkan hasil mereka akan berpencar untuk mencari teratai emas yang konon bisa untuk mengalahkan sihir jahat (#9). Kelana pun memulai petualangannya.
***

Kelana memulai perjalanannya bersama dengan Horsi. Kelana tidak tahu kemana harus melangkah. Ia hanya mengikuti pembagian wilayah dari komandannya. Mereka mengarungi sesuai delapan arah mata angin; sesuai juga dengan jumlah ksatria yang ada. Kelana mendapatkan bagian ke arah tenggara. Kelana terus melaju ke sana, tanpa tujuan. Sampailah ia pada sebuah savanna.
“Horsi, menurutmu di manakah teratai emas itu berada ? aku tidak memiliki ide,” Kelana membaringkan kepalanya sambil menewarang ke atas.
“Teratai itu adalah tanaman air, bukan ? berarti aku harus mencari sumber air ! entah itu sungai, atau apapun ! Kau memberiku ide Horsi ! Bodohnya aku !” Kelana terbangun dan membelai kuda kesayangannya itu.
Kelana berkeliling dan mencari sumber air di sekitarnya, namun hasilnya nihil. Ia kemudian segera naik ke atas punggung Horsi dan mereka bergegas mencari sumber air. Sesekali mereka berhenti sambil mengisi air, mencari makan, dan beristirahat sejenak.
Lama berkeliling, Kelana tidak juga menemui teratai itu. Hari mulai gelap dan Kelana memutuskan untuk beristirahat di sebuah hutan. Ia mengikat Horsi di sebatang pohon besar samping sungai. Ia membasahi tubuhnya sambil mencari ikan di sungai untuk dimakan. Setelah itu dia bersiap tidur beralaskan tanah dan beratapkan bintang-bintang.
“Lihat Horsi bintang-bintang itu, menerangi malam kita. Ah.. aku membayangkan ibu dan adikku. Apa yang sedang mereka lakukan ya ? aku jahat ya, tidak mengakui mereka. Bahkan aku langsung mendapatkan hukuman dengan pencarian ini..,” ia menghela napas, “bagaimana dengan Putri Mahesa ? aku khawatir tentangnya.. bisakah ia terlepas dari sihir Rafas ?” ia menengok kea rah kudanya. Tampak Horsi sudah sudah tertidur dengan tali terikat di lehernya.
“Ah ya.. selamat tidur, Horsi. Besok kita lanjutkan perjalanan kita,” Kelana kemudian memejamkan matanya.
Brakk !
Terdengar suara yang mengejutkannya.

Saturday, May 9, 2020

#9 : Perjalanan Delapan Arah


Hai ! semoga semua dalam keadaan sehat ya. Hari ini agak panjang lanjutan ceritanya. Pada intinya, #9 ini menceritakan bahwa para kstaria akan berpencar untuk mencari teratai emas. Sebelumnya tetap akan aku kisahkan episode sebelumnya.
Dongeng berjudul “Petualangan Kelana” ini menceritakan tentang seorang prajurit bernama Kelana (#2). Suatu hari ia berhasil menggagalkan rencana Rafas, penyihir jahat, untuk melukai Putri Mahesa, putri Sang Raja (#3). Atas keberaniannya, Kelana diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.
            Ketika sedang berbincang dengan Putri Mahesa, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu (#5).          
Saat hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas tiba-tiba muncul dan membuat Putri tidak sadarkan diri. Ia pun mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7). Ketika kerajaan Andala diselimuti kegelapan karena sihir Rfas, Permaisuri menemuinya dan ia merebut tongkat Rafas. Namun naas, ia terjatuh dari tebing (#8). Rafas mengatakan Putri Mahesa bisa kembali sadar dengan syarat kerajaan Andala diserahkan kepadanya.
***

Putri Mahesa kemudian dibaringkan di tempat tidurnya. Sang raja tidak lupa menutup tubuhnya dengan selembar selimut yang hangat. Ia menangis melihat putrinya terlelap akibat sihir dari Rafas. Ia meminta para pelayan untuk bergantian menjaga Putri Mahesa. Segera setelahnya, ia kembali ke ruangan tengah dan duduk termenung di atas singgasana.
Di sana sudah terdapat para ksatria dan penasihat kerajaan sedang menunggu. Mereka mengadakan pertemuan penting.
“Tak kusangka ia telah membunuh sang ratu ! sungguh orang jahat !” kata seorang Ksatria.
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku menyerah dan memberikan kerajaan ini padanya ?” Tanya sang raja sambil menunduk. Ia menopang dahinya dengan tangan sambil menatap ke bawah.
Semua yang ada di istana hanya bisa terdiam, sebelum akhirnya salah seorang berkata,
“Yang Mulia. Pikirkanlah sejenak. Kita memiliki waktu seminggu untuk semua ini. Kita masih bisa mengusahakannya.”
“Biarkanlah kami maju, Yang Mulia ! Kami adalah ksatria terpilih dan sudah menjalani pelatihan yang keras ! sekarang adalah saatnya untuk membuktikan bakti kami kepada kerajaan !” kata salah seorang ksatria yang diikuti oleh sorak dan anggukan kstaria lain.
“Kalian tidak tahu siapa yang akan kalian hadapi. Lihatlah, tidak ada seorangpun dari kita yang bisa menyentuhnya !” raja menjawab.
Susana kembali tenang. Mereka mengetahui bahwa Rafas adalah orang jahat yang memiliki kekuatan sihir. Tidak heran selama ini dia tak tersentuh karena ilmu hitamnya itu.
Mereka yang ada di sana berdiskusi dengan alot untuk menemukan jalan keluar mengalahkan Rafas. Apabila kerajaan jatuh ke tangannya, pastilah kehidpuan masyarakat akan menjadi menderita dan hancur. Mereka tidak ada pilihan lain dan diskusi itu hanya menemui jalan buntu. Tiba-tiba, salah seorang penatua berkata,
“Ada sebuah legenda. Di sana dikatakan bahwa siapapun yang berhasil mendapatkan teratai emas milik penyihir baik, akan menjadi orang terkuat di negeri ini. Namun untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Ia harus melewati berbagai tantangan dan rintangan yang amat berat. Kudengar belum ada satu orangpun yang berhasil mendapatkannya,”
“Di manakah kita harus mencari teratai emas itu ?” Tanya salah seorang ksatria.
“Tidak ada yang tahu..” jawabnya.
Semua tercengang dengan jawabannya. Bagi mereka, itu adalah hal yang amat mustahil dilakukan. Namun mendapatkan teratai emas adalah satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkan kerajaan dan Putri Mahesa.
“Baiklah yang mulia, sebagai ksatria di sini, kami akan berpencar dan mencari teratai emas itu. Jangan khawatir, para prajurit akan tetap tinggal di kerajaan dan menjaga keamanan. Kami akan kembali sebelum waktunya habis, untuk bertemu dengan Rafas, raja kejahatan itu !” ksatria berteriak sambil mengepalkan tangannya. Dari sorot matanya terlihat amarah yang membara.
Mendengar hal itu, Kelana terkejut dan tidak berapa lama kemudian sang raja berkata,
 “kami berhutang budi pada kalian,” sang raja tiba-tiba beranjak dari singgasananya dan bertulut di hadapan para kstaria. ia meneteskan air mata haru karena kepahlawanan para ksatria. Kelana masih terdiam ketika para ksatria membantu sang raja berdiri lagi.
Merekapun segera memberi hormat kepadanya dan bergerak menuju ke ruangannya masing-masing. Tidak ada hari esok. Saat itu juga mereka akan bersiap berangkat untuk mencari teratai emas yang antah berantah.
Kelana mengemas barangnya dengan enggan. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia berpikir mengenai keluarganya dan terutama keselamatan dirinya sendiri. Ia masih merasa takut bilamana terjadi sesuatu padanya. Ia mulai mempertanyakan kepantasan dirinya untuk mendapatkan gelar kehormatan dari kerajaan itu, terlebih sikapnya terhadap keluarganya. Kesibukan menjauhkannya dari mereka dan harga diri menutup hatinya untuk mengakui jati dirinya sendiri. Namun apa daya, Kelana harus tetap mengepak barang-barangnya kemudian berjalan menuju ke arah Horsi, kuda kesayangannya. Baginya sudah tidak ada lagi jalan mundur. Ia harus menghadapi yang ada di depannya. Dalam hati kecilnya ia ingin bertemu dengan keluarganya, terutama karena ia menyadari bahwa perjalanan ini berisiko dan ada kemungkinan ia tidak bisa bertatapan dengan ibu serta adiknya. paling tidak, untuk mendapatkan restu dan doa. Tetapi dengan sikap dinginnya tadi membuatnya semakin malu untuk menemui mereka berdua.
“Äyo Horsi, kita pergi,” katanya pada kudanya itu.


Friday, May 8, 2020

#8 : Peristiwa Masa Lalu


Hai ! Berjumpa lagi. Sedikit cerita, terima kasih untuk semua yang sudah tergerak untuk membantu dalam rangka COVID-19 ini, misalnya dengan pemberian APD untuk tenaga medis. Kemarin klinik tempatku bekerja mendapat jatah pembagian baju hazmat, sarung tangan, dan hand sanitizer yang berasal dari RS terdekat, di mana RS tersebut juga mendapat sumbangan yang cukup banyak dan diminta untuk membantu pendistribusiannya. Terima kasih !
            Sekarang kita lanjutkan dongeng “Petualangan Kelana” ini. Dongeng ini menceritakan tentang seorang prajurit bernama Kelana (#2). Suatu hari ia melihat ada seorang asing yang berusaha masuk ke kamar Putri Mahesa, Putri Sang Raja. Kelana berhasil menangkap orang tersebut, yang diketahui bernama Rafas, sang penyihir jahat (#3). Atas keberaniannya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.
            Putri Mahesa mengucapkan terima kasih kepada Kelana. Pada saat yang bersamaan, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu (#5). Ibunya meninggalkannya pada saat kondisi kerajaan sungguh mencekam dan menakutkan, meskipun setelah kepergiannya kondisi kerajaan tersebut membaik dan mereka percaya itulah pengorbanan dari Permaisuri.
            Ketika hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas kembali datang mengacaukan istana. Ia pun menyihir Putri Mahesa hingga tidak sadarka diri dan mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7).
***

Cerita berlanjut dengan Rafas mengungkapkan kejadian lima tahun yang lalu.
Permaisuri keluar rumah malam itu, malam di mana keadaan Kerajaan Andala diselimuti oleh kekuatan jahat yang membuat seluruh warga ketakutan. Ia meninggalkan Putri Mahesa, anaknya, dan dengan mengendarai kudanya menuju ke sebuah tempat yang bernama Tebing Tanah Merah. Tempat tersebut dijuluki Tebing Tanah Merah karena terletak di sebuah tebing yang curam dan  tanah di sana berwarna  merah serta memiliki bau yang menyengat (note : tanah ini sama dengan tanah yang ada di jejak kaki Rafas, #2).
Sesampainya di sana, ia disambut oleh penyihir jahat, Rafas.
“Ah, ada tamu istimewa yang datang rupanya,” katanya.
“Aku tahu ini perbuatanmu, Rafas. Tarik sihirmu dan kembalikan kerajaanku ! Kami tidak pernah mengganggumu !” kata Sang Permaisuri.
“Hahaha.. aku akan melakukannya dengan senang hati, Nyonya. Dengan syarat kerajaan itu menjadi milikku !” Rafas mengangkat tongkatnya dan petir menyambar dengan keras.
            Permaisuri pun langsung berlari menuju ke arah Rafas dan segera ia berusaha mengambil tongkatnya. Rafas yang terkejut langsung terdorong ke ujung tebing tersebut. Mereka berdua terlibat dalam perebutan tongkat sihir yang ada di tangan Rafas. Tak lama, Permaisuri berhasil merebut tongkat tersebut namun dalam waktu yang bersamaan, Rafas mendorongnya jatuh dari atas tebing.
            Mendengar cerita Rafas tersebut, seluruh istana hening. Sang Raja tak kuasa untuk berdiri dan kemudian terjatuh. Para pelayan kerajaan langsung mendudukannya di kursi singgasana.
“Bebaskan Sang Putri ! Bunuhlah aku tapi jangan anak Raja ! Kau sudah merenggut istrinya dan sekarang anaknya” kata salah seorang Kstaria memohon.
“Baiklah aku akan bermurah hati kepadamu. Aku akan memberi waktu satu minggu bagi kalian untuk bisa membuat Putri Mahesa terbangun. Namun apabila dalam waktu yang kuberikan itu, ia masih tidak bisa tersadar, ia akan tidur selama-lamanya ! Kecuali.. kau menyerahkan kerajaan ini padaku. Hahaha,” lanjut Rafas, “gunakan waktumu dengan baik !”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rafas langsung menghilang dari pandangan semua orang. Yang tersisa hanyalah jam pasir yang menunjukkan waktu yang diberikan oleh Rafas.

Thursday, May 7, 2020

#7 : Kemunculan Rafas


Hai ! Selamat Hari Raya Waisak bagi teman-teman yang merayakan :D
Javasiddhi bhavantu te (semoga semua senantiasa diberikan keberhasilan).
Hari ini seperti biasa, di jam yang sama, aku akan melanjutkan cerita “Petualangan Kelana”. Sedikit ulasan, cerita ini mengisahkan seorang prajurit bernama Kelana (#2). Suatu hari, ia berhasil menggagalkan rencana Rafas, tokoh antagonis, untuk melukai Putri Mahesa, Putri satu-satunya sang Raja (#3) dan atas keberhasilannya itu, ia akan dilantik menjadi ksatria kerajaan. Kala sedang berbincang dengan Putri Mahesa, Kelana berbohong mengenai kondisi keluarganya (#4) dan sang Putri pun bercerita mengenai masa di  mana ibunya menghilang 5 tahun yang lalu (#5). Ketika hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke istana (#6).
***

Upacara pelantikan pun dimulai dengan meriah. Para ksatria berdiri di depan menghadap Sang Raja dan Putri Mahesa. Di sampingnya ada seorang ksatria senior yang membawa baki berisi lencana untuk disematkan di dada Kelana dan kawan-kawan. Di belakang mereka prajurit berdiri dengan gagah dan rapi. Di luar ruangan terdapat warga yang siap untuk menyambut para pahlawan baru kerajaan. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat penting di sana sehingga dibuat dengan amat meriah.
Satu per satu lencana disematkan di dada para ksatria oleh Raja hingga sampailah pada giliran Kelana. Sesaat setelah ia menyematkan lencana, tiba-tiba terdengar gemuruh dari atas. Langit menjadi gelap dan teriakan warga menambah suasana mencekam di sana. Seluruh istana bergetar seperti terkena gempa yang dahsyat. Mereka langsung mengamankan Raja dan Putri Mahesa.
Di tengah-tengah kegemparan tersebut, pintu utama terbuka. Mereka semua terkejut karena Rafas, sang penjahat sudah berada di sana. Ia mengenakan jubah berwarna hitam. Wajahnya yang lonjong, dengan pipi yang seakan tidak berisi, dan deretan gigi tajamnya menyeringai lebar membuatnya  menjadi semakin seram. Di tangannya terdapat tongkat disertai  patung tengkorak kecil di atasnya dengan bola mata dari batu zamrud warna hitam yang menyala.
“Hahaha… kalian pasti terkejut dengan kedatanganku !” teriaknya.
“Bagaimana bisa ? kami sudah menangkapmu !” kata Raja.
“Kalian lupa, akulah Rafas. Raja kejahatan, penyihir dalam kegelapan. Aku akan membalas dendam kepada kalian yang sudah menangkapku, terutama kau ! Hahaha.. ” katanya sambil menunjuk Kelana.
Kelana langsung berlari ke arah Rafas, namun ia langsung terdorong sebelum berhasil menyentuhnya. Tawa Rafas menggelegar ke seisi ruangan. Rafas pun mengangkat tongkat yang ada di tangan kanannya. Tampak mata pada batu zamrud tengkorak itu menyala berwana merah.
Semua ksatria berusaha untuk menjatuhkannya namun Rafas membentengi dirinya dengan kekuatan sihir yang ada pada tongkatnya.
"Kalian salah sangka bisa menangkap orang hebat sepertiku” kata Rafas, “lihatlah sekarang  tidak ada yang bisa menyentuhku !”
“Apa yang akan kamu lakukan, hai orang jahat ?” teriak sang raja.
“Tentu saja aku ingin menguasai kerajaan ini ! kemarin aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, rambut putri Mahesa ! dengan kekuatan sihirku, dia akan tertidur dan tidak akan bisa bangun lagi !” Rafas mengeluarkan sehelai rambut dan kemudian mengayunkan tongkat itu. Tak lama, Putri Mahesa tergeletak di lantai.
“Putri !” teriak Kelana sambil menghampiri Putri Mahesa. Ia menggoncang-goncangkan tubuh Putri Mahesa namun sang Putri tetap tidak membuka matanya.
“Sstt.. ia sedang tertidur pulas. Hahaha..” Rafas tertawa, “Ia akan tertidur selama-lamanya bila kalian tidak memenuhi perintahku. Dia sungguh lemah, seperti ibunya.”
“Jahanam ! apa yang telah kau perbuat pada istriku ?” teriak Raja.
“Ia sudah mati di tanganku. Ini karena kesalahannya menghalangiku untuk mendapatkan kerajaan ini !” Rafas berteriak, petir menyambar dengan kencang.

Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...