Wednesday, May 6, 2020

#6 : Kelana Mengusir Adiknya


Hai ! Bagaimana kabarmu ? Semoga semua dalam keadaan sehat-sehat ya. Sekedar pemberitahuan, hari ini mulai ditetapkan Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, dan Bantul sebagai zona transmisi lokal penyebaran COVID-19. Untuk yang di daerah tersebut, mohon lebih berhati-hati, di mana pun jaga kesehatan dan kebersihan. Semangat untuk kita, kita pasti bisa melalui ini semua *peluk virtual.
Sekarang seperti biasa akan ada sedikit cerita mengenai kisah kemarin. Judul utama dongeng ini adalah “Petualangan Kelana”. Bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana yang melihat adanya orang asing berusaha masuk ke dalam kamar Putri Mahesa, putri Raja (#2). Ia berhasil menghalau sang penjahat, Rafas, untuk melukai Sang Putri (#3). Karenanya, Kelana akan ditunjuk menjadi seorang Kstaria kerajaan.
Ketika berbincang dengan Putri Mahesa, Kelana berbohong  mengenai keadaan keluarganya. Ia mengatakan keluarganya adalah bangsawan namun gugur dalam tugas (#4). Putri Mahesa pun bercerita pula mengenai kisah ibunya yang menghilang 5 tahun yang lalu (#5)
***

Keesokan harinya, Kelana keluar dari kamarnya dan terkejut melihat kemegahan istana. Istana sudah dihiasi dengan amat indah. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut tempat. Pilar-pilar besar diselimuti oleh pita merah yang menawan, sedangkan di langit-langit tergantung hiasan berbentuk bunga yang nenambah kekaguman.
Memasuki ruang tengah, Kelana melihat keramaian di sekitarnya. Ruangan itu sangat besar dan mampu menampung ratusan orang sekaligus. Ruangan itu pun tidak luput dari hiasan mewah dan megah. tampak para calon Ksatria sudah berada di sana didampingi oleh keluarganya. Mereka tampak bahagia, para orang tua tampak bangga dengan anak-anaknya yang sebentar lagi dikukuhkan menjadi Ksatria istana. Sedangkan Kelana berdiri seorang diri, tanpa ada satu orangpun yang ada di sampingnya. 
“Hai, Kelana. Emm.. maafkan tentang kemarin. Aku tidak tahan untuk menceritakannya kepadamu dan malah membuat suasana tidak nyaman,” Putri Mahesa menyapanya tiba-tiba.
“Tidak apa-apa, Putri,” jawab Kelana sambil tersenyum.
“ Ada apakah pada dirimu ? kamu tampak tegang, “Putri Mahesa memandangi wajahnya.
“Oh, Putri. Iya. Ini adalah hari terbesar dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjalaninya dengan baik….” jawab Kelana.
“Aku percaya kamu pasti bisa menjalaninya dengan baik.”
Mereka sedang asyik berbincang ketika salah seorang pelayan istana memanggil Kelana dan mengatakan bahwa ada orang yang ingin menemuinya. Kelana terkejut melihat ternyata orang yang ingin bertemu dengannya adalah adiknya, Kirana. Ia menggunakan baju berwana putih yang sudah tampak usang dengan beberapa robekan kecil di sisi kanan dan kirinya. Rambutnya hitam panjang terurai dengan kulit coklat kehitaman karena terbakar matahari. Ia sudah beranjak remaja saat ini, sejak delapan tahun yang lalu Kelana meninggalkan keluarganya.
Kelana hanya bisa diam mematung melihat sosok di depannya. Tak lama, Kelana langsung membuang muka dan  berkata,
“Pergilah. Aku tidak tahu siapa dirimu.”
“Dia mengatakan bahwa dia adalah keluargamu, Tuan,” kata pelayan itu.
“Aku tidak punya keluarga, ayah dan ibuku sudah lama meninggal dan aku adalah anak satu-satunya,” jawab.
Perempuan itu lalu dibawa keluar oleh sang pelayan. Iapun berteriak,
“Kak !” namun pelayan itu segera menariknya keluar. Perempuan itu hanya bisa menatap Kelana dengan sedih. Kelana sempat beradu pandang dengannya, namun ia segera pergi sambil memalingkan wajahnya.


Tuesday, May 5, 2020

#5 : Menghilangnya Sang Permaisuri


Hai ! Masih dalam suasana duka atas kepergian The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot, ke rumah Bapa di surga. Semoga beliau diterima di sisiNya dan keluarga serta kerabat serta siapapun yang merasa kehilangan diberi kekuatan dan ketabahan. Ingat pesan beliau di twitter tahun 2019 :
Sing uwis ya uwis. Lara ati oleh, ning tetap kerja lho ya, Sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu
:’)
Dalam tema kehilangan, saat ini kita akan lanjutkan dongeng “Petualangan Kelana”. Hari ini akan menceritakan  hilangnya Sang Permaisuri - istri Raja, ibu Putri Mahesa- beberapa tahun yang lalu. Untuk cerita sebelumnya :
#1 : ini prolog #31HariMenulis
#2 : perkenalan tokoh utama, Kelana yang awalnya adalah seorang prajurit kerajaan Andala.
#3 : bertemunya dengan sang antagonis, Rafas yang berusaha melukai Putri Mahesa namun berhasil digagalkan oleh Kelana. Karenanya, ia akan diangkat menjadi Ksatria
#4 : Kelana yang berbohong kepada Putri Mahesa mengenai masa lalunya, ia bercerita keluarganya berasal dari kalangan bangsawan.
Selamat membaca !
***

Perbincangan mereka berlanjut mengenai masa lalu Putri Mahesa yang kehilangan ibunya.
Sekitar 5 tahun yang lalu, kala itu Putri Mahesa berumur 20 tahun, terjadi sebuah kejadian yang aneh. Selama beberapa minggu terakhir pada masa itu, Kearajaan Andala seperti diselimuti oleh kekuatan jahat yang membuat langit menjadi hitam gelap, setiap hari bagaikan malam; tanpa adanya sinar matahari, bulan, atau bintang sedikitpun
Ombak di laut tiba-tiba naik, warga pesisir sangat khawatir bila terjadi bencana tsunami. Ditambah hujan turun dengan deras disertai petir menyambar keras, angin menderu kencang. Segala aktivitas terhenti. Seluruh warga sangat ketakutan akan adanya fenomena alam itu. Tidak ada yang berani untuk keluar rumah.
Ketika itu hari masih sore, cahaya kilat menyambar membuat penerangan dalam istana mati. Putri Mahesa yang ketakutan keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan. Saat sedang berjalan, ia melihat ibunya terburu-buru berjalan menyusuri koridor.
“Ibu mau ke mana ?” tanya Mahesa.
Sang permaisuri menghentikan langkahnya dan segera memeluk Mahesa.
“Tidurlah lagi anakku,” Permaisuri menjawab.
Ditemani oleh Sang Ibu. Putri Mahesa diminta berbaring di tempat tidur dan ketika Mahesa mulai terlelap, ia mengendap-endap keluar dari kamar. Saat hendak membuka pintu, Mahesa berkata,
“Jangan pergi bu..”
Ia menoleh sebentar, sambil tersenyum melenggang keluar kamar. Sejak saat itulah Sang Permaisuri menghilang dan tidak pernah kembali. hingga saat ini.
Hal yang mengejutkan terjadi setelah kepergiannya. Mendadak seluruh keadaan alam di Kerajaan Andala menjadi tenang. Tidak ada lagi langit gelap mencekam,  ombak yang meninggi, angin kencang, maupun petir. Bahkan panen rakyat lebih banyak dan lebih bagus dari sebelumnya. Semua orang, termasuk raja dan putrinya, percaya bahwa Sang Permaisuri mengorbankan diri untuk keselamatan kerajaan. Meskipun demikian, Putri Mahesa selalu merasa ibunya selalu ada di dekatnya.
Setelah menceritakan hal itu, Putri Mahesa menitikkan air mata,katanya
“aku tidak memiliki kekuatan untuk mengahalau ibuku pergi saat itu. Badanku seperti menempel pada tempat tidur, ada kekuatan untuk menahanku dan membuat aku terlelap. Sungguh, bila kutahu itu adalah hari terakhir aku bertemu ibuku, aku pasti akan.. “ ia tak kuasa meneruskan kalimatnya, “aku pamit dulu..” Putri Mahesa kemudian langsung keluar kamar dan Kelana hanya bisa duduk terdiam.
Satu sisi ia merasa prihatin dengan masa lalu Putri Mahesa, namun sisi lain ia merasa bersalah sudah berbohong kepadan. Ia tidak ingin dipandang rendah dan merasa malu terhadap kondisi yang sebenarnya. Kelana hanya berdiam diri di kamar sepanjang hari.

Monday, May 4, 2020

#4 : Kebohongan Kelana


Hai, bertemu lagi ! Langsung saja kita teruskan ceritanya. Sebelum itu, bila ingin membaca prolog, mengenai latar belakang penulisan #31HariMenulis, bisa klik ini. Kemudian seperti biasa, aku akan menceritakan ulang kisah kemarin.
Judul utama dongeng ini adalah “Petualangan Kelana”, menceritakan kisah penyelamatan seorang Putri kerajaan oleh Kstaria. Pada #2 dikisahkan mengenai seorang prajurit yang bernama Kelana. Ia melihat ada seorang asing yang berusaha masuk ke dalam kamar Putri Mahesa, putri Sang Raja. Pada  #3 diketahui bahwa orang asing itu adalah Rafas, yang ada pembunuh, pencuri, dan perampok yang meresahkan warga. Atas kehebatan Kelana mencegah Rafas melukai Putri Mahesa, ia akan diangkat menjadi seorang Ksatria.
***

Begitulah awal mula perjalanan Kelana menjadi seorang Ksatria dan besok pagi adalah hari pelantikan para Ksatria baru, di mana Kelana menjadi satu diantaranya. Ia memasuki kamar barunya yang megah. Ia melihat dirinya di depan cermin. Pakaian yang ia gunakan sudah bukan seragam lusuh lagi, melainkan dihiasi jubah dan beberapa lencana tersemat di bajunya. Ia sangat bangga dengan dirinya menggunakan baju kebesaran itu. Jubah dan lencananya sangat pas pada tubuhnya yang gagah dan perkasa. Tidak lama, pintu kamarnya diketuk dan ternyata suara itu berasal dari Putri Mahesa.
“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, emm.. siapa namamu ?” katanya, “kau sudah menyelamatkanku, tapi aku belum berkenalan secara langsung..”
“Nama saya Kelana, Tuan Putri. Tidak apa-apa. Sudah sering saya katakan bahwa inilah tugas saya” jawab Kelana.
“Kelana… nama yang indah..,” pipi Putri Mahesa merona, “aku Mahesa. Bila tidak ada dirimu, Kelana, entah apa yang terjadi padaku,” Putri Mahesa tersipu. “besok adalah hari pengangkatan jabatanmu. Perlukah kami memanggil keluargamu ?” lanjutnya, “aku ingin bertemu dengan mereka. Mereka pasti orang yang hebat sehingga bisa memiliki anak sepertimu.”
Kelana cukup terkejut dengan tawaran Putri Mahesa. Tiba-tiba ia teringat akan ibu dan adiknya yang sudah lama tidak berkabar dengannya. Terjadi dilema dalam hati Kelana, apakah ia akan mengundang keluarganya datang ke istana ? bila hal itu dilakukan, tentu kerajaan, terlebih Putri Mahesa, akan kehilangan simpati pada dirinya. Adalah hal yang memalukan bila seorang Ksatria bukanlah dari kalangan bangsawan, melainkan dari keluarga orang miskin. Kelana merasa harga dirinya akan jatuh ketika orang-orang mengetahui asal usulnya.
“Aku tidak memiliki keluarga, Putri. Ayahku dahulu adalah seorang panglima dari negeri seberang, ibuku sudah lama meninggal karena melahirkanku. Tidak lama, ayahku gugur di medan perang sehingga aku berkelana dan hanya tinggal seorang diri di sini,” jawab Kelana.
“Ah, maafkan aku.. aku tidak bermaksud …” ucap Putri Mahesa sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, Putri,” jawab Kelana.
“Aku juga mengerti rasanya kehilangan. Ibuku menghilang begitu saja. Meninggalkanku dan ayahku berdua di sini..”

Sunday, May 3, 2020

#3 : Pertemuan dengan Rafas


Hai ! Jumpa lagi di jam dan blog yang sama. Bagaimana kabarmu ? Semoga tetap sehat, semangat, dan senantiasa diberkati Tuhan. Sebelumnya aku ingin minta maaf karena font tulisanku tidak rapi. Aku sudah berusaha merapikannya namun belum berhasil *huft
Baiklah, saatnya melanjutkan dongeng berjudul "Petualangan Kelana" ini. Sebagai rangkuman, kemarin kita sudah sampai pada perkenalan pria bernama Kelana, yang adalah prajurit kerajaan. Suatu hari, ia melihat seorang pria tak dikenal menuju ke kamar Putri Mahesa, putri satu-satunya sang Raja (lebih lengkap silakan baca di sini). Selamat membaca ! :D

***

Kelana langsung menyergap pria itu dari belakang tanpa pikir panjang. Ia mendorongnya menjauhi Sang Putri yang sedang tertidur. Pria itu jatuh terbentur tembok. Putri Mahesa pun terbangun mendengar keributan yang terjadi.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” teriak Putri Mahesa.
“Maaf mengganggu tidurmu, Putri. Namun pria ini menyelinap masuk dan mengeluarkan pisau dari celananya, “ jawab Kelana.
Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit dan berusaha menyerang Kelana dengan pisau yang dimilikinya. Kelana melindungi dirinya dengan perisai serambi memegang tangan Putri Mahesa.
“Berlindunglah di balik tubuhku, Putri. Kau akan aman,” kata Kelana.
Putri Mahesa berlindung di balik tubuh gagah Kelana. Kelana melepas pedang dari sarungnya dan dengan perisai ia mendorong pria itu. Kelana mengarahkan pedang ke tubuhnya dan menyudutkannya di pojok kamar, membuatnya tidak bisa berkutik.
“Kau sudah tersudut ! Berbaliklah menghadap ke dinding dan jatuhkan pisau itu atau aku akan menusukkan pedang ini ke tubuhmu !” ancam Kelana.
Pria itu membalikkan badannya dan menjatuhkan pisau yang ada di tangannya. Kelana perlahan menghampirinya,  mengikat kedua tangannya dan menggiringnya keluar kamar. Sekilas ia tampak seperti warga biasa. Pakaiannya warna coklat dengan celana berwarna putih yang sudah kotor, wajahnya pun ditutupi kain dari hidung ke bawah sehingga tidak terlihat wajahnya. Entah bagaimana ia bisa melewati penjagaan di istana hingga bisa sampai ke kamar Sang Putri.
Putri Mahesa mengikuti mereka dari belakang. Pria itu dibawa menuju Sang Raja.
“Siapa kau dan apa yang akan kau lakukan kepada putriku ?” tanya sang raja.
Ia membuka penutup wajahnya, tersenyum. Tampak pipinya yang tirus dengan kulit kecoklatan. Iapun berkata,“aku adalah Rafas.”
Mendengar nama itu, seisi istana terkejut. Rafas adalah seorang penjahat yang amat  terkenal di sana. Ia adalah pembunuh, pencuri, dan perampok yang ulung.  Sudah lama ia menjadi buronan namun selalu berhasil melarikan diri, bahkan tidak ada yang bisa mengetahui wajahnya, sekalipun para prajurit dan penjaga keamanan kerajaan. Namun kali ini ia berhasil ditangkap oleh Kelana saat hendak melukai sang Putri.
Tanpa banyak bicara, Rafas langsung dibawa menuju penjara bawah tanah dan hukuman berat menanti dirinya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan putriku dari orang jahat, nak” kata Sang Raja kepada Kelana.
“Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit kerajaan, Yang Mulia,”jawabnya.
“Atas keberanian dan kecermatanmu ini, putriku satu-satunya dapat terselamatkan. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mengangkatmu sebagai seorang Ksatria Kerajaan Andala.”
Kelana terkejut mendengarnya dan dengan ragu ia menatap Raja, “terima kasih Yang Mulia,  namun sepertinya hadiah darimu ini berlebihan.”
“Tidak, apa yang sudah kuputuskan tetap akan terlaksana ! Siapkan pria pemberani ini  untuk upacara pengangkatan kstaria besok !” Raja berbalik dan meninggalkan Kelana.
Kedua mata Kelana berbinar mendengar perkataan sang Raja. Iapun dibawa oleh pelayan kerajaan menuju ruangannya yang baru untuk persiapan upacara esok hari.

Saturday, May 2, 2020

#2 : Prajurit Bernama Kelana

Hai ! Sekarang saatnya aku mulai berkisah. Judul Utamanya "Petualangan Kelana", bercerita tentang petualangan seorang Ksatria bernama Kelana untuk menyelamatkan Sang Putri. Dalam setiap harinya, akan ada subjudul seperti yang tertera di atas. Bagi yang ingin mengetahui tulisanku kemarin, bisa dibaca di sini. Hanya sebagai prolog mengenai program #31HariMenulis yang kuikuti sekarang. Oke, selamat membaca ! :D 


***

Pada jaman dahulu, tinggallah seorang pemuda bernama Kelana. Ia tinggal di desa terpencil bersama ibu dan adiknya. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit sehingga ibunya yang adalah pedagang buah harus bekerja keras untuknya dan adiknya.
Beranjak dewasa, Kelana mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan militer yang diadakan kerajaan. Ia mengikutinya dengan semangat membara. Ia bertekad untuk bisa menjaga dan menghidupi keluarganya. Semangat itu kemudian membuahkan hasil dengan diangkatnya Kelana menjadi prajurit kerajaan.
Meski tinggal di dalam kerajaan, Kelana tidak pernah lupa untuk mengirim kabar serta sejumlah uang untuk ibu dan adiknya setiap bulan. Seiring berjalannya waktu, hal itu tidak pernah ia lakukan lagi secara rutin karena kesibukannya bekerja. Ia hanya berkabar dan mengirimkan uang beberapa bulan sekali.
Sebagai seorang prajurit, sebetulnya ia diperbolehkan untuk pulang ke rumah setiap enam bulan sekali. Namun, sejak beberapa tahun belakang peraturan itu dihapuskan karena hilangnya sang Permaisuri secara misterius dari kerajaan. Ada yang mengatakan ia diculik dan dibunuh oleh penyihir jahat, ada pula yang mengatakan ia adalah jelmaan peri dan kembali ke kahyangan. Namun apapun itu, sampai sekarang tidak ditemukan jasad atau sehelai rambut darinya. Sang Raja yang sudah menyerahpun menganggap Permaisurinya sudah meninggal.
Pada suatu hari, Kelana sedang memandikan kudanya, Horsi, di kandang. Kelana selalu melakukannya setiap pagi. Karena kerajaan akan mengadakan kunjungan ke tempat lain di hari itu, Kelana memandikan Horsi jauh lebih awal. Ketika sedang berada di kandang, Kelana melihat dari kejauhan ada pria tak dikenal yang berjalan di koridor, ke arah kamar Putri Mahesa, putri satu-satunya sang Raja.
Kelana yang curiga segera mengambil pedang serta perisai miliknya. Ia meninggalkan Horsi dan berlari menuju kamar Putri Mahesa. Memasuki koridor, ia melihat jejak kaki yang ada di lantai. Ia merasa heran  karena terdapat tanah pada jejak tersebut. Ia lalu mengamatinya dan tetap merasa ada yang janggal. Tanah itu berwarna merah dan tercium bau yang wangi. Kelana yakin bahwa tanah itu bukan dari sekitar kerajaan.
Kelana menyusuri jejak dan berjalan  mengendap-endap di belakang sosok tak dikenal itu. Ia mengikuti dengan hati-hati untuk mengetahui apa yang akan dilakukan olehnya. Ketika tamu tak diundang itu membuka pintu kamar Putri Mahesa, Kelana ikut menyelinap dan bersembunyi di balik pintu.
Tiba-tiba, pria itu mengeluarkan pisau kecil dari saku celana. Ia berjalan ke samping tempat tidur Putri Mahesa. Di sana berbaring sang Putri yang tidur dengan lelap.

Friday, May 1, 2020

#1 : Prolog


Hai ! Setelah berbulan-bulan tidak menulis di blog ini; berkali-kali pula mengingkari janji (pada diri sendiri) untuk menulis minimal satu kali dalam satu bulan; akhirnya aku menemukan motivasi untuk bisa menulis lagi secara rutin. Ya, karena salah satu alasan tidak rutin menulis adalah kurangnya motivasi. Padahal kata youtuber yang juga beat boxer, Laurentius Rando, tips sukses nomor satu menjadi content creator adalah memiliki motivasi. Motivasi ada di nomor teratas, bahkan di atas semua sarana dan prasana yang ada. wOoW !
Motivasi itu tidak turun secara tiba-tiba, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, seakan semua sudah diatur olehNya. Kala itu ketika asyik scrolling timeline twitter, muncul RT-annya kakak kelas SMAku, Mbak Danastri, tentang program #31HariMenulis. Tanpa pikir panjang langsung melihat timeline akun tersebut dan tertarik untuk ikut program ini.
Sebelum memulai program menulis yang rencananya akan dimulai tanggal 1 Mei, aku memikirkan mengenai tulisan apa yang sebaiknya tertuang di sini. Beragam ide muncul. Mulai dari yang adem seperti bersyukur setiap hari hingga hal-hal yang terinspirasi dari film A Serbian Film atau Grotesque. Namun akhirnya aku memutuskan untuk menulis hal lain karena aku merasa kurang suci dan kurang liar. Kalau mengikuti lagu, seperti lagu Iwan Syahman, ,”Yang Sedang-sedang Saja”.
Tulisan pertama ini adalah prolog mengenai cerita yang akan kukisahkan besok. Sedikit bocoran, konsep menulisku adalah cerita bersambung, dengan tidak terlalu banyak kata dalam setiap episodenya. Cerita ini terinspirasi dari mimpiku beberapa bulan lalu dan sudah kukembangkan sendiri. Aku memang memiliki hubungan yang unik dengan mimpi. Beberapa mimpi bahkan menjadi kenyataan dan mewarnai masa krusial dalam hidupku, seperti saat memilih perkuliahan hingga ujian akhir kelulusan. Namun saat ini bukanlah sebuah kisah nyata, hanya fiksi belaka.  
Terkadang setiap malam sebelum memejamkan mata, aku berdoa agar diberi mimpi yang menarik, cerita ini adalah salah satunya. Banyak harapanku dalam program ini, salah satunya semoga yang membaca cerita ini tak bosan, sama seperti aku yang berusaha untuk konstan menulis selama minimal 31 hari dan membuat pembaca betah. Karena menulis dan membaca secara konstan, sama-sama butuh perjuangan. Semangat !

Wednesday, January 1, 2020

Thank You 2019, Next 2020 !

Happy New Year to you all who celebrates it (I bet we all celebrate it, with or without the celebration). On this write, I’d like to thank my 2019. My 2019 is full of anxiety.

First was my internship program.

My internship program was a tunnel with a light in the end. It’s dark, narrow, and stuffy inside. But later walked on the pathway, it would give bright light.  I was super happy to finish my internship. It’s full of tear and joy –but mostly tear-. Remember my write about the Easter ?

 BUT

I was very happy because I could get so many lessons there. God was the best planner ever. Comparing with my friends with other hospitals, mine was incredible. We all got stress, but I learned more than I could imagine. About theory, health measures, and how to make a good relationship with co-workers –that sometimes gave me annoyed-, pretending everything was okay while heart-pounding to keep the emotion stable. It’s okay. Chill. Hahaha..

Whenever internship doctors made mistakes, there were definitive doctors who stand on our back. That was different with my other friends. They were all alone, and hospital could easily blame them for the mistakes. In my hospital, we were treated as internship fellows; we were given a chance to decide, but under supervision, so everything we’d done had to tell the senior doctors. That’s made we were walking on the right path.

Becoming a clinical doctor wasn’t on my agenda before. It’s terrifying just thought about the responsibility I had to take. My internship was spinning it off. Yes, becoming a clinical doctor was a big responsibility, so I was the non-clinical doctor. Everything had their proportion and which one was should be the next step after all these long-term-study ? after  my internship, I thought, It’s my opinion, that whatever I’d chosen, there was should be a clinical job –as a main job or side job- because our family and relatives will ask about their health, and if I didn’t see the patient, how could I give them right education base on patient feeling and values ? remembering that theory could be different from the reality……  and with my internship, I felt more confident than before, to see the patient, in the short term, a clinical doctor.

Second is about non-internship

It’s in general. I learned about love and life. And above all, there is God. I feel grateful because I’ve got some miracles that gave me thought, “WOW”. After finishing my internship program, I didn’t know where to go. There some offerings, becoming a lecturer in the university and becoming an emergency doctor in some hospitals. Actually, I could accept all of them, besides the hospital, I had to choose one hospital, but I felt confused. Then, I chose to be a part-timer at the university while joining some training.

October, just a few days after my repatriation, was my hectic month. I joined two training in a row, one short course, and becoming lecturer both in the university and private class. In the beginning, I felt okay and made sure that I could handle it. Later on, I got sick. I had a fever for three days. I had to realize that I couldn’t do it all by myself. I needed a hand. Luckily, after long searching, I got my junior to help me teaching in a private class.

At the end of my October, my busy month was over. Then I felt gloomy because I hadn’t a job, I pray to God to show me His way, way that I should be in. On the last day of my private class, one of my senior in hospital called me. She asked me to temporary substitute her in a clinic. It’s a coincidence beautifully. This moment just dropping my jaw, how fast God answers my prayer.

Thank you !

Next 2020.

There are a lot of things could be happened. There are many plans to do, and I hope everything will be done as planned.. about job, about love life. I believe that God will give us the best. For example, I didn’t think that my hospital in my internship is the best for me, later on, I opened my eyes and I could say ‘yes, this is the best’. It takes time to know where or what or why He brings me to go, sometimes it takes a long time, sometimes it takes a short time, but mostly I never understand it.
Just believe (reminder for myself).

Thank you 2019 for your lessons, and be ready for 2020 !


Song in the head, to inspire this write :

Thank you next by Ariana Grande

One taught me love
 One taught me patience
 And one taught me pain
 Now, I'm so amazing
 I've loved and I've lost
 But that's not what I see
 So, look what I got
 Look what you taught me
 And for that, I say
Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next
 I'm so fuckin' grateful for my ex (year)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)

Wednesday, July 10, 2019

30 Minutes Challenge

Challenging self : what can you write in 30 minutes ?

Hi folks ! it’s been a long time since I wrote this blog. I do realize that I am not filling my promise to write once a month because of many things that I have to do and today I will start to challenge myself, what can I write in 30 minutes ? 

Let’s talk about dyspepsia

Dyspepsia is an uncomfortable feeling on the upper abdomen. It could be followed by, for example,  nausea, vomitus, and bloated feeling.

Dyspepsia can be caused by many things. Commonly, because of the stomach (gaster) produced too much gasses and acid so it will cause uncomfortable feeling on the upper abdomen (because the anatomy of the gaster/stomach is on the mid-upper-left upper abdomen). Other, it could be because of the organs near the gaster, that has pain transmission on the upper abdomen, such as : heart or the muscle.

Dyspepsia could be one warning symptom to someone with a heart problem, commonly for the elder one. So, if someone who has a history of heart disease, and or they are more than forty years old, it’s important to do electrocardiography (besides other sign and symptom : chest pain)

For young people, dyspepsia commonly because of the stomach/gaster produced too many gasses and acid. There are a few tips to reduce dyspepsia :
1.    Don’t be late to eat
If we are late to eat, the stomach will produce acid, it will irritate the skin of the stomach/mucosa, so it will cause dyspepsia. 
2.    Don’t eat spicy and or sour food
Spicy food has a characteristic to irritate the inner skin, it caused mouth burning, irritate the stomach, and could be irritating anus when you go to the bathroom. Spicy food also produces gasses. And sour food could increasing acid on the stomach
3.    Don’t smoke and drink alcohol
Same with others, smoke and drink can produce acid and gasses on the stomach
4.    Avoid stress  
By stress, the brain will tell sympathetic nerves, so it can cause heartbeat, increasing gasses and acid on the stomach

It sounds hard because all of them don’t do-tips near to us. But for keep being healthy, there will be some sacrifices, isn’t it ?

Okay, I think that’s all. hope we can stay health and be happy !  

Friday, May 3, 2019

Easter

Happy Easter to everyone who celebrates it ! I know it’s too late but better late than never, eh ? now I want to tell you about this year Easter. Actually, I want to post this writing before Easter, but I have a presentation so I didn’t want it’s distracted.. luckily, I could pass that presentation ! Thank God :) I will give some information of it on the next writing ;) okay, happy reading ! :D

To approach Easter, the resurrection of Christ, we did some preparations. We intended to do fasting and abstinence. It’s supposed to open our heart to accept Jesus. On this writing, I will share about my Lent : loving myself (kinda selfish, uh ?)

***

I had hard times at emergency department and March was the worst (until now, and I hope I’m not facing a hard time again). Two examples, a cardiologist got angry with me because I didn't get the right time, time-that-it-should-to-be, to give therapy to a patient. Another, a pulmonologist said I didn’t examine patient appropriately. Well, I’ve done my best for the patient, but I realize there are many limitations.. time management, skill, knowledge, I still learn about it. But yeah, at emergency room there is no space for false, even a little. It’s about a human’s life.

I felt a great fear before on duty at the emergency department and felt sad after that. I was so scared if I did something wrong and I regretted what I’ve done. I felt I was not giving my best to the patient, furthermore to my hospital. I had a paranoid; if I saw a bunch of people talking around, I was sure they are talking bad about me. I felt stupid, useless, and guilty, I was being a burden for others.

One thing that I was sure that I was not okay is when I had a fear or a knife. I could imagine myself cut my hand, and I knew that it was wrong. At this point, at my lowest power and confidence, I just feel that I couldn’t face my internship anymore. But I knew that I was not allowed to do that. I was thinking of how to fix myself. 

One day after another hard day, night shift-in the morning, I went to a health center to meet a psychologist. I just couldn’t take my problem alone, I need help from a professional one. I had a session with her, I felt quite relieved after saying my problem. We had a good share, about life, experience, and we talked many recommended books.

And then I remembered about a book, was recommended by my best friend, Filosofi Teras. It was a few weeks ago, I said to her that I had a stressful moment, and she suggested me to read that book.
At that night, I went to the book store and I was lucky because I could find it. It was placed on the best seller book and a shopkeeper helped me.

For a few days, I was immersed with this book. I was amazed with this book. It was my first time reading a philosophy book, but this written clearly so I could read it easily. By reading this book, I got flashback when I read my favorite book, Kicau Kacau by Indra Herlambang and The Not So Amazing Life of Amrazing by Alexander Thian. I really like a book about a reflection of someone’s experience, I could know about their insight that could be applied to my own life. 

So does this book.  This book is about the writer's experience. First, he told that he should get therapy for his mental health issue. He knew for having a better life was not enough just by consuming medicine and had a session with a therapist. He realized that he had to fix himself by improving his sight about life. At that time, he found a book about Stoicism and started to learn more it more. By writing this book, he wanted to share about Stoicism simply and applicable for other life (comparing to his own life that told been changed after he did Stoicism method).  
And yeah, now I want to share some things that hit my mind :

1.    First, it’s okay to not always have positive thinking
Well, I am not a positive thinker, to be honest. One day I said about the worst part that could be happened on my internsip to my best friend. He said that I shouldn’t have a negative thought.. later, things that we were worried about has come, and it was hit me. I really thankful because I had a thought about it before so I was not drowning into excessive grief, I’ve been warned by myself.. by not-always-had-a positive thinking, I could imagine any possibilities that could be happened, then I prepared myself more.

2.    Second, about trichotomy
There are two things in our life, called dichotomy. First is something that we could afford and the second isn’t. For example, if I have to on duty on ED : I could afford the best decision for the patient but I couldn’t afford about how severity is the patient’s condition. Further, this dichotomy is divided become trichotomy. There is a thing that on the middle, between the dichotomy; it’s a personal goal, include (for example) knowledge. In case I had a patient with multiple diseases, my fear, and guilty (if this patient going worsen) will not as big as if I have a personal goal. I’ve had the knowledge to make the best decision, but I couldn’t afford their life. It’s God privilege.   

3.    Third, we live on today
I define this point by something that happens today is just for today. I feel sad because a senior doctor got angry with me, okay, I was sad for today. I have to chin up my cheek to face another day.
After reading this book, I feel my mood was going better. I decided to know myself more than before, appreciate me, and trying to love myself. I tried to spend less time online on my social media (because I will compare to other then I felt sad again) and I read my favorite books. I felt so much better.

***

Well, that’s my story about Lent. I know that maybe it’s a selfish way, but yeah.. I think if I want to accept God on my heart, I have to prepare myself. And this is my preparation. It’s just like a personage want to come to my house and I have to clean it up, making delicious food, and wear my best clothes. I know my preparation won’t be perfect, but at least I am trying to be a better person, by avoiding some negative thoughts on my head : sad, guilty, and fear.

My Lent this year is really different from others. Mostly I did my abstinence with control my eating habit, it’s both to save money and to restrain myself. But this year I didn’t do it. I need to eat because I have hectic days on the emergency room, I didn’t have to control my eating because I’ve already eaten only two times a day, less snack time nor water. I have to keep healthy so I decided to do this kind of preparation.

I realized that loving myself is not that easy, especially on the end of this Lent, too many temptations by feeling angry, happy, annoyed, and arrogant because of the election’s day. So I came back to open up my social media. It’s a big challenge not to “kepo”-then comparing others with myself –again –then insecurities go back –again.. er..  Keep surviving is way harder than initiating, no ?

***

My Easter was amazing. Thank God ! A little bit disappointed because I felt failed to fulfill my lent.. but one thing that I have to remember (yes, and I am repeating on my write : Blessing in Disguise)
I am loved. God sent people that love me. Isn’t it a beautiful message to love myself ? while I’m struggling to love myself, people around me have loved me :) You are amazing, God..

A message from and for myself :

I’m still learning to be a better person. Lent and Easter are the beginning but the struggling will last forever ~ God will lead me.

Thank guys to read my post. Happy Easter to everyone who celebrates it. Don’t forget to love yourself !! xoxo

Friday, March 15, 2019

American Horror Story season 8 : Apocalypse; a Review

Hi guys ! Welcome to another review. Today, I will give my little review about American Horror Story (AHS) season 8. I’ve made the previous season’s review here.

I’ve watched this season a few weeks ago and I finished it on 2 days. LOL. Not as fast as season 7, tho.. but still made me had a “forgiving headache” because I saw the screen for some hours without resting. Hahaha.. but I enjoyed it. So, it’s forgiven.

I will make this review just as the previous season, but I will not compare this season into another season (the comparison I wrote on the previous review). There are three components here: character, story, and the horror itself. 

First, character.
OH, DAMN ! How I love Cody Fern as Michael Langdon ! He’s just too way perfect for being Satan’s son.  He is the main character here and he did it gorgeously. He is the star. That’s it. I got obsessed with him after this season because he’s very stunning <3 and many people think the same tho.. hahaha !! it’s not only me..  well, for some photos of Cody, he’s like Benedict Cumberbatch.. I imagine he becomes the next Sherlock Holmes .. :’) (yea, I’ve read an article said that Benedict will stop playing Sherlock).

Another character, let’s say Cordelia (YASSS, she’s here babyy), is just as good as she was meant to be. Not surprisingly, because she is Sarah Paulson, one of the main souls of AHS, besides Evan Peter, Emma Roberts, and so on. One character that made me surprise is, we’re welcoming (again) the queen, Jessica Lange ! she didn’t show up since season 5, and she made her come back at this season, even not as the main character. but still… :’) you’re still gorgeous, lady !

Maybe if you first watch this season, you will get confused because there are many talents that had more than one characters. Let’s say, Evan Peters and Sarah Paulson, they had four and three characters here, as far as I remember. And each character didn’t have connected at all. 

Second, story.
Things that you should do if you want to watch this season, go back to see season three and one first.  If you don’t watch these two seasons previously, maybe you will get confused. But if you had watched it, I bet you will be screaming because of AHS parallel’s universe (or it is just me ?). There are many characters from the previous season, so go watch it first. 

As I said before, the story on season 8 is so related to season one and three. Almost half of this story is about season 3, tho..  but I really love this season. It gave many explanations that still make confused at previous season and I appreciate Ryan Murphy (or whoever they are) that could make a very good connection, especially between season one and three. 

This season is about an Antichrist, a Satan’s son, who wants to destroy the world so that the world can be reborn into his hand. On the other side, the witches (they come from Coven, AHS season three), want to against him to take over the world. I really think that the story stays on the line, there are no additional things that could make the story too complicated. 

One thing that made me a little bit unsatisfying is when I reached the last episode. I thought that it just too fast, just like it imposed to be done. As my friend thought, “He is the son of Satan, why he can die easily just like that ?” yea, we were wondering something more than that. Huehehe..

Third, the horror itself.
It’s different from season seven. Season seven gave us the real horror because it can easily found on our life and it’s related to the politic condition in the world. This season is more fiction, but we can feel the terror just right. It’s not like season two or four that really sadistic, bloody, and inhumanity. Well, we can feel them, but at a sufficient level.

The fact, I was waiting for AHS to make a story about (Church of) Satan. I really like this issue, but maybe this story is focused on Michael Langdon as a Satan’s son, so about the cult or group itself isn’t much. I was talking about it on AHS season 7, I really thought that Cult (the main theme on AHS season 7) will about Church of Satan, but I was definitely wrong.  

Okay, I think that’s all about a little review of American Horror Story season 8. The conclusion is, I really love this season. It’s one of the best seasons I’ve ever watched. 

Moral of the story ? (again, it’s too naïve) well, never thought that witches will against Antichrist. Maybe other films show that witch and Antichrist were on the same side, but this season is different. No, it’s not talking about God or Christ, but humanity. How the witches want to save people all over the world, they didn’t like about doomsday. And I really love the witches that stand for that  <3

Thank you for reading my post ! Have a nice day :D




Cody Fern as a Michael Langdon


Young Michael Langdon (also played by Cody Fern) 
*could you imagine him with a long coat, a hat, and a cigarette pipe as Shelock Holmes did ?  



Saturday, February 16, 2019

Persahabatan Kura-kura dan Merpati

Hi guys ! i've written a little story about a turtle and a pigeon's friendship. I've joined some writing contests, and you know, as usual, i failed. Hahhaha.. never mind tho.. This is one of many stories i've joined. Enjoy ! :D

***

Alkisah, terdapat seekor kura-kura yang hidup sendirian di hutan lebat. Ia adalah kura-kura mungil yang suka membaca buku untuk mengisi waktu luangnya. Karena hobinya itu, banyak penghuni hutan yang memberi julukan ‘si kutu buku’ kepada sang kura-kura.
Pada suatu siang, datanglah seekor merpati menghampirinya.

“Hei kawan. Lihatlah hari ini sangat cerah. Mengapa tak kau gunakan waktumu untuk bermain ?” tanya merpati.

“Kawan, aku dari tadi sudah cukup lelah berjalan untuk mencari makanan. Sekarang aku ingin beristirahat dengan membaca buku,” jawabnya.

“Ya, aku sering melihatmu membaca. Apa yang kamu dapatkan dengan buku-bukumu itu ?” tanya merpati.

“Kawan, aku hanyalah hewan mungil yang memiliki keterbatasan, padahal aku sangat ingin melihat dunia luar. Dengan membaca buku, paling tidak aku mengetahui keindahan alam dengan cara yang sangat sederhana, yaitu membayangkannya. Kau pasti bahagia bisa terbang bebas ke manapun ya kawan,” jawab kura-kura.

“Ya kawan. Aku bersyukur dapat terbang ke sana ke mari. Namun pengetahuanku tentang dunia luar mungkin tidak sebanyak dirimu karena aku tidak bisa membaca buku,” kata merpati.

“Mungkin kita bisa saling bertukar informasi tentang itu. Aku akan memberi tahu apa yang ada di buku dan kau akan menceritakan kepadaku tentang apa yang sebenarnya kau lihat di luar sana,” kura-kura memberi ide.

“Wah, ide yang sangat bagus kawan ! Aku sangat menyetujuinya !” jawab merpati kegirangan.

Begitulah awal mula persahabatan sang kura-kura dan merpati. Mereka saling bertukar cerita dari apa yang diketahui masing-masing, kura-kura dari bukunya dan merpati dari pengalaman terbangnya.
Suatu hari, merpati berkata kepada kura-kura bahwa besok sore ia harus pergi ke hutan seberang untuk mencari makanan bersama kawanannnya. Ketika mengetahui akan hal itu, sang kura-kura berkata,

“Ya, kawan. Berhati-hatilah untuk perjalanan besok. Namun kurasa aku perlu memberitahukanmu mengenai beberapa jenis pohon supaya kau lebih waspada dalam memilih makanan karena tidak semua buah atau biji baik untuk dimakan. Aku baru saja menyelesaikan bacaanku tentang tanaman.”

“Baik sekali kawan ! Aku akan mendengarkannya !” merpati kegirangan.

Sore itu mereka berdua berbincang mengenai berbagai jenis tanaman. Merpati mendengarkan dengan penuh semangat.

Keesokan harinya, merpati dan kawanannya siap pergi ke hutan seberang untuk mencari makanan. Setelah terbang beberapa saat, mereka singgah di sebuah pohon untuk beristirahat. Pohon tersebut tidak terlalu tinggi namun sangat menarik perhatian karena  berbuah lebat dan berwarna oranye yang indah. Merekapun tergiur untuk menyantap buah yang ada di pohon tersebut.

Akan tetapi, merpati sahabat kura-kura melihat ada yang aneh dengan buah tersebut. Buah itu memiliki bau yang sangat khas. Ia pun teringat akan perkataan sahabatnya mengenai buah yang berbahaya untuk dimakan. Segera merpati kemudian mengingatkan teman-temannya,

“Hei! Kurasa buah ini tidak baik untuk kita makan. Meski berbuah lebat dan warnanya menarik, namun ia memiliki bau yang sangat tidak enak. Kurasa kita harus berhati-hati dengan buahnya !” seru merpati sahabat kura-kura.

Kawanan tersebut tidak memedulikan perkataan merpati. Mereka tetap saja memakan buah yang ada di pohon tersebut. Tiba-tiba, pimpinan kawanan merpati terkapar dan mulai muntah-muntah setelah memakan buah itu. Merpati sahabat kura-kura pun berkata,

“Mari kita bawa dia kepada sahabatku, kura-kura. Dia pasti bisa memberikan ramuan khusus untuk pimpinan kita !”

Segera mereka membawanya kepada kura-kura. Kura-kura yang saat itu sedang membaca bukunya di pinggir sungai, terkejut dengan kedatangan tamu yang banyak.

“Kura-kura sahabatku, tolonglah pimpinan kawanan kami ! Ia memakan buah yang beracun, seperti yang engkau katakan padaku kemarin. Saat ini dia sedang sakit dan kami tidak tahu apa yang harus dilakukan,” merpati tersebut menjelaskan.

“Baiklah kawan, ambillah tanaman berbunga putih yang ada di ujung  utara hutan, sementara yang lain ambilah kelapa di seberang sungai,” kata kura-kura.

Mereka langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh kura-kura. Setelah bahan terkumpul, kura-kura itu kemudian meracik ramuan dan memberikannya kepada sang pimpinan kawanan merpati. Iapun langsung membaik dan kembali sehat.

“Terima kasih banyak kura-kura. Sungguh, ilmumu sangat berguna bagi kami dan bahkan menyelamatkan hidupku. Baiklah mulai sekarang kita harus banyak belajar dari sang kura-kura. Maukah kau mengajari kami untuk membaca dan belajar ?” tanya pimpinan merpati.

“Tentu, dengan senang hati,” kura-kura gembira.


Sejak saat itu, kura-kura rajin mengajari kawanan merpati mengenai banyak hal. Merekapun bersemangat untuk belajar. Lambat laun, hewan-hewan lain pun ikut belajar bersama dan kura-kura menjadi orang yang dihormati di hutan tersebut. 

Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...