Friday, May 8, 2020

#8 : Peristiwa Masa Lalu


Hai ! Berjumpa lagi. Sedikit cerita, terima kasih untuk semua yang sudah tergerak untuk membantu dalam rangka COVID-19 ini, misalnya dengan pemberian APD untuk tenaga medis. Kemarin klinik tempatku bekerja mendapat jatah pembagian baju hazmat, sarung tangan, dan hand sanitizer yang berasal dari RS terdekat, di mana RS tersebut juga mendapat sumbangan yang cukup banyak dan diminta untuk membantu pendistribusiannya. Terima kasih !
            Sekarang kita lanjutkan dongeng “Petualangan Kelana” ini. Dongeng ini menceritakan tentang seorang prajurit bernama Kelana (#2). Suatu hari ia melihat ada seorang asing yang berusaha masuk ke kamar Putri Mahesa, Putri Sang Raja. Kelana berhasil menangkap orang tersebut, yang diketahui bernama Rafas, sang penyihir jahat (#3). Atas keberaniannya, Kelana hendak diangkat menjadi seorang Ksatria Kerajaan.
            Putri Mahesa mengucapkan terima kasih kepada Kelana. Pada saat yang bersamaan, Kelana berbohong mengenai keadaan keluarganya (#4) dan Putri Mahesa menceritakan kisah mengenai hilangnya Sang Ibu (#5). Ibunya meninggalkannya pada saat kondisi kerajaan sungguh mencekam dan menakutkan, meskipun setelah kepergiannya kondisi kerajaan tersebut membaik dan mereka percaya itulah pengorbanan dari Permaisuri.
            Ketika hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke kerajaan (#6) dan secara tiba-tiba, Rafas kembali datang mengacaukan istana. Ia pun menyihir Putri Mahesa hingga tidak sadarka diri dan mengaku bahwa ialah yang membunuh Sang Permaisuri, ibu Putri Mahesa (#7).
***

Cerita berlanjut dengan Rafas mengungkapkan kejadian lima tahun yang lalu.
Permaisuri keluar rumah malam itu, malam di mana keadaan Kerajaan Andala diselimuti oleh kekuatan jahat yang membuat seluruh warga ketakutan. Ia meninggalkan Putri Mahesa, anaknya, dan dengan mengendarai kudanya menuju ke sebuah tempat yang bernama Tebing Tanah Merah. Tempat tersebut dijuluki Tebing Tanah Merah karena terletak di sebuah tebing yang curam dan  tanah di sana berwarna  merah serta memiliki bau yang menyengat (note : tanah ini sama dengan tanah yang ada di jejak kaki Rafas, #2).
Sesampainya di sana, ia disambut oleh penyihir jahat, Rafas.
“Ah, ada tamu istimewa yang datang rupanya,” katanya.
“Aku tahu ini perbuatanmu, Rafas. Tarik sihirmu dan kembalikan kerajaanku ! Kami tidak pernah mengganggumu !” kata Sang Permaisuri.
“Hahaha.. aku akan melakukannya dengan senang hati, Nyonya. Dengan syarat kerajaan itu menjadi milikku !” Rafas mengangkat tongkatnya dan petir menyambar dengan keras.
            Permaisuri pun langsung berlari menuju ke arah Rafas dan segera ia berusaha mengambil tongkatnya. Rafas yang terkejut langsung terdorong ke ujung tebing tersebut. Mereka berdua terlibat dalam perebutan tongkat sihir yang ada di tangan Rafas. Tak lama, Permaisuri berhasil merebut tongkat tersebut namun dalam waktu yang bersamaan, Rafas mendorongnya jatuh dari atas tebing.
            Mendengar cerita Rafas tersebut, seluruh istana hening. Sang Raja tak kuasa untuk berdiri dan kemudian terjatuh. Para pelayan kerajaan langsung mendudukannya di kursi singgasana.
“Bebaskan Sang Putri ! Bunuhlah aku tapi jangan anak Raja ! Kau sudah merenggut istrinya dan sekarang anaknya” kata salah seorang Kstaria memohon.
“Baiklah aku akan bermurah hati kepadamu. Aku akan memberi waktu satu minggu bagi kalian untuk bisa membuat Putri Mahesa terbangun. Namun apabila dalam waktu yang kuberikan itu, ia masih tidak bisa tersadar, ia akan tidur selama-lamanya ! Kecuali.. kau menyerahkan kerajaan ini padaku. Hahaha,” lanjut Rafas, “gunakan waktumu dengan baik !”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rafas langsung menghilang dari pandangan semua orang. Yang tersisa hanyalah jam pasir yang menunjukkan waktu yang diberikan oleh Rafas.

Thursday, May 7, 2020

#7 : Kemunculan Rafas


Hai ! Selamat Hari Raya Waisak bagi teman-teman yang merayakan :D
Javasiddhi bhavantu te (semoga semua senantiasa diberikan keberhasilan).
Hari ini seperti biasa, di jam yang sama, aku akan melanjutkan cerita “Petualangan Kelana”. Sedikit ulasan, cerita ini mengisahkan seorang prajurit bernama Kelana (#2). Suatu hari, ia berhasil menggagalkan rencana Rafas, tokoh antagonis, untuk melukai Putri Mahesa, Putri satu-satunya sang Raja (#3) dan atas keberhasilannya itu, ia akan dilantik menjadi ksatria kerajaan. Kala sedang berbincang dengan Putri Mahesa, Kelana berbohong mengenai kondisi keluarganya (#4) dan sang Putri pun bercerita mengenai masa di  mana ibunya menghilang 5 tahun yang lalu (#5). Ketika hari pelantikan tiba, Kelana mengusir adiknya yang datang ke istana (#6).
***

Upacara pelantikan pun dimulai dengan meriah. Para ksatria berdiri di depan menghadap Sang Raja dan Putri Mahesa. Di sampingnya ada seorang ksatria senior yang membawa baki berisi lencana untuk disematkan di dada Kelana dan kawan-kawan. Di belakang mereka prajurit berdiri dengan gagah dan rapi. Di luar ruangan terdapat warga yang siap untuk menyambut para pahlawan baru kerajaan. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat penting di sana sehingga dibuat dengan amat meriah.
Satu per satu lencana disematkan di dada para ksatria oleh Raja hingga sampailah pada giliran Kelana. Sesaat setelah ia menyematkan lencana, tiba-tiba terdengar gemuruh dari atas. Langit menjadi gelap dan teriakan warga menambah suasana mencekam di sana. Seluruh istana bergetar seperti terkena gempa yang dahsyat. Mereka langsung mengamankan Raja dan Putri Mahesa.
Di tengah-tengah kegemparan tersebut, pintu utama terbuka. Mereka semua terkejut karena Rafas, sang penjahat sudah berada di sana. Ia mengenakan jubah berwarna hitam. Wajahnya yang lonjong, dengan pipi yang seakan tidak berisi, dan deretan gigi tajamnya menyeringai lebar membuatnya  menjadi semakin seram. Di tangannya terdapat tongkat disertai  patung tengkorak kecil di atasnya dengan bola mata dari batu zamrud warna hitam yang menyala.
“Hahaha… kalian pasti terkejut dengan kedatanganku !” teriaknya.
“Bagaimana bisa ? kami sudah menangkapmu !” kata Raja.
“Kalian lupa, akulah Rafas. Raja kejahatan, penyihir dalam kegelapan. Aku akan membalas dendam kepada kalian yang sudah menangkapku, terutama kau ! Hahaha.. ” katanya sambil menunjuk Kelana.
Kelana langsung berlari ke arah Rafas, namun ia langsung terdorong sebelum berhasil menyentuhnya. Tawa Rafas menggelegar ke seisi ruangan. Rafas pun mengangkat tongkat yang ada di tangan kanannya. Tampak mata pada batu zamrud tengkorak itu menyala berwana merah.
Semua ksatria berusaha untuk menjatuhkannya namun Rafas membentengi dirinya dengan kekuatan sihir yang ada pada tongkatnya.
"Kalian salah sangka bisa menangkap orang hebat sepertiku” kata Rafas, “lihatlah sekarang  tidak ada yang bisa menyentuhku !”
“Apa yang akan kamu lakukan, hai orang jahat ?” teriak sang raja.
“Tentu saja aku ingin menguasai kerajaan ini ! kemarin aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, rambut putri Mahesa ! dengan kekuatan sihirku, dia akan tertidur dan tidak akan bisa bangun lagi !” Rafas mengeluarkan sehelai rambut dan kemudian mengayunkan tongkat itu. Tak lama, Putri Mahesa tergeletak di lantai.
“Putri !” teriak Kelana sambil menghampiri Putri Mahesa. Ia menggoncang-goncangkan tubuh Putri Mahesa namun sang Putri tetap tidak membuka matanya.
“Sstt.. ia sedang tertidur pulas. Hahaha..” Rafas tertawa, “Ia akan tertidur selama-lamanya bila kalian tidak memenuhi perintahku. Dia sungguh lemah, seperti ibunya.”
“Jahanam ! apa yang telah kau perbuat pada istriku ?” teriak Raja.
“Ia sudah mati di tanganku. Ini karena kesalahannya menghalangiku untuk mendapatkan kerajaan ini !” Rafas berteriak, petir menyambar dengan kencang.

Wednesday, May 6, 2020

#6 : Kelana Mengusir Adiknya


Hai ! Bagaimana kabarmu ? Semoga semua dalam keadaan sehat-sehat ya. Sekedar pemberitahuan, hari ini mulai ditetapkan Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, dan Bantul sebagai zona transmisi lokal penyebaran COVID-19. Untuk yang di daerah tersebut, mohon lebih berhati-hati, di mana pun jaga kesehatan dan kebersihan. Semangat untuk kita, kita pasti bisa melalui ini semua *peluk virtual.
Sekarang seperti biasa akan ada sedikit cerita mengenai kisah kemarin. Judul utama dongeng ini adalah “Petualangan Kelana”. Bercerita mengenai seorang prajurit bernama Kelana yang melihat adanya orang asing berusaha masuk ke dalam kamar Putri Mahesa, putri Raja (#2). Ia berhasil menghalau sang penjahat, Rafas, untuk melukai Sang Putri (#3). Karenanya, Kelana akan ditunjuk menjadi seorang Kstaria kerajaan.
Ketika berbincang dengan Putri Mahesa, Kelana berbohong  mengenai keadaan keluarganya. Ia mengatakan keluarganya adalah bangsawan namun gugur dalam tugas (#4). Putri Mahesa pun bercerita pula mengenai kisah ibunya yang menghilang 5 tahun yang lalu (#5)
***

Keesokan harinya, Kelana keluar dari kamarnya dan terkejut melihat kemegahan istana. Istana sudah dihiasi dengan amat indah. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut tempat. Pilar-pilar besar diselimuti oleh pita merah yang menawan, sedangkan di langit-langit tergantung hiasan berbentuk bunga yang nenambah kekaguman.
Memasuki ruang tengah, Kelana melihat keramaian di sekitarnya. Ruangan itu sangat besar dan mampu menampung ratusan orang sekaligus. Ruangan itu pun tidak luput dari hiasan mewah dan megah. tampak para calon Ksatria sudah berada di sana didampingi oleh keluarganya. Mereka tampak bahagia, para orang tua tampak bangga dengan anak-anaknya yang sebentar lagi dikukuhkan menjadi Ksatria istana. Sedangkan Kelana berdiri seorang diri, tanpa ada satu orangpun yang ada di sampingnya. 
“Hai, Kelana. Emm.. maafkan tentang kemarin. Aku tidak tahan untuk menceritakannya kepadamu dan malah membuat suasana tidak nyaman,” Putri Mahesa menyapanya tiba-tiba.
“Tidak apa-apa, Putri,” jawab Kelana sambil tersenyum.
“ Ada apakah pada dirimu ? kamu tampak tegang, “Putri Mahesa memandangi wajahnya.
“Oh, Putri. Iya. Ini adalah hari terbesar dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjalaninya dengan baik….” jawab Kelana.
“Aku percaya kamu pasti bisa menjalaninya dengan baik.”
Mereka sedang asyik berbincang ketika salah seorang pelayan istana memanggil Kelana dan mengatakan bahwa ada orang yang ingin menemuinya. Kelana terkejut melihat ternyata orang yang ingin bertemu dengannya adalah adiknya, Kirana. Ia menggunakan baju berwana putih yang sudah tampak usang dengan beberapa robekan kecil di sisi kanan dan kirinya. Rambutnya hitam panjang terurai dengan kulit coklat kehitaman karena terbakar matahari. Ia sudah beranjak remaja saat ini, sejak delapan tahun yang lalu Kelana meninggalkan keluarganya.
Kelana hanya bisa diam mematung melihat sosok di depannya. Tak lama, Kelana langsung membuang muka dan  berkata,
“Pergilah. Aku tidak tahu siapa dirimu.”
“Dia mengatakan bahwa dia adalah keluargamu, Tuan,” kata pelayan itu.
“Aku tidak punya keluarga, ayah dan ibuku sudah lama meninggal dan aku adalah anak satu-satunya,” jawab.
Perempuan itu lalu dibawa keluar oleh sang pelayan. Iapun berteriak,
“Kak !” namun pelayan itu segera menariknya keluar. Perempuan itu hanya bisa menatap Kelana dengan sedih. Kelana sempat beradu pandang dengannya, namun ia segera pergi sambil memalingkan wajahnya.


Tuesday, May 5, 2020

#5 : Menghilangnya Sang Permaisuri


Hai ! Masih dalam suasana duka atas kepergian The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot, ke rumah Bapa di surga. Semoga beliau diterima di sisiNya dan keluarga serta kerabat serta siapapun yang merasa kehilangan diberi kekuatan dan ketabahan. Ingat pesan beliau di twitter tahun 2019 :
Sing uwis ya uwis. Lara ati oleh, ning tetap kerja lho ya, Sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu
:’)
Dalam tema kehilangan, saat ini kita akan lanjutkan dongeng “Petualangan Kelana”. Hari ini akan menceritakan  hilangnya Sang Permaisuri - istri Raja, ibu Putri Mahesa- beberapa tahun yang lalu. Untuk cerita sebelumnya :
#1 : ini prolog #31HariMenulis
#2 : perkenalan tokoh utama, Kelana yang awalnya adalah seorang prajurit kerajaan Andala.
#3 : bertemunya dengan sang antagonis, Rafas yang berusaha melukai Putri Mahesa namun berhasil digagalkan oleh Kelana. Karenanya, ia akan diangkat menjadi Ksatria
#4 : Kelana yang berbohong kepada Putri Mahesa mengenai masa lalunya, ia bercerita keluarganya berasal dari kalangan bangsawan.
Selamat membaca !
***

Perbincangan mereka berlanjut mengenai masa lalu Putri Mahesa yang kehilangan ibunya.
Sekitar 5 tahun yang lalu, kala itu Putri Mahesa berumur 20 tahun, terjadi sebuah kejadian yang aneh. Selama beberapa minggu terakhir pada masa itu, Kearajaan Andala seperti diselimuti oleh kekuatan jahat yang membuat langit menjadi hitam gelap, setiap hari bagaikan malam; tanpa adanya sinar matahari, bulan, atau bintang sedikitpun
Ombak di laut tiba-tiba naik, warga pesisir sangat khawatir bila terjadi bencana tsunami. Ditambah hujan turun dengan deras disertai petir menyambar keras, angin menderu kencang. Segala aktivitas terhenti. Seluruh warga sangat ketakutan akan adanya fenomena alam itu. Tidak ada yang berani untuk keluar rumah.
Ketika itu hari masih sore, cahaya kilat menyambar membuat penerangan dalam istana mati. Putri Mahesa yang ketakutan keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan. Saat sedang berjalan, ia melihat ibunya terburu-buru berjalan menyusuri koridor.
“Ibu mau ke mana ?” tanya Mahesa.
Sang permaisuri menghentikan langkahnya dan segera memeluk Mahesa.
“Tidurlah lagi anakku,” Permaisuri menjawab.
Ditemani oleh Sang Ibu. Putri Mahesa diminta berbaring di tempat tidur dan ketika Mahesa mulai terlelap, ia mengendap-endap keluar dari kamar. Saat hendak membuka pintu, Mahesa berkata,
“Jangan pergi bu..”
Ia menoleh sebentar, sambil tersenyum melenggang keluar kamar. Sejak saat itulah Sang Permaisuri menghilang dan tidak pernah kembali. hingga saat ini.
Hal yang mengejutkan terjadi setelah kepergiannya. Mendadak seluruh keadaan alam di Kerajaan Andala menjadi tenang. Tidak ada lagi langit gelap mencekam,  ombak yang meninggi, angin kencang, maupun petir. Bahkan panen rakyat lebih banyak dan lebih bagus dari sebelumnya. Semua orang, termasuk raja dan putrinya, percaya bahwa Sang Permaisuri mengorbankan diri untuk keselamatan kerajaan. Meskipun demikian, Putri Mahesa selalu merasa ibunya selalu ada di dekatnya.
Setelah menceritakan hal itu, Putri Mahesa menitikkan air mata,katanya
“aku tidak memiliki kekuatan untuk mengahalau ibuku pergi saat itu. Badanku seperti menempel pada tempat tidur, ada kekuatan untuk menahanku dan membuat aku terlelap. Sungguh, bila kutahu itu adalah hari terakhir aku bertemu ibuku, aku pasti akan.. “ ia tak kuasa meneruskan kalimatnya, “aku pamit dulu..” Putri Mahesa kemudian langsung keluar kamar dan Kelana hanya bisa duduk terdiam.
Satu sisi ia merasa prihatin dengan masa lalu Putri Mahesa, namun sisi lain ia merasa bersalah sudah berbohong kepadan. Ia tidak ingin dipandang rendah dan merasa malu terhadap kondisi yang sebenarnya. Kelana hanya berdiam diri di kamar sepanjang hari.

Monday, May 4, 2020

#4 : Kebohongan Kelana


Hai, bertemu lagi ! Langsung saja kita teruskan ceritanya. Sebelum itu, bila ingin membaca prolog, mengenai latar belakang penulisan #31HariMenulis, bisa klik ini. Kemudian seperti biasa, aku akan menceritakan ulang kisah kemarin.
Judul utama dongeng ini adalah “Petualangan Kelana”, menceritakan kisah penyelamatan seorang Putri kerajaan oleh Kstaria. Pada #2 dikisahkan mengenai seorang prajurit yang bernama Kelana. Ia melihat ada seorang asing yang berusaha masuk ke dalam kamar Putri Mahesa, putri Sang Raja. Pada  #3 diketahui bahwa orang asing itu adalah Rafas, yang ada pembunuh, pencuri, dan perampok yang meresahkan warga. Atas kehebatan Kelana mencegah Rafas melukai Putri Mahesa, ia akan diangkat menjadi seorang Ksatria.
***

Begitulah awal mula perjalanan Kelana menjadi seorang Ksatria dan besok pagi adalah hari pelantikan para Ksatria baru, di mana Kelana menjadi satu diantaranya. Ia memasuki kamar barunya yang megah. Ia melihat dirinya di depan cermin. Pakaian yang ia gunakan sudah bukan seragam lusuh lagi, melainkan dihiasi jubah dan beberapa lencana tersemat di bajunya. Ia sangat bangga dengan dirinya menggunakan baju kebesaran itu. Jubah dan lencananya sangat pas pada tubuhnya yang gagah dan perkasa. Tidak lama, pintu kamarnya diketuk dan ternyata suara itu berasal dari Putri Mahesa.
“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, emm.. siapa namamu ?” katanya, “kau sudah menyelamatkanku, tapi aku belum berkenalan secara langsung..”
“Nama saya Kelana, Tuan Putri. Tidak apa-apa. Sudah sering saya katakan bahwa inilah tugas saya” jawab Kelana.
“Kelana… nama yang indah..,” pipi Putri Mahesa merona, “aku Mahesa. Bila tidak ada dirimu, Kelana, entah apa yang terjadi padaku,” Putri Mahesa tersipu. “besok adalah hari pengangkatan jabatanmu. Perlukah kami memanggil keluargamu ?” lanjutnya, “aku ingin bertemu dengan mereka. Mereka pasti orang yang hebat sehingga bisa memiliki anak sepertimu.”
Kelana cukup terkejut dengan tawaran Putri Mahesa. Tiba-tiba ia teringat akan ibu dan adiknya yang sudah lama tidak berkabar dengannya. Terjadi dilema dalam hati Kelana, apakah ia akan mengundang keluarganya datang ke istana ? bila hal itu dilakukan, tentu kerajaan, terlebih Putri Mahesa, akan kehilangan simpati pada dirinya. Adalah hal yang memalukan bila seorang Ksatria bukanlah dari kalangan bangsawan, melainkan dari keluarga orang miskin. Kelana merasa harga dirinya akan jatuh ketika orang-orang mengetahui asal usulnya.
“Aku tidak memiliki keluarga, Putri. Ayahku dahulu adalah seorang panglima dari negeri seberang, ibuku sudah lama meninggal karena melahirkanku. Tidak lama, ayahku gugur di medan perang sehingga aku berkelana dan hanya tinggal seorang diri di sini,” jawab Kelana.
“Ah, maafkan aku.. aku tidak bermaksud …” ucap Putri Mahesa sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, Putri,” jawab Kelana.
“Aku juga mengerti rasanya kehilangan. Ibuku menghilang begitu saja. Meninggalkanku dan ayahku berdua di sini..”

Sunday, May 3, 2020

#3 : Pertemuan dengan Rafas


Hai ! Jumpa lagi di jam dan blog yang sama. Bagaimana kabarmu ? Semoga tetap sehat, semangat, dan senantiasa diberkati Tuhan. Sebelumnya aku ingin minta maaf karena font tulisanku tidak rapi. Aku sudah berusaha merapikannya namun belum berhasil *huft
Baiklah, saatnya melanjutkan dongeng berjudul "Petualangan Kelana" ini. Sebagai rangkuman, kemarin kita sudah sampai pada perkenalan pria bernama Kelana, yang adalah prajurit kerajaan. Suatu hari, ia melihat seorang pria tak dikenal menuju ke kamar Putri Mahesa, putri satu-satunya sang Raja (lebih lengkap silakan baca di sini). Selamat membaca ! :D

***

Kelana langsung menyergap pria itu dari belakang tanpa pikir panjang. Ia mendorongnya menjauhi Sang Putri yang sedang tertidur. Pria itu jatuh terbentur tembok. Putri Mahesa pun terbangun mendengar keributan yang terjadi.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” teriak Putri Mahesa.
“Maaf mengganggu tidurmu, Putri. Namun pria ini menyelinap masuk dan mengeluarkan pisau dari celananya, “ jawab Kelana.
Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit dan berusaha menyerang Kelana dengan pisau yang dimilikinya. Kelana melindungi dirinya dengan perisai serambi memegang tangan Putri Mahesa.
“Berlindunglah di balik tubuhku, Putri. Kau akan aman,” kata Kelana.
Putri Mahesa berlindung di balik tubuh gagah Kelana. Kelana melepas pedang dari sarungnya dan dengan perisai ia mendorong pria itu. Kelana mengarahkan pedang ke tubuhnya dan menyudutkannya di pojok kamar, membuatnya tidak bisa berkutik.
“Kau sudah tersudut ! Berbaliklah menghadap ke dinding dan jatuhkan pisau itu atau aku akan menusukkan pedang ini ke tubuhmu !” ancam Kelana.
Pria itu membalikkan badannya dan menjatuhkan pisau yang ada di tangannya. Kelana perlahan menghampirinya,  mengikat kedua tangannya dan menggiringnya keluar kamar. Sekilas ia tampak seperti warga biasa. Pakaiannya warna coklat dengan celana berwarna putih yang sudah kotor, wajahnya pun ditutupi kain dari hidung ke bawah sehingga tidak terlihat wajahnya. Entah bagaimana ia bisa melewati penjagaan di istana hingga bisa sampai ke kamar Sang Putri.
Putri Mahesa mengikuti mereka dari belakang. Pria itu dibawa menuju Sang Raja.
“Siapa kau dan apa yang akan kau lakukan kepada putriku ?” tanya sang raja.
Ia membuka penutup wajahnya, tersenyum. Tampak pipinya yang tirus dengan kulit kecoklatan. Iapun berkata,“aku adalah Rafas.”
Mendengar nama itu, seisi istana terkejut. Rafas adalah seorang penjahat yang amat  terkenal di sana. Ia adalah pembunuh, pencuri, dan perampok yang ulung.  Sudah lama ia menjadi buronan namun selalu berhasil melarikan diri, bahkan tidak ada yang bisa mengetahui wajahnya, sekalipun para prajurit dan penjaga keamanan kerajaan. Namun kali ini ia berhasil ditangkap oleh Kelana saat hendak melukai sang Putri.
Tanpa banyak bicara, Rafas langsung dibawa menuju penjara bawah tanah dan hukuman berat menanti dirinya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan putriku dari orang jahat, nak” kata Sang Raja kepada Kelana.
“Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit kerajaan, Yang Mulia,”jawabnya.
“Atas keberanian dan kecermatanmu ini, putriku satu-satunya dapat terselamatkan. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mengangkatmu sebagai seorang Ksatria Kerajaan Andala.”
Kelana terkejut mendengarnya dan dengan ragu ia menatap Raja, “terima kasih Yang Mulia,  namun sepertinya hadiah darimu ini berlebihan.”
“Tidak, apa yang sudah kuputuskan tetap akan terlaksana ! Siapkan pria pemberani ini  untuk upacara pengangkatan kstaria besok !” Raja berbalik dan meninggalkan Kelana.
Kedua mata Kelana berbinar mendengar perkataan sang Raja. Iapun dibawa oleh pelayan kerajaan menuju ruangannya yang baru untuk persiapan upacara esok hari.

Saturday, May 2, 2020

#2 : Prajurit Bernama Kelana

Hai ! Sekarang saatnya aku mulai berkisah. Judul Utamanya "Petualangan Kelana", bercerita tentang petualangan seorang Ksatria bernama Kelana untuk menyelamatkan Sang Putri. Dalam setiap harinya, akan ada subjudul seperti yang tertera di atas. Bagi yang ingin mengetahui tulisanku kemarin, bisa dibaca di sini. Hanya sebagai prolog mengenai program #31HariMenulis yang kuikuti sekarang. Oke, selamat membaca ! :D 


***

Pada jaman dahulu, tinggallah seorang pemuda bernama Kelana. Ia tinggal di desa terpencil bersama ibu dan adiknya. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit sehingga ibunya yang adalah pedagang buah harus bekerja keras untuknya dan adiknya.
Beranjak dewasa, Kelana mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan militer yang diadakan kerajaan. Ia mengikutinya dengan semangat membara. Ia bertekad untuk bisa menjaga dan menghidupi keluarganya. Semangat itu kemudian membuahkan hasil dengan diangkatnya Kelana menjadi prajurit kerajaan.
Meski tinggal di dalam kerajaan, Kelana tidak pernah lupa untuk mengirim kabar serta sejumlah uang untuk ibu dan adiknya setiap bulan. Seiring berjalannya waktu, hal itu tidak pernah ia lakukan lagi secara rutin karena kesibukannya bekerja. Ia hanya berkabar dan mengirimkan uang beberapa bulan sekali.
Sebagai seorang prajurit, sebetulnya ia diperbolehkan untuk pulang ke rumah setiap enam bulan sekali. Namun, sejak beberapa tahun belakang peraturan itu dihapuskan karena hilangnya sang Permaisuri secara misterius dari kerajaan. Ada yang mengatakan ia diculik dan dibunuh oleh penyihir jahat, ada pula yang mengatakan ia adalah jelmaan peri dan kembali ke kahyangan. Namun apapun itu, sampai sekarang tidak ditemukan jasad atau sehelai rambut darinya. Sang Raja yang sudah menyerahpun menganggap Permaisurinya sudah meninggal.
Pada suatu hari, Kelana sedang memandikan kudanya, Horsi, di kandang. Kelana selalu melakukannya setiap pagi. Karena kerajaan akan mengadakan kunjungan ke tempat lain di hari itu, Kelana memandikan Horsi jauh lebih awal. Ketika sedang berada di kandang, Kelana melihat dari kejauhan ada pria tak dikenal yang berjalan di koridor, ke arah kamar Putri Mahesa, putri satu-satunya sang Raja.
Kelana yang curiga segera mengambil pedang serta perisai miliknya. Ia meninggalkan Horsi dan berlari menuju kamar Putri Mahesa. Memasuki koridor, ia melihat jejak kaki yang ada di lantai. Ia merasa heran  karena terdapat tanah pada jejak tersebut. Ia lalu mengamatinya dan tetap merasa ada yang janggal. Tanah itu berwarna merah dan tercium bau yang wangi. Kelana yakin bahwa tanah itu bukan dari sekitar kerajaan.
Kelana menyusuri jejak dan berjalan  mengendap-endap di belakang sosok tak dikenal itu. Ia mengikuti dengan hati-hati untuk mengetahui apa yang akan dilakukan olehnya. Ketika tamu tak diundang itu membuka pintu kamar Putri Mahesa, Kelana ikut menyelinap dan bersembunyi di balik pintu.
Tiba-tiba, pria itu mengeluarkan pisau kecil dari saku celana. Ia berjalan ke samping tempat tidur Putri Mahesa. Di sana berbaring sang Putri yang tidur dengan lelap.

Friday, May 1, 2020

#1 : Prolog


Hai ! Setelah berbulan-bulan tidak menulis di blog ini; berkali-kali pula mengingkari janji (pada diri sendiri) untuk menulis minimal satu kali dalam satu bulan; akhirnya aku menemukan motivasi untuk bisa menulis lagi secara rutin. Ya, karena salah satu alasan tidak rutin menulis adalah kurangnya motivasi. Padahal kata youtuber yang juga beat boxer, Laurentius Rando, tips sukses nomor satu menjadi content creator adalah memiliki motivasi. Motivasi ada di nomor teratas, bahkan di atas semua sarana dan prasana yang ada. wOoW !
Motivasi itu tidak turun secara tiba-tiba, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, seakan semua sudah diatur olehNya. Kala itu ketika asyik scrolling timeline twitter, muncul RT-annya kakak kelas SMAku, Mbak Danastri, tentang program #31HariMenulis. Tanpa pikir panjang langsung melihat timeline akun tersebut dan tertarik untuk ikut program ini.
Sebelum memulai program menulis yang rencananya akan dimulai tanggal 1 Mei, aku memikirkan mengenai tulisan apa yang sebaiknya tertuang di sini. Beragam ide muncul. Mulai dari yang adem seperti bersyukur setiap hari hingga hal-hal yang terinspirasi dari film A Serbian Film atau Grotesque. Namun akhirnya aku memutuskan untuk menulis hal lain karena aku merasa kurang suci dan kurang liar. Kalau mengikuti lagu, seperti lagu Iwan Syahman, ,”Yang Sedang-sedang Saja”.
Tulisan pertama ini adalah prolog mengenai cerita yang akan kukisahkan besok. Sedikit bocoran, konsep menulisku adalah cerita bersambung, dengan tidak terlalu banyak kata dalam setiap episodenya. Cerita ini terinspirasi dari mimpiku beberapa bulan lalu dan sudah kukembangkan sendiri. Aku memang memiliki hubungan yang unik dengan mimpi. Beberapa mimpi bahkan menjadi kenyataan dan mewarnai masa krusial dalam hidupku, seperti saat memilih perkuliahan hingga ujian akhir kelulusan. Namun saat ini bukanlah sebuah kisah nyata, hanya fiksi belaka.  
Terkadang setiap malam sebelum memejamkan mata, aku berdoa agar diberi mimpi yang menarik, cerita ini adalah salah satunya. Banyak harapanku dalam program ini, salah satunya semoga yang membaca cerita ini tak bosan, sama seperti aku yang berusaha untuk konstan menulis selama minimal 31 hari dan membuat pembaca betah. Karena menulis dan membaca secara konstan, sama-sama butuh perjuangan. Semangat !

Wednesday, January 1, 2020

Thank You 2019, Next 2020 !

Happy New Year to you all who celebrates it (I bet we all celebrate it, with or without the celebration). On this write, I’d like to thank my 2019. My 2019 is full of anxiety.

First was my internship program.

My internship program was a tunnel with a light in the end. It’s dark, narrow, and stuffy inside. But later walked on the pathway, it would give bright light.  I was super happy to finish my internship. It’s full of tear and joy –but mostly tear-. Remember my write about the Easter ?

 BUT

I was very happy because I could get so many lessons there. God was the best planner ever. Comparing with my friends with other hospitals, mine was incredible. We all got stress, but I learned more than I could imagine. About theory, health measures, and how to make a good relationship with co-workers –that sometimes gave me annoyed-, pretending everything was okay while heart-pounding to keep the emotion stable. It’s okay. Chill. Hahaha..

Whenever internship doctors made mistakes, there were definitive doctors who stand on our back. That was different with my other friends. They were all alone, and hospital could easily blame them for the mistakes. In my hospital, we were treated as internship fellows; we were given a chance to decide, but under supervision, so everything we’d done had to tell the senior doctors. That’s made we were walking on the right path.

Becoming a clinical doctor wasn’t on my agenda before. It’s terrifying just thought about the responsibility I had to take. My internship was spinning it off. Yes, becoming a clinical doctor was a big responsibility, so I was the non-clinical doctor. Everything had their proportion and which one was should be the next step after all these long-term-study ? after  my internship, I thought, It’s my opinion, that whatever I’d chosen, there was should be a clinical job –as a main job or side job- because our family and relatives will ask about their health, and if I didn’t see the patient, how could I give them right education base on patient feeling and values ? remembering that theory could be different from the reality……  and with my internship, I felt more confident than before, to see the patient, in the short term, a clinical doctor.

Second is about non-internship

It’s in general. I learned about love and life. And above all, there is God. I feel grateful because I’ve got some miracles that gave me thought, “WOW”. After finishing my internship program, I didn’t know where to go. There some offerings, becoming a lecturer in the university and becoming an emergency doctor in some hospitals. Actually, I could accept all of them, besides the hospital, I had to choose one hospital, but I felt confused. Then, I chose to be a part-timer at the university while joining some training.

October, just a few days after my repatriation, was my hectic month. I joined two training in a row, one short course, and becoming lecturer both in the university and private class. In the beginning, I felt okay and made sure that I could handle it. Later on, I got sick. I had a fever for three days. I had to realize that I couldn’t do it all by myself. I needed a hand. Luckily, after long searching, I got my junior to help me teaching in a private class.

At the end of my October, my busy month was over. Then I felt gloomy because I hadn’t a job, I pray to God to show me His way, way that I should be in. On the last day of my private class, one of my senior in hospital called me. She asked me to temporary substitute her in a clinic. It’s a coincidence beautifully. This moment just dropping my jaw, how fast God answers my prayer.

Thank you !

Next 2020.

There are a lot of things could be happened. There are many plans to do, and I hope everything will be done as planned.. about job, about love life. I believe that God will give us the best. For example, I didn’t think that my hospital in my internship is the best for me, later on, I opened my eyes and I could say ‘yes, this is the best’. It takes time to know where or what or why He brings me to go, sometimes it takes a long time, sometimes it takes a short time, but mostly I never understand it.
Just believe (reminder for myself).

Thank you 2019 for your lessons, and be ready for 2020 !


Song in the head, to inspire this write :

Thank you next by Ariana Grande

One taught me love
 One taught me patience
 And one taught me pain
 Now, I'm so amazing
 I've loved and I've lost
 But that's not what I see
 So, look what I got
 Look what you taught me
 And for that, I say
Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next
 I'm so fuckin' grateful for my ex (year)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)
 Thank you, next (next)

Wednesday, July 10, 2019

30 Minutes Challenge

Challenging self : what can you write in 30 minutes ?

Hi folks ! it’s been a long time since I wrote this blog. I do realize that I am not filling my promise to write once a month because of many things that I have to do and today I will start to challenge myself, what can I write in 30 minutes ? 

Let’s talk about dyspepsia

Dyspepsia is an uncomfortable feeling on the upper abdomen. It could be followed by, for example,  nausea, vomitus, and bloated feeling.

Dyspepsia can be caused by many things. Commonly, because of the stomach (gaster) produced too much gasses and acid so it will cause uncomfortable feeling on the upper abdomen (because the anatomy of the gaster/stomach is on the mid-upper-left upper abdomen). Other, it could be because of the organs near the gaster, that has pain transmission on the upper abdomen, such as : heart or the muscle.

Dyspepsia could be one warning symptom to someone with a heart problem, commonly for the elder one. So, if someone who has a history of heart disease, and or they are more than forty years old, it’s important to do electrocardiography (besides other sign and symptom : chest pain)

For young people, dyspepsia commonly because of the stomach/gaster produced too many gasses and acid. There are a few tips to reduce dyspepsia :
1.    Don’t be late to eat
If we are late to eat, the stomach will produce acid, it will irritate the skin of the stomach/mucosa, so it will cause dyspepsia. 
2.    Don’t eat spicy and or sour food
Spicy food has a characteristic to irritate the inner skin, it caused mouth burning, irritate the stomach, and could be irritating anus when you go to the bathroom. Spicy food also produces gasses. And sour food could increasing acid on the stomach
3.    Don’t smoke and drink alcohol
Same with others, smoke and drink can produce acid and gasses on the stomach
4.    Avoid stress  
By stress, the brain will tell sympathetic nerves, so it can cause heartbeat, increasing gasses and acid on the stomach

It sounds hard because all of them don’t do-tips near to us. But for keep being healthy, there will be some sacrifices, isn’t it ?

Okay, I think that’s all. hope we can stay health and be happy !  

Friday, May 3, 2019

Easter

Happy Easter to everyone who celebrates it ! I know it’s too late but better late than never, eh ? now I want to tell you about this year Easter. Actually, I want to post this writing before Easter, but I have a presentation so I didn’t want it’s distracted.. luckily, I could pass that presentation ! Thank God :) I will give some information of it on the next writing ;) okay, happy reading ! :D

To approach Easter, the resurrection of Christ, we did some preparations. We intended to do fasting and abstinence. It’s supposed to open our heart to accept Jesus. On this writing, I will share about my Lent : loving myself (kinda selfish, uh ?)

***

I had hard times at emergency department and March was the worst (until now, and I hope I’m not facing a hard time again). Two examples, a cardiologist got angry with me because I didn't get the right time, time-that-it-should-to-be, to give therapy to a patient. Another, a pulmonologist said I didn’t examine patient appropriately. Well, I’ve done my best for the patient, but I realize there are many limitations.. time management, skill, knowledge, I still learn about it. But yeah, at emergency room there is no space for false, even a little. It’s about a human’s life.

I felt a great fear before on duty at the emergency department and felt sad after that. I was so scared if I did something wrong and I regretted what I’ve done. I felt I was not giving my best to the patient, furthermore to my hospital. I had a paranoid; if I saw a bunch of people talking around, I was sure they are talking bad about me. I felt stupid, useless, and guilty, I was being a burden for others.

One thing that I was sure that I was not okay is when I had a fear or a knife. I could imagine myself cut my hand, and I knew that it was wrong. At this point, at my lowest power and confidence, I just feel that I couldn’t face my internship anymore. But I knew that I was not allowed to do that. I was thinking of how to fix myself. 

One day after another hard day, night shift-in the morning, I went to a health center to meet a psychologist. I just couldn’t take my problem alone, I need help from a professional one. I had a session with her, I felt quite relieved after saying my problem. We had a good share, about life, experience, and we talked many recommended books.

And then I remembered about a book, was recommended by my best friend, Filosofi Teras. It was a few weeks ago, I said to her that I had a stressful moment, and she suggested me to read that book.
At that night, I went to the book store and I was lucky because I could find it. It was placed on the best seller book and a shopkeeper helped me.

For a few days, I was immersed with this book. I was amazed with this book. It was my first time reading a philosophy book, but this written clearly so I could read it easily. By reading this book, I got flashback when I read my favorite book, Kicau Kacau by Indra Herlambang and The Not So Amazing Life of Amrazing by Alexander Thian. I really like a book about a reflection of someone’s experience, I could know about their insight that could be applied to my own life. 

So does this book.  This book is about the writer's experience. First, he told that he should get therapy for his mental health issue. He knew for having a better life was not enough just by consuming medicine and had a session with a therapist. He realized that he had to fix himself by improving his sight about life. At that time, he found a book about Stoicism and started to learn more it more. By writing this book, he wanted to share about Stoicism simply and applicable for other life (comparing to his own life that told been changed after he did Stoicism method).  
And yeah, now I want to share some things that hit my mind :

1.    First, it’s okay to not always have positive thinking
Well, I am not a positive thinker, to be honest. One day I said about the worst part that could be happened on my internsip to my best friend. He said that I shouldn’t have a negative thought.. later, things that we were worried about has come, and it was hit me. I really thankful because I had a thought about it before so I was not drowning into excessive grief, I’ve been warned by myself.. by not-always-had-a positive thinking, I could imagine any possibilities that could be happened, then I prepared myself more.

2.    Second, about trichotomy
There are two things in our life, called dichotomy. First is something that we could afford and the second isn’t. For example, if I have to on duty on ED : I could afford the best decision for the patient but I couldn’t afford about how severity is the patient’s condition. Further, this dichotomy is divided become trichotomy. There is a thing that on the middle, between the dichotomy; it’s a personal goal, include (for example) knowledge. In case I had a patient with multiple diseases, my fear, and guilty (if this patient going worsen) will not as big as if I have a personal goal. I’ve had the knowledge to make the best decision, but I couldn’t afford their life. It’s God privilege.   

3.    Third, we live on today
I define this point by something that happens today is just for today. I feel sad because a senior doctor got angry with me, okay, I was sad for today. I have to chin up my cheek to face another day.
After reading this book, I feel my mood was going better. I decided to know myself more than before, appreciate me, and trying to love myself. I tried to spend less time online on my social media (because I will compare to other then I felt sad again) and I read my favorite books. I felt so much better.

***

Well, that’s my story about Lent. I know that maybe it’s a selfish way, but yeah.. I think if I want to accept God on my heart, I have to prepare myself. And this is my preparation. It’s just like a personage want to come to my house and I have to clean it up, making delicious food, and wear my best clothes. I know my preparation won’t be perfect, but at least I am trying to be a better person, by avoiding some negative thoughts on my head : sad, guilty, and fear.

My Lent this year is really different from others. Mostly I did my abstinence with control my eating habit, it’s both to save money and to restrain myself. But this year I didn’t do it. I need to eat because I have hectic days on the emergency room, I didn’t have to control my eating because I’ve already eaten only two times a day, less snack time nor water. I have to keep healthy so I decided to do this kind of preparation.

I realized that loving myself is not that easy, especially on the end of this Lent, too many temptations by feeling angry, happy, annoyed, and arrogant because of the election’s day. So I came back to open up my social media. It’s a big challenge not to “kepo”-then comparing others with myself –again –then insecurities go back –again.. er..  Keep surviving is way harder than initiating, no ?

***

My Easter was amazing. Thank God ! A little bit disappointed because I felt failed to fulfill my lent.. but one thing that I have to remember (yes, and I am repeating on my write : Blessing in Disguise)
I am loved. God sent people that love me. Isn’t it a beautiful message to love myself ? while I’m struggling to love myself, people around me have loved me :) You are amazing, God..

A message from and for myself :

I’m still learning to be a better person. Lent and Easter are the beginning but the struggling will last forever ~ God will lead me.

Thank guys to read my post. Happy Easter to everyone who celebrates it. Don’t forget to love yourself !! xoxo

Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...