Tuesday, May 1, 2018

Cerpen Edukasi : Kisah Siro


Hi guys ! To celebrate National Education Day in Indonesia, I made an educational-short-story :D enjoy !

***

Kulihat lapang kosong di depanku yang perlahan-lahan mulai terisi dengan air. Saluran air yang bocor menyebabkan air mengalir ke sana, semakin lama semakin banyak sehingga lapang kosong itu menjadi hampir penuh terisi air.

Kulihat pula teman-temanku sedang bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan harian, yaitu membersihkan barang-barang milik majikan kami. Mereka sudah terlihat sangat lelah dengan pekerjaan-pekerjaan yang overload. Ditambah dengan kondisi ruangan kami yang semakin lusuh dan tidak terawat. Ruangan tempat kami bekerja terasa menjadi semakin sempit dengan adanya benda-benda yang sama sekali tidak berguna.

“hah… hah…” kudengar suara napas salah seorang pekerja, Om Thomas, yang jaraknya hanya beberapa langkah dariku. Suaranya terdengar semakin berat. Kurasa ia sudah kelelahan dengan pekerjaan-pekerjaan ini.

“lihat, sebentar lagi ia pasti akan dipaksa untuk beristirahat” ucap temanku, Bang Rio, yang bekerja di sampingku.

“ya. Dan kemudian benda itu akan datang, menambah pekerjaan kita, dan memenuhi ruangan ini” jawabku.

“hahaha.. bertahanlah, kawan. Kamu masih terlihat kuat. Kuharap memang benar kuat-kuat, tidak sepertiku yang semakin lemah ini”  Bang Rio berkata sambil menepuk bahuku.

“jangan berkata seperti itu, Bang. Umur kita sama, kekuatan kita juga sama. Kita pasti bisa melewati pekerjaan-pekerjaan ini..” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Bang Rio sudah menimpali,

“kalau saja majikan kita tidak memberi tugas yang terlalu berat. Sudah lebih dari dua puluh tahun pekerjaan kita menjadi semakin melelahkan.  Uhuk.. uhukk..”

“Bang.. “ aku menjadi khawatir dengan kesehatan Bang Rio yang sudah terbatuk-batuk sejak beberapa bulan ini.

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

“Mari kita lanjutkan” Bang Rio memberikan senyumnya kepadaku.

“baik, Bang”  aku membalas senyumnya, dengan senyum kecut. Dalam hati aku berdoa, semoga kami semua akan baik-baik saja.

Sudah menjadi kebiasan, bila ada pekerja yang kelelahan, pekerjaannya akan digantikan oleh sebuah benda yang menurutku sama sekali tidak berguna; atau bahkan mengganggu. Ingin rasanya aku berteriak dan berkata kepada majikan kami, bahwa benda itu sangat mengganggu atau aku ingin menyampaikan agar ia berhenti membebani kami dengan semua ini, seandainya bisa.. akan tetapi, kami semua mengetahui bahwa hal itu sudah terlambat.

Ya beginilah hidup kami, para pekerja yang terlupakan ini.

Kami bekerja di tempat ini sudah sekitar lima dekade. Lama ? Tergantung. Kami bisa bertahan lebih lama lagi, jika sang majikan memperhatikan kami. Memang, pada awalnya, pekerjaan kami tidak terlalu berat, namun keadaan berubah sejak sekitar dua puluh tahun terakhir. Ia selalu membebani dengan pekerjaan yang sangat berat dan melebihi kemampuan kami, hingga satu per satu dari kami mengalami kelelahan dan pekerjaan akan diambil alih oleh sebuah benda yang tidak berguna itu.

Aku juga tidak tahu benda apa itu karena hal yang ia lakukan adalah mengganggu kami bekerja. Yang ia lakukan hanya diam dan mempersempit ruangan kami bekerja. Ia seperti sampah yang sama sekali tidak berguna. Akan tetapi sudah merupakan sebuah sistem, bahwa ia akan muncul bila salah satu dari kami kelelahan.

Gluduk gluduk..

Tidak perlu menunggu waktu yang lama hingga benda itu datang untuk menggantikan pekerjaan dari Om Thomas. Benda itu kembali memenuhi ruangan tempat kami bekerja. Aku melihat ke pipa saluran air yang tertekan di atasnya. Aku sangat ketakutan bila suatu saat pipa itu bocor karena pasti hal yang mengerikan akan berulang.

Pipa saluran air pernah bocor sekitar satu minggu yang lalu, namun tidak di ruangan kami. Meski kebocoran tidak terlalu besar, namun cukup untuk membuat kami dan teman-teman dari divisi lain ikut mengalami gangguan. Aku ingat, kejadian itu sangat mengerikan. Tak terhitung pekerja yang tumbang dan tidak dapat bekerja lagi. Temanku dari divisi lain mengatakan, banyak sekali  pegawai baru yang masuk untuk membantu.  Dan hingga saat ini, keadaan belum juga membaik, bahkan yang kudengar keadaan menjadi lebih buruk.

Oleh karena itu, aku sangat khawatir bila pipa-pipa tersebut bocor lagi, walaupun dengan adanya kebocoran itu majikan kami menjadi sangat baik dengan mengurangi beban kerja. Tetapi, tetap saja kondisi kami sudah memprihatinkan dan tidak bisa kembali seperti semula.

Gubrak.. !

Terdengar suara seperti ada yang terjatuh. Aku sangat kaget karena ternyata yang jatuh adalah Bang Rio yang bekerja tepat di sampingku.

“Bang.. bang Rio !” aku memanggil dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tubuhnya sudah lemas dan tidak berdaya. Ia sama sekali tidak menggerakkan badannya. Aku juga ikut terguncang melihat teman terbaikku jatuh terkapar di lantai.

Tet.. tet..

Alarm berbunyi menunjukkan adanya kebocoran. Kulihat sekelilingku, tidak ada kebocoran di ruangan tempatku bekerja, aku yakin kebocoran pasti di bagian lain; tempat yang sama ketika seminggu yang lalu kebocoran itu terjadi. Aku kemudian berlari melihat ke arah luar. Ternyata air di lapang kosong semakin banyak dan sudah memenuhinya.

Keadaan menjadi sangat kacau. Kudengar alarm dari ruangan lain sudah berbunyi. Kami belum pernah mengalami hal separah ini sebelumnya. Teman-teman yang berada di ruanganku menjadi sangat panik, aku menjadi saksi mata bagaimana mereka satu per satu tumbang.

Hingga akhirnya hanya tersisa aku seorang.

Kudengar teriakan dan isak tangis dari luar sana. Tidak ada yang bisa kita semua lakukan. Semua sudah terlambat. Mataku berkunang-kunang, napasku sudah terasa sesak. Tidak berapa lama, aku jatuh ke lantai.

Aku mati.

Majikanku pun, mati.

Inilah akhir kisah hidupku, sel parenkim hati.

***

Sel parenkim hati bekerja untuk membersihkan racun yang masuk ke dalam hati. Majikan kami senang mengonsumsi alcohol selama puluhan tahun, hal itulah yang membuat pekerjaan kami semakin berat. Ketika kami merasa lelah, kami akan menjadi rusak dan akan tumbuh jaringan baru, yang dinamakan jaringan fibrosis, benda yang tidak berguna itu. Jaringan fibrosis adalah proses alami ketika sel mengalami kerusakan.

Kerusakan pada sel hati juga menyebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah, diibaratkan sebuah pipa. Pembuluh darah mengalami kerusakan dan tumbuh jaringan fibrosis, hal ini mengakibatkan terjadinya hipertensi porta. Seperti selang yang memiliki kerak di dalamnya, agar air dapat tetap mengalir tentu aliran harus kuat untuk melawan kerak tersebut, inilah hipertensi, di mana tekanan darah akan meningkat.  Hipertensi porta kemudian menyebabkan varises esophagus (pelebaran pembuluh darah pada esophagus).

Terjadinya gangguan tekanan onkotik dan hidrostatik pada pembuluh darah juga menyebabkan terjadinya kebocoran plasma, dan bisa mengisi lapang atau ruang kosong pada perut atau disebut dengan rongga peritoneal.

Apakah semua itu berbahaya ? tentu. Adanya sirosis hati menunjukkan adanya kerusakan sistemik yang dimulai dari organ hati dan berakibat pada hamper seluruh organ, misalnya ginjal. Tekanan osmotic dan onkotik akan berperan pada regulasi natrium di ginjal. Sedangkan varises esophagus dapat pecah dan terjadi perdarahan organ dalam. Bisa mengakibatkan syok dan akhirnya berujung pada kematian.

Pada cerita di atas, saya mengibaratkan majikan adalah sang pemilik tubuh. Majikan ini sedang berada di ruang rawat intensif (ICU) karena sebelumnya sudah mengalami pecahnya pembuluh darah esophagus. ‘Pegawai baru’ yang dimaksudkan adalah mesin-mesin di ruang rawat intensif. Dalam waktu seminggu, dengan komplikasi ascites (terkumpulnya cairan pada rongga peritoneal), pasien kemudian mengalami kegawatan (alarm berbunyi) dan akhirnya meninggal.

Segala kejadian yang terjadi inilah yang disebut dengan sirosis hati.

Thursday, April 5, 2018

Lasagna untuk Kenanga (part 2)

Akhirnya jam istirahat tiba. Aku dan teman-temanku berhamburan ke luar kelas untuk menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, aku melihat sosok yang asing di mataku. Mataku tidak bisa teralihkan karena dia sangat menarik perhatianku.

Rambutnya diikat tinggi dengan poni ke samping. Tidak terlalu rapi, beberapa rambut kecilnya jatuh tidak beraturan, ia menggunakan kacamata kotak berwarna hitam, mirip sepertiku. Kulitnya kuning dengan beberapa freckles yang menghiasi pipinya. Dia menggunakan kaos polo shirt  berwarna merah dengan celana kain dan sepatu sneakers. Tas ransel bertengger di samping tempat duduknya. Dia tidak melihatku, dia sedang menulis sesuatu di buku catatan kecil berwarna biru miliknya.

Aku dan teman2ku mengambil tempat duduk di meja depan dirinya. Aku melihatnya dari ujung mataku sedangkan dia asik dengan catatannya.

Tidak berapa lama kulihat seorang pria menghampirinya. Aku mengenal laki-laki itu. Kami sama-sama berkuliah di jurusan teknik informatika, namun aku yakin.

“Hai, Anisa” sapa lelaki itu.

Anisa, nama yang asing di telingaku.

“Hai Toni” dia memberikan senyumnya. Manis.

***

Sejak saat itu aku sering melihatnya di kantin. Seperti hari ini, aku melihatnya dari kejauhan, pada jam makan siang dia kembali duduk di tempat yang sama. Tapi kurasa ada yang lain. Dia tidak menulis di catatan kecilnya. Dia hanya duduk melamun sampai temannya menyapanya. Mereka sempat ngobrol sebentar sampai akhirnya aku lewat di depannya.

Aku sangat gugup bila berdekatan dengannya. Ketika melewatinya saja, aku bersama dengan teman-temanku supaya rasa gugup itu hilang. Aku sering melihatnya lewat sudut mataku, supaya dia tidak mengetahui bahwa aku memperhatikannya.

Beberapa aku aku mencoba mencari tahu tentangnya, namun aku sangat sulit menemukan social media atas namanya. Aku hanya menemukan facebook miliknya.

Anisa Putri.

Mahasiswi jurusan manajemen.
***

Aku berjalan menuju perpustakaan kampus untuk bermain game. Aku senang berada di perpustakaan karena selain wi-fi nya yang cukup kencang, aku dapat menyendiri dan memakan bekal makanku. Aku selalu membawa bekal makanan buatan ibuku. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga dan beliau senang memasak. Ibu rutin menitipkan jajanan buatannya di toko dekat rumah setiap pagi. Dan setiap pagi pula, aku selalu mengambil salah satu makanan favoritku. Lasagna. Cemilan yang cukup mengenyangkan, cocok untuk snack sore ketika aku selesai kuliah.

Aku senang duduk di ruang belajar, sebuah ruangan yang cukup luas dan biasa untuk berdiskusi atau mengerjakan kelompok. Pada sore hari, ruang belajar sepi, karena mahasiswa lain lebih senang nongkrong di  cafĂ© atau tempat makan yang ngehits. Dari ruang belajar ini pula, aku melihatnya lagi.

Anisa.

Dia duduk di ruang komputer yang berada tepat di depan ruang belajar. Dia sendirian berkutat dengan layar komputer yang ada di hadapannya sambil sesekali mencatat di buku kecilnya itu. Hal ini membuatku semakin betah untuk berada di perpustakaan.

Ini bukan kali pertama aku bertemu dengannya. Aku sering melihatnya di ruangan komputer itu. Aku mulai membuka notebook kecil milikku. Aku cukup terkejut ketika dia berjalan ke arahku. Jantungku terasa seperti hentakan ribuan kuda yang berlari dengan kencang. Aku yakin, mukaku pasti sangat pucat. Aku melihatnya berada di rak buku samping meja tempat aku duduk. Ingin rasanya aku menyapanya, dan membantunya mencari buku karena kulihat dia sangat serius dalam memilih buku.

Woe, Nang, kamu di sini to. Nanti datang kan ?” temanku menyapaku. Aku terkejut mendengar sapaan itu. Nanang, itu namaku. Kependekan dari Kenanga. Kenanga Saputra. Teman-teman biasa memanggilku Nanang. Aku yang membuat nama panggilan itu agar mudah diingat dan terasa akrab di telinga. Kenanga, mungkin nama yang cukup unik terutama untuk seorang pria. Orang tua ku memberi nama kenanga, yang memang berasal dari bunga kenanga. Aku lahir di Filipina, saat itu ayahku melanjutkan pendidikannya di sana. Dan aku juga baru mengetahui bahwa bunga kenanga berasal dari Filipina. 

Yo I, bro. Nanti datang dong, di lapangan kan” jawabku. Aku harus tetap tampak stay cool, padahal aku kaget setengah mati.

Itu adalah temanku, Rio. Dia berasal dari jurusan yang sama denganku. Kami juga bersama-sama mengikuti fotografi. Aku sangat senang dengan fotografi, terutama foto matahari tenggelam. Hal ini karena tidak sulit untuk memfoto obyek yang memang sudah bagus dengan teknik fotoku pas-pasan atau lebih tepat asal-asalan.

***

Pukul 18.30 aku sampai di lapangan tempat kami melakukan kegiatan fotografi. Dari kejauhan aku melihatnya, Anisa, sedang rapat bersama dengan teman-temannya. Aku segera merapikan rambutku yang terkena angina ketika mengayuh sepeda cepat-cepat. Aku harap aku bisa mendapat kesempatan untuk sedetik membalikkan badan dan mengambil gambarnya. Tapi mana mungkin, berjarak sekitar 50 meter darinya saja aku sudah salah tingkah.

***

Aku bertemu dengannya lagi hari ini di perpustakaan. Dia sangat manis dengan kemeja berwarna biru, jaket jeans dan celana kain pensil berwarna hitam. Rambutnya diikat tinggi, seperti biasa, namun hari ini terlihat lebih rapi. Aku juga melihat dia menggunakan anting-anting panjang yang sangat cocok dengan bentuk wajahnya. Bibirnya juga berwarna lebih terang dari biasanya. Hari ini dia terlihat berbeda dan.. sempurna J
***

Hari ini kelas dimulai terlambat dan selesai terlambat pula. Pukul 17.00 kami baru selesai kelas. Aku merasa cukup sedih karena hari ini aku tidak bisa melihat Anisa, dari kejauhan. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap.

Dalam perjalanan pulang, aku melewati lapangan tempat kami biasa kumpul fotografi. Di sana aku melihat Anisa, sedang duduk di gazebo. Dia tampak sangat sedih. Tangannya menggenggam sesuatu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengayuh sepedaku ke dekat gazebo. Aku sangat canggung sampai-sampai tak sengaja kubunyikan bel sepedaku. Dia tampak kaget dan melihatku. Namun aku tidak berani menatapnya, aku hanya meliha dari ujung metaku. Aku pun turun dari sepeda.

Aku sangat gugup. Aku merasa deg-deg an. Aku langsung mengeluarkan kamera dan memfoto-foto matahari yang tenggelam untuk mengehilangkan rasa canggung. Aku bersyukur karena aku selalu membawa kamera milikku ke manapun aku pergi, kalau-kalau ada momen yang indah yang tiba-tiba datang.

Aku berpura-pura asik memfoto ketika kudengar ada langkah kaki yang mendekatiku.

“Hai. Ini buatmu” terdengar suara lembut dari telinga kananku. Aku langsung menoleh. Dan ternyata itu Anisa. Kami saling berpandangan selama beberapa detik. Selama beberapa detik itu pula, aku tenggelam dalam hitam bola matanya. Dia memberikan plastic mika berisi lasagna, makanan kesukaanku. Aku masih mengumpulkan nyawaku, berpikir apakah ini adalah sebuah kenyataan atau tidak.

Aku mengambil plastic mika tersebut. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, dia langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menjauhiku.
Tanpa pikir panjang, akupun langsung berlari ke arahnya, menepuk bahunya, dan berkata,

Terima kasih. Kamu Anisa, anak manajemen itu kan ?

Dia tampak terkejut. Dan yang kuingat, senja tidak pernah menjadi seindah dan seromantis itu.

***


Hi guys ! thank you for reading my second part of this story. I feel happy by writing this story. How does it feel when you like someone then they like you back ? Maybe we don't realize, when we feel sad, think that we are alone, there is someone who cares with us. 
I have so many stories in my head, about conventual, about afterlife, but my friend said that it's controversial, so maybe love story like this is safer ^.^
Ok guys, thank you and happy reading my another story :D

Monday, April 2, 2018

Lasagna untuk Kenanga

Hi ! Happy easter for you all who celebrate it :D hope we can get bless and be a blessing to others. Amen J well, it’s midnight when I write this post. I am struggling with the pain of my furuncle at my armpit. I can’t sleep so I choose to do something happy to reduce the pain. And, yeah, write a happy story, about fall in love, because by feeling this character in this story can make me happy. Hahahhaa.. Happy reading !

***

“Kita putus aja ya”

“Ok”

Ya seperti itulah caraku dan pacarku mengakhiri hubungan kami. Berada dalam hubungan yang tidak sehat selama kurang lebih setengah tahun terakhir membuat kami capek sendiri. Kami sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. Pacarku, Toni, adalah seorang mahasiswa teknik dan juga pecinta alam yang sedang sibuk untuk proyek ekspedisi Gunung Kerinci. Dia sudah memperjuangkan ekspedisi ini selama satu tahun belakangan, dan akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Akhirnya kampus kami menyetujui untuk pengadaan ekspedisi dan ya.. energinya sangat terkuras untuk ini.

Aku Nisa, mahasiswi ekonomi yang juga sibuk mempersiapkan seminar ekonomi berskala nasional yang diadakan setiap lima tahun sekali, hal itu yang membuat kami berusaha dengan sangat keras agar acara ini berhasil. Recruitment panitianya saja berlangsung cukup ketat, dan puji Tuhan aku bisa masuk dalam kepanitiaan ini. Perlu perjuangan untuk bisa masuk dalam kepanitiaan, mengingat aku adalah mahasiswa yang tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan di fakultas atau kampus.

Putus merupakan pilihan terbaik bagi kami saat ini. Paling tidak, kami bisa fokus pada kegiatan kami masing-masing. Toni dengan ekspedisinya, aku dengan seminar nasional. 

Hubungan kami memang baru dua tahun dan terasa hambar selama satu tahun terakhir dan memberat dalam enam bulan. Dalam sehari hanya ada satu atau dua chat, tanpa telepon, apalagi pergi bersama. Jujur, aku merasa biasa saja dengan kondisi ini. Mungkin, karena kami memang punya kesibukan sehingga pikiran kami teralihkan untuk itu semua. Bahkan ketika dia memutuskan hubunganpun aku tidak merasa sedih atau kecewa. 

Kami memang bukan pasangan populer yang ngehitz dan menjadi relationship goals mahasiswa kampus. Hanya beberapa teman dekat satu jurusan saja yang mengenal kami. Berada di kampus yang cukup ternama, dengan gedung yang terpisah untuk setiap jurusan, sangat sulit untuk menjadi orang beken. Hanya penerima beasiswa seperti LPDP, mahasiswa aktivis, atau yang masuk akun instagram dengan embel embel 'cantik' saja yang bisa terkenal. Sedangkan aku, jauh dari semua itu. Aku menikmati hidupku sebagai mahasiswa biasa. Hahahhaa..

Setelah hubungan kami berakhir, aku merasa tidak ada perubahan yang signifikan. Hanya mungkin, aku kehilangan teman untuk makan. Saat ini aku duduk di kantin teknik, tempat mahasiswa teknik makan. Kakiku sudah terstimulus untuk tiba tiba datang ke tempat ini, tempat di mana aku dan Toni biasa makan siang. Namun kali ini berbeda, aku hanya duduk di sini seorang diri.

“Cieee.. masih ke sini aja. Sendirian ?” lamunanku terhenti ketika Rina, temanku datang dan menepuk bahuku.

“Hahaha.. iya Rin. Lupa kalo udah putus. Tiba-tiba aja aku ke sini. Hahaha..” jawabku jujur.

“Gila ya. Udah putus pake acara lupa-lupa segala. Segitu hambarnya banget sih kalian” jawab Rina sambil duduk di depanku.

“Hah ? maksudnya gimana Rin ?” tanyaku.

“Ya biasanya kan kalo udah putus itu ada sedih-sedihnya, ada galau-galaunya. Lha ini, malah lupa. Doohhh” balas Rina, “ya emang beda sih kalian, sama-sama udah gada rasa dari lama ya gini” lanjutnya.

“Iya ya Rin, biasa aja gt rasanya..” jawabku.

Kata-kataku langsung terhenti ketika aku melihat seseorang berjalan melewati meja tempat aku dan Rina duduk.

Seorang laki-laki, yang tidak aku ketahui namanya, mencuri perhatianku. Ia berjalan bersama dengan teman-temannya. Aku belum pernah melihatnya selama aku pergi ke tempat ini.

“Nis ? halooo ?” Rina memanggilku.

“Eh sori Rin, aku tadi liat itu lho, yang lagi lewat. Siapa sih ?” tanyaku.

“Mana ?” Rina melihat ke belakang “eh, itu kan pacarku. Hahhaa.. dah Nis” Rina langsung pergi meninggalkanku setelah bertemu dengan pacarnya, Robi. Rina adalah temanku satu fakultas yang juga berpacaran dengan anak Teknik. Kami biasanya pergi ke kantin teknik bersama-sama. Dan tentu saja, orang yang kumaksud bukan Robi, karena aku sama sekali tidak mengenal laki-laki yang baru saja lewat di depan mataku.

Dia-yang belum kuketahui namanya- duduk bersama dengan teman-temannya. Aku mengamatinya dari atas hingga ke bawah. Bila dideskripsikan, dia tampak sangat mirip dengan tokoh Harry Potter ketika tahun pertama. Rambutnya cepak, agak panjang dan acak-acakan. Badannya bungkuk, sepertinya dia sering membawa tas berbeban berat. Ia menggunakan kacamata dengan frame kotak hitam yang tampak cocok dengan wajahnya yang berwarna sawo matang. Ia juga menggunakan jam tangan yang kulihat terlalu besar dan terlalu longgar untuk tangannya yang kurus.

Aku memandanginya dengan seksama. Kulihat dia mengeluarkan notebook nya yang kecil itu. Sesuai dengan badannya yang juga kecil, untuk ukuran laki-laki. Tingginya mungkin sekitar 160 cm, 6 cm lebih tinggi dariku.

Kulihat jam milikku yang sudah menunjukkan pukul 15.00. Aku harus bergegas menuju ke gazebo dekat lapangan kampus untuk rapat seminar. Sekali lagi kulihat dirinya, pria itu, dan aku berharap, semoga aku bisa bertemu lagi dengannya..

***

Hari Kamis pukul 12.00 aku melangkah ke luar kelas menuju ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan beberapa tugasku sembari menunggu rapat seminar pukul 18.00. Jarak antara fakultasku dengan perpustakaan kampus tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Setelah makan siang, aku bergegas untuk ke perpustakaan, di sana aku langsung menuju ke ruang komputer. Berjam-jam aku berkutat dengan tugasku. Tepat pukul 17.00, aku melihatnya lagi, pria yang kulihat di kantin teknik beberapa hari yang lalu. Namun kali ini ia datang sendirian. Kulihat dia duduk di ruang belajar dan mengeluarkan notebook kecil miliknya lagi. Dan tidak hanya notebook, tetapi dia juga mengeluarkan wadah bekal makanan. Aku tidak tahu pasti apa yang dia makan, dan untuk mengurangi rasa penasaranku, aku pura-pura mencari buku di rak samping meja tempat dia duduk.

Terasa sangat akward hanya untuk berjalan dari ruang komputer menuju ke ruang belajar. Langkahku sangat terbata-bata dan aku merasa ada yang aneh dari diriku. Tangan dan kakiku mulai mengeluarkan keringat dingin dan jantungku bergedup sangat kencang. Perutku sampai mual, seperti naik roller coaster. Pandanganku lurus ke depan, tapi ujung mataku melihatnya, dan hal ini yang menyebabkan aku hamper menabrak salah satu rak buku.

Ternyata kalo di film-film ada orang salah fokus itu gini rasanya…

Aku berpura-pura memilih buku sembari ujung mataku melihatnya. Aku benar-benar merasa aneh saat itu.

Untuk apa aku sampai seperti ini ?

Tetapi lagi-lagi, aku terstimulus untuk melakukannya tanpa berpikir panjang.

“Woe, Nang, kamu di sini to. Nanti datang kan ?” kudengar seseorang menyapanya. Aku langsung membuka telingaku lebar-lebar agar bisa mendengar mereka.

Nang ? namanya Nang ? Nang siapa ?

“Yo i, bro. Nanti datang dong, di lapangan kan ?” jawabnya.

“Ya di mana lagi.. di situlah. Eh kamu makan apa itu ?” kata temannya.

“Biasa.. hahahhaa” jawabnya. Aku mulai memposisikan diriku agar aku bisa melihat wajahnya. Jantungku semakin berdegup dengan kencang, aku bisa merasakan aliran darahku mengalir lebih cepat. Kulihat wajahnya dari dekat. Deretan gigi yang putih dan rapi dengan suara yang sangat medok. Kulihat lagi makanan yang ada di tempat makan berwarna biru miliknya.

Emm.. itu.. lasagna ?

“Itu lasagna ya ? setiap hari kamu bawa itu. Ga bosen ?” Tanya temannya.

“Engga bro. makanya makannya sehari sekali aja, biar ga bosen. Hahaha” jawabnya santai sambil tertawa. Tanpa sadar akupun ikut tersenyum mendengarnya.

“Dasar. Yaudah, aku duluan ya. Sampai jumpa nanti” temannya pun pergi.

Aku masih pura-pura melihat-lihat buku sambil memandanginya.

Kamu siapa ?

Tanyaku berulang dalam hati.

Kulihat jam di tanganku. Pukul 18.00. Akupun bergegas pergi dari rak buku dan mengambil barang-barangku untuk segera pergi ke gazebo, tempat di mana kami biasa mengadakan rapat. Sepanjang jalanku, aku berdoa, semoga lapangan yang dimaksud tadi adalah lapangan dekat gazebo. Aku berharap demikian, agar aku bisa melihat dirinya lagi.

Sesampainya di gazebo, aku sengaja mengambil posisi agar bisa menghadap ke lapangan. Aku melihat setiap orang yang berlalu lalang, harap-harap cemas siapa tahu ‘Nang’ datang. Kupakai kacamataku dan kulihat sekeliling dengan seksama, sedangkan telingaku mendengar rapat dan tanganku mencatat serta jantungku terasa deg-degan. Sedari tadi memang aku merasa badanku aneh  Tangan dan kakiku terasa dingin, jantung deg-deg an, dan peut mual. Hal-hal itu masih saja kurasakan. Sampai akhirnya kulihat seseorang lewat dengan membawa kamera DSLR. Itulah ‘Nang’.

Pernahkah kalian, ketika sedang berjalan di kerumuman dan berusaha mencari seseorang, disertai keanehan tubuhmu dan ketika kamu menemukan orang itu rasanya seakan-akan lega yang teramat sangat, seperti turun dari jalanan curam dengan kecepatan tinggi namun akhirnya selamat ?
Ya seperti itulah yang kurasakan.

Jadi kamu suka fotografi ya, Nang ?

Aku tersenyum melihatnya.
***

Perjalanan pulang setelah rapat terasa berbeda. Rasanya di atas motor aku ingin sekali berteriak-teriak kegirangan dan tertawa sekeras mungkin untuk meluapkan ekspresi kebahagiaanku. Aku melakukannya, satu kali, sebelum pandangan aneh orang-orang di sekitarku ketika lampu merah. Aku pura-pura innocent karena aku memakai masker sehingga tidak ketahuan. Hihii…

Dalam perjalanan aku melewati sebuah supermarket. Dan tanpa sadar, aku langsung membelokkan motorku ke sana. Aku sempat ngebleng untuk beberapa saat.

Ini kenapa deh aku sampe sini ? mau belanja apa aku ?

Pikirku dalam hati. Namun aku kemudian berjalan-jalan di sekitaran rak untuk mencari inspirasi. Sampai akhirnya, aku sampai pada rak pasta.

Lasagna.

Segera kucek dompetku untuk menghitun uang, kucek hp ku untuk mencari serep lasagna. Akupun pulang tanpa tangan kosong. Aku membeli bahan-bahan untuk membuat lasagna.

***

Pukul 06.00, aku bangun dan membuka-buka hp ku. Biasanya ketika kubuka hp ku, ada pesan singkat yang masuk. Ya, pacarku biasanya mengucapkan selamat pagi. Namun, beberapa waktu ke belakang hingga saat ini aku sudah tidak mendapatkannya lagi. Akupun membuka laman facebook untuk mengecek beberapa pemberitahuan. Tiba-tiba aku kepikiran untuk mencari tahu mengenai ‘Nang’.

Aku mengecek di friend list beberapa temanku yang ngehitz di kampus karena siapa yang tidak berteman dengan mereka ? namun hasilnya nihil. Aku tidak tahu nama lengkapnya dan tidak ada data tentang dirinya sama sekali. Aku berpikir keras agar bisa mendapat informasi, paling tidak, tentang namanya.

Kemudian aku teringat bahwa ia mengikuti kegiatan fotografi. Aku langsung membuka profil facebook klub fotografi kampus, dan kucari satu-satu di list membernya. Karena tidak mengetahui nama, aku membuka profil setiap orang yang menjadi member.

Akhirnya ketemu.

Kenanga Saputra.

Itulah namanya.

Jantungku terasa hampir lepas dari rongga dadaku. Perutku kembali mual, tangan kakiku terasa  sangat dingin. Aku langsung bersembunyi di balik selimut dan kakiku bergerak-gerak kegirangan.

Terima kasih facebook. Sungguh, terpujilah engkau Mark Zukeberg.

Teriakku dalam hati. Akupun menjelajahi profil facebook nya. Kulihat awal hingga akhir postingan. Ternyata dia tidak terlalu banyak memposting segala sesuatu, paling banyak hanya foto-foto matahari tenggelam hasil karyanya. Lucu, karena ketika aku menemukan seseorang yang bertanya kepadanya, 'kenapa kamu suka foto matahari tenggelam ?' jawaban Kenanga cukup simpel, 'soalnya obyeknya aja udah bagus. Gaperlu susah-susah pake teknik foto juga hasilnya tetep bagus'. Aku mengangguk dan tersenyum setuju. Akupun berpikir apakah aku harus add facebook miliknya. Belum sempat kulakukan, aku segera menutup facebook ku dan siap-siap menuju ke kampus.

Aku mulai melakukan mix and match sebelum berangkat ke kampus. Hal yang tidak pernah kulakukan selama masa perkuliahanku. Aku memilih untuk menggunakan kemeja berwarna biru, dengan jaket jeans yang sudah lama tidak kugunakan, celana kain berbentuk pensil berwarna hitam dan sepatu sneakers. Akupun mengikat rambutku tinggi dan kurapikan poniku. Tak lupa, aku memasang anting-anting andalanku dan mengoleskan lipstick nude. Berkali-kali kuputar badanku untuk melihat diriku di kaca. Tak hanya itu, akupun latihan senyum, ya.. kalau-kalau.. aku bertemu ‘Nang’ alias Kenanga hari ini.

Halo J  

Emm.. engga, gausah kliatan  gigi.

Haloo..

Terlalu berlebihan.

Hai.

Kalo ini sok cuek.

J

Aduh, lipstick ku belepotan.

Begitulah aku ketika berusaha untuk tersenyum kalau-kalau bertemu Kenanga hari ini. Aku bertekad untuk memberinya sebuah senyuman ketika bertemu. Meskipun tampak akward, paling tidak, aku sudah berusaha.

***

Hari ini hari Minggu. Aku bertekad untuk membuat lasagna dengan bahan-bahan yang sudah kubeli beberapa saat yang lalu. Aku baru pertama kali ini memasak lasagna namun aku harap percobaanku ini berhasil. Aku ingin memberikan lasagna buatanku kepada Kenanga, atau yang biasa disebut dengan Nanang.

Aku baru mengetahuinya setelah beberapa kali kepo facebook miliknya. Tidak, aku belum memiliki keberanian untuk klik add as a friend. Aku bersyukur dengan adanya sosial media, terkhusus facebook, sehingga aku bisa mengetahui mengenai seseorang dari sana. Hal ini juga dipengaruhi karena aku tidak memiliki instagram atau twitter. Aku jadi mengetahui mengenai pemberian nama Kenanga yang dikarenakan kelahirannya di Filipina, dan bunga kenanga berasal dari sana. Aku juga mengetahui tentang hobi, bahkan pendidikannya dari SD hingga kuliah lewat facebook. Ternyata dia adalah seorang mahasiswa teknik informatika, mungkin itu sebabnya dia selalu membawa notebook ke manapun ia pergi. Hahaha.. sangat mengerikan tingkat kekepoanku ini.

Beberapa kali aku bertemu dengan Kenanga di perpustakaan. Aku mengetahui bahwa dia senang pergi ke sana untuk mengerjakan tugas atau sekedar nge game Dota. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa melihatnya dari dari ruang komputer. Memang, setiap aku melihatnya dia pasti membawa kotak makanan kecil berisi lasagna.

Meskipun aku bisa melihatnya, namun tak sekalipun aku berani menyapanya. Aku hanya bisa memandanginya, tanpa memberinya sebuah senyuman. Bila melihatnya saja, semua keanehan tubuhku kembali. Keringat dingin, deg-deg an, dan mual.

***

Percobaan pertamaku dalam membuat lasagna ternyata berhasil karena pada dasarnya aku adalah orang yang senang memasak berbagai masakan, mulai dari kue hingga pasta. Meski bentuknya tidak secantik buatan toko, namun rasanya boleh diadu. Aku memotong-motong lasagna ku ke dalam beberapa tempat makan mika untuk kubagi-bagikan kepada teman-temanku keesokan harinya. Dan mereka pun berpikir sama denganku.

“Plis, Nis. Ini apaan deh bentuknya kayak gini” kata Rina.

“Cobain dulu lah. Baru komen” jawabku. Rina langsung mengambil sepotong lasagna.

“Eh gilak. Enak cooy” Rina mengunyah makanan dengan semangat, “ini baru namanya don’t judge a food by its shape. Hahaha..”

Mendengar hal itu aku menjadi cukup percaya diri menyisakan satu potong untuk kuberikan kepada Kenanga. Aku membagi-bagikan lasagna ku kepada sepuluh orang temanku, dan mereka semua berkata lasagnaku enak dan hanya empat diantaranya yang mengatakan bentuknya mengerikan.

Menjelang sore setelah kelas, aku bergegas menuju ke perpustakaan dan menunggu Kenanga datang. Biasanya, ia datang sekitar pukul 16.00, kecuali hari Kamis dia datang pukul 17.00 karena jam 18.00 ia akan mengikuti perkumpulan fotografi.

Hai. Aku Nisa. Kamu Kenanga ya ? aku beberapa kali liat kamu di perpus, ini aku masak. Masih sisa satu. Buatmu. Hehe..

Ah, kepanjangan.

Hai. Aku Nisa. Kamu suka lasagna ya ? ini buatmu.

Aduuhh, keliatan kepo nya. Serem.

Hai. Aku masak nih, sisa satu.. gatau mau kasih ke siapa. Buatmu aja. Hehehe..

Aneh banget, ga kenal langsung kasih kasih aja.

Begitulah yang kulakukan sembari menunggunya datang. Latihan bicara untuk menyerahkan lasagna ini. Aku sudah latian di rumah namun belum menemukan kata-kata yang tepat.

Kulihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16.20 dan Kenanga belum juga datang. Aku kemudian berjalan-jalan ke seluruh bagian ruangan di perpustakaan, namun hasilnya juga nihil. Aku kemudian menunggu hingga pukul 17.00.

Kenanga tidak juga datang.

Perasaanku berubah menjadi khawatir. Entah mengapa hatiku berkata bahwa ia tidak datang ke perpustakaan hari ini. Aku pun keluar dari perpustakaan dan berjalan-jalan di sekitaran kampus, kalau-kalau aku melihat Kenanga. Aku pergi ke kantin fakultas teknik, namun tidak kutemukan juga batang hidungnya. Kemudian aku berjalan menuju ke laboratorium komputer tempat ia biasa praktikum, namun nihil pula.

Pukul 17.45 aku mulai mengurungkan niatku untuk memberikan masakanku kepada Kenanga. Aku berjalan menuju gazebo dekat lapangan untuk sejenak menghela napas dan beristirahat.

Matahari perlahan mulai tenggelam. Aku duduk di gazebo dengan tatapan sayu. Kupegang lasagna dan kupandanginya. Kemudian aku memutuskan untuk memakannya sendiri saja karena aku tidak bisa menemukan Kenanga. Ketika aku hendak membuka plastic mika, wadah lasagna, aku mendengar ada bunyi bel sepeda. Ketika kulihat dengan seksama.. ternyata itu Kenanga. Kenanga datang ke lapangan dengan menggunakan sepeda dan membawa kamera. Ia ingin memotret sunset, kesukaannya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berjalan menuju ke arahnya. Jantungku berdegup kencang, lebih kencang dari biasanya, mataku berkunang-kunang, bibirku terasa sangat kering karena napasku yang ngos-ngosan.

Ketika aku sampai di samping Kenanga, ia menolehkan wajahnya kepadaku, sebelum aku sempat menyapanya. Ia melihatku di balik kacamata kotaknya.

“Hai. Ini buatmu” ucapku terbata-bata sambil menyerahkan plastic mika wadah lasagna.

Kenanga mengambilnya dari tanganku dengan wajah yang agak heran. Belum sempat dia mengucapkan kata-kata, aku langsung berbalik arah. Aku percaya mukaku pasti sangat merah karena menahan malu. Ketika aku membalikkan badan dan hendak melakukan jalan cepat untuk segera kabur dari tempat itu, Kenanga memegang pundakku dan berkata,

“Terima kasih. Kamu Anisa, anak manajemen itu kan ?”

Akupun terkejut ketika dia mengetahui namaku dan yang kuingat, senja tidak pernah menjadi seindah dan seromantis itu.

***

Thank you for reading my very long story :) actually I've been inspired about this story a long time ago, but I was too lazy to make it. I'm happy that I can retell this story which was repeating on my head :D  

Wednesday, February 28, 2018

American Horror Story season 7 : Cult; a Review

Hi ! it’s been a long time to write in this blog. I had final exam and it made me stress. Hahaha.. I had to face two exams; first was about the theory, it’s multiple choice, we had to choose one from five possibly answer. We call this a CBT (Computer Based Test) because you have to do this exam by computer. Second, it’s about skill, we call it OSCE (Objective Stricture Clinical Examination). We had twelve stations with different diagnoses, then we did doctor-patient (with simulation patient) activity and the senior doctor will observe and rate us. I’ve done this final exams and I have to wait for the result (hope the best result, amen). I have to wait for about one month with doing nothing. Then I decided to watch my favorite serial film all the time (well, until now), American Horror Story season 7 : Cult. I’ve been waiting the perfect time to watch this series. And after brain-heart-mind storming ? yeah. Perfect time. Hahaha..

I want to make a little review for this season. In this review, I will talk about story, character, and the horror part itself compare with another season (yeah, I’ve watched American Horror Story from season 1 until 6 before) Hope you enjoy it :D

First, story.

This season they had a good story. I think it’s really suitable for this moment. The election, Donald J. Trump, Social Justice Warrior (I heard about it mostly on my twitter), and about the ‘cult’ itself. Why I use ‘..’ ? maybe because I had a narrow mind about cult. i will talk about it later :D The main story is about political, majority and minority community. I think that just my country that had this issue, but by watching this season, maybe this is the main issue globaly ? 

For me, the problem in this season is not too much. It’s different with season 5, I don’t know about many characteristic with thir on story on season 5. There are many characters, too many problem but not solved. I little bit disappointed with this season, though.. oh, and season 6. At first, they had a good story, but the plot hole just made me….. like this  .__. Hahha.. But in this season, there are fewer characters, so the story keep focus. Maybe it’s not as good as season 2, the season that I fell in love with, but season 7 is still good :D :D oh.. and the similarity about season 7 and 2 is.. maybe they have a typical ending ? ;D

Second, character.

This is the third season without Jessica Lange, the queen :” to be honest, AHS lost of their third soul.. hahaha.. but Sarah Paulson and Evan Peters can be the other soul :”D they play a good role in this season, well, as usual. 

One thing that I really want to say is about Ivy’s character. I’ve searched her name, Allison Pill. I think that she’s just too cute for Sarah Paulson’s wife. With her pixie haircut.. huehee.. another thing is about RJ. Who was RJ ? how can he include this cult ? there was no information about him. Oh yeah, and the man hung with the hook ? who was he ?

But still, better than season 5. Hahaha.. too many questions about this season. Hahaha.. 

The best characters for AHS is in season 4 : Freak Show. They had excellent character. They use unique people for this season. People with phocomelia, dwarfism, the littlest women, etc. With their own characters, even without the story, it had a strong feel. In this season, maybe it’s not as good as season 4, but it’s acceptable :D

Third, the horror itself.

This season is totally different with another season. There was no ghost at all. And about the cult, first I was thought that cult will associate with Satanism, human sacrifice, hell, etc. but this cult is different. This cult is about people who had similarity, fear. Fear about the real world they had to face. The leader used their fear to make this cult. 

About the bloody thing, at this season is not as much as season 3 and season 4. Well, maybe there much blood in season 2, but as far as I remember, season 3 and 4 are just.. too.. scary.. the murder itself always on my mind.  

Well, I think that’s a little review about this AHS 7 : Cult. it’s more realistic than another season. That’s what makes it scary.

Moral of the story ? not about this season but also another season is, just be kind. Because we never know how fragile heart is. We don't know if we hurt others, then they will do something terrible, like.. killing (themself or others), hurting others again, or making very bad descicion. We know that we can’t please everyone, but maybe we can minimalize the pain ? it’s naĂŻve to take a lesson from it. But it makes me think and try to be a better person than before.

Ok, have a nice day :D thank you for reading this post :D


  

Sunday, December 31, 2017

Christmas

'Do you believe in the Christmas miracle ?' 
This question was repeating in my head. I had bad Christmas occasion in the three years past.

2015
In this year, I had many problems. About my study, about my love life, and about my big family. Because of these, I decided not to back to Jogja when Christmas, I choose to stay in Denpasar. I wanted to be alone. I didn't want to meet anybody I knew. I was sick and tired pretending to be happy while I was broke. 

24th December I spent my day with Plants vs Zombies Game. At 3.00 PM I went to the church, attended mass alone. After mass, I saw many people take a picture with their family (or maybe not, at least they were not alone). I didn't care about it, I just thought about myself, 'where do I want to spend the night ?' , then after a quick thought, I went to Seminyak, near Kuta. Alone. With my motorcycle I strolled, there were no place to go. And then it's raining when I went back to my dorm. Suddenly, my eyes got red. I was crying. I felt lonely.

25th December my mother sent me picture of my big family that having a Christmas lunch in my house. And again. I was crying for the second time.

'It is a bad idea for having Christmas alone while you can choose not to be alone'

2016
I had another bad luck in December. I had to be on duty while Christmas. I went from my house at 25th December afternoon and went back to my house at 26th December noon. It's kinda sad. I couldn't choose to be with my family. I was sure that my friends wouldn't want to exchange the schedule. My body was in the emergency unit but my mind stayed in my house. Yea, because the last Christmas I was alone, so.. I didn't want to be alone again this Christmas.

'It's okay. This is the beginning of your future job'

2017
23rd December night. It's sad when you were trying so hard but others didn't do the same, even breaking you down. It's sad when you couldn't express your feeling. It's sad when you realize your hesitations became true.   

'Maybe we should take one backward then we can move to more step forwards' Maybe we should have this big problem, so that we can have more lessons.    

Back to the question,
'Do you believe in the Christmas miracle ?' 

And the answer is, 'yes'

It's sad when you are having Christmas alone. It's okay. Then you will more and more appreciate when you can have Christmas with your family, your friends, or something you love.

It's sad when you are on duty while Christmas. It's okay. You can feel Christmas when you do your best on your job. Be a blessing to others.

It's sad when you know that your struggle to other not replied as you want to. It's okay. You can learn how to be genuine, how to know both yourself and others with discussing the problems. It will make your relationship stronger. 

Sometimes miracle didn't form as a beautiful one. Miracle can be a worst one, but what's can make that a miracle is, how we can have reflection of it, how we can take a lesson of it. 
Have a merry Christmas and a happy new year :)

  

Thursday, November 30, 2017

Pain

It’s such a sunny bright day morning when I had social service on Sunday, 26th November 2017. A few days before, one of my best, Eva, invited me to join social service that’s been held by SAI BABA Yogyakarta foundation. This foundation is related, correct me if I’m wrong, to humanism foundation. My friend, Ayu, said that the members are some Hindu’s people –especially Indian, especially med stud. Funny thing is, the ‘founder’ of this a Chinese Buddha woman. She had a upstair place to pray that been used by Hindu’s people –in the past most of Indian med stud-

This is my very first social service for me, as a doctor. I had participated in some social services before, but as a ‘blood-pressure-girl’. My jobdesc was measuring people’s blood pressure. And for this time, I’m the doctor. I’ve trusted to help people by hearing their health problem and giving some advice. I’m soooo nervous. I asked about the most health problem in that place, the medicine, etc. I made some recipes full of the dose and the indication. I really want to help people and didn’t want to give carelessly advice.

There were 4 doctors, all of them are my classmate and the participant of this social service almost 150 people.  Most of the patient had the same problem. Pain, and mostly on their head, back, and knees.

So, let’s talk about pain.

What is pain ?

Pain is uncomfortable sensory and emotional experience because of the damaged or potentially damaged tissue or described in terms of such damage. Pain is related to both psychic and psychological. It’s also related to how brain interprets the damage. It could be also the real damage or not. Because pain is related to the psychological, someone can feel the pain, although there is no real problem in their health that can cause pain. Another example, if two people have the same damage tissue, they can have the different level of pain.

There are simple measurements of pain’s severity. One of them called VAS (Visual Analog Scale). The measurement is so simple. We can ask patient about the pain, from 0 to 10. 0 is described as none pain and 10 is described as so much pain that they’ve ever had. It’s very subjective. Some people can easily exaggerate their pain. To confirm the pain, we can ask about how the pain affects their daily life. Is it make them couldn’t do anything or not ?

Then, how to deal with it ?

I will talk about the medicines. WHO had the ‘step ladder’ analgetics treatment. First, this treatment was used to people with cancer, but then it can be used to all types of pain. As far as I know, this treatment is still used (because my teacher taught this when I’m on my lecture, 2014).



Based on the severity of the pain, the recommended treatment :
    • For mild pain (1–3/10 on a numerical analogue scale), start at step 1
    • For moderate pain (4–6/10), start at step 2
    • For severe pain (7–10/10), start at step 3

In the daily life, from my experience, many patient feel better with NSAIDs, for example, ketorolac, mefenamic acid, or natrium diclofenac. But, from the experience, I learned something else.

When I had public health rotation, there were not many stocks of NSAID medicine, then the patients were given vitamin. It was out of my sight, but as far as I know, they feel better with it. Another experience, when I was studying in Bali, there was a patient that had chronic pain in his lower back. When he entered the examining room, he was looked healthy and very excited to tell us about his vacation. But when the doctor asked, ‘what’s your problem ?’ suddenly his face changed and he touched his back, and asked, ‘ah ya, I have low back pain’ after a long happy conversation about the waterfall he’s visited. I thought that for a second he forgot about the pain, but when he remembered it, he will feel the pain again. Maybe this is the real experience about pain that related to psychological. When I had neurology rotation, there was a patient whose felt chronic pain. She had given strong analgetic but she didn’t feel better. The neurologist advice her to go to a psychologist to get psychological therapy.

Yeah, I learned about how to communicate with patient. Because pain, or other health problems are related to the psychological. It’s important to be a good communicator, how to make patient trust to us, how to persuade them, not only give the medicine.

It was heavy rain when we went back after the social activity. I was fell asleep in the car. Back to home with new experiences. Thank you ! :D       



spot me :D

Friday, October 27, 2017

Graduation


Tomorrow is a big day, for my best friends. They will get a Hippocratic Oath :' after being a med stud for about 4 years and clerkship student for 18 months. It's kinda sad that I can't be with them, get the Hippocratic Oath together.

I think i have a deja vu. I felt the similar feeling when I was high school, I had to be separated with my friends. We were separated by a wall, tbh, because we were moving up from 10th High School to 11th. LOL.

Maybe this is not the exact same, it's so much HARDER.

I remember my friend's note on Facebook *when I said that i felt sad for being separated with my classmate in High School*. He wrote beautiful words for me. And this time, that notes really expressing my feelings.

Terbelah

gemerlap
masa lalu indah
masa depan indah, harapanmu

terbelah
terpikir buruk
tidak mau
berkerumun
menyeruduk penyusun buku dan pembela tukang belajar
menilai sebelum rupa

ingat amoeba ?

terbelah
kehidupan baru
kurang
lebih
pasti nyata

hanya satu masa
kamu pasti bisa
cobalah terbang dengan kawanan barumu
buat memoir indah
jalan manapun pasti kau rindukan

es mu itu pasti akan bersatu kembali
gelak tawa pasti menghampiri lagi.
takdir dibuat untuk senyummu :)

Dear Sorowajan,

Congratulation for your Hippocratic Oath, my best.

For Nelson Awang : thank you for teaching me since lecture, when i met you in your dorm naked with a towel :)) for the pizza delivery, and the photo scandal

For Philipus Putra : thank you for your joke, for listening to my stories, your lots of love-life advice that enlighting me :3

For Yudhistira Elpatria : thank you for your cunning and your vanity :)) make me believe that it's okay for being overproud of myself

For Jesica Rachael : thank you for the uritan <3 for "gy :)" messages every morning, afternoon, and night. For our hitz vacation B), for the advice to exorcism me :)) and for being my second home so i can get the food and get some rest :))

For Rino Prawijaya : thank you for your silly comment and opinion. i know that it's not intended to be funny but you nailed it ! hahaha

For Maria Ayu : thank you for enforcing me being better especially to my appearance :)) for your question, "nen, udah kramas belum ?" for believing me, believing us to know your story. you are strong and brave !! *hug

For Merry Mira : thank you for our togetherness since the very first tutorial :" for your wise advice, your logical thinking, and for being a couple LDR goals ! \m/

For Stevan Artha : we will fight the battle ! UKMPPD is coming !!

For Lingkan Olivia : thank you for being a prayer :" for your innocent thinking and for your knowledge, and your beautiful voice :3

For Mark Belfis : thank you for never getting tired of me. we've been faced trough many challenges :" especially our essay with river and bridge analogy :))

Thank you for the struggle, laughter, sadness, secret story ( I have burst out laughing when we start the story with,  "ges aku punya cerita, tapi jangan bilang siapa-siapa ya ), adventure ( although just in Tawangmangu ), and others. I'm sorry I can't graduate with you all, guys. Hope we can meet again for another happy time. I do love you <3


back (left to right) : Me, Stevan, Rino, Elpa, Nelson, Mark, Philip, Rachel
front (left to right) : Maria, Lingkan, Merry

holding the flowers :)

Tuesday, September 26, 2017

Nina


‘Itu Nina !’ ucapku kegirangan dalam hati.

Segera kuberlari dan bersembunyi di balik pintu kaca bangsal rumah sakit. Aku terlalu malu untuk menyapa, atau bahkan melihat Nina. Mata indahnya seperti menghipnotisku dalam-dalam; dan aku tidak mau tersesat di dalamnya.

Nina berjalan melewatiku.. seperti biasa, jangankan menoleh, dia bahkan tidak merasa adanya kehadiranku. Aku hanya bisa melihatnya dari balik pintu, dan lagi-lagi, wangi parfumnya membuatku mabuk kepayang.

Pelan-pelan kuikuti ke mana Nina pergi. Saat ini adalah jam kunjung pasien, kulihat lorong bangsal ramai dengan orang-orang yang hilir mudik. Nina pasti tidak mengetahui bahwa aku mengikutinya.

Ramainya lorong bangsal membuat Nina menghilang dari pandanganku, aku harus mengintip ke setiap jendela kamar pasien untuk bisa menemukannya. Langkahku terhenti ketika aku mendengar suara lembut Nina yang sedang memperbaiki infus pasien yang macet.

“Tangannya jangan diangkat tinggi-tinggi ya, Pak Samiun, nanti darahnya naik” ucap Nina sambil tersenyum.

‘Ah, senyuman itu !’ jantungku langsung berdegup kencang melihat senyum manis Nina. Senyuman yang membuatku jatuh hati padanya.

Kulihat Nina berjalan menuju pintu, dekat jendela tempat di mana aku mengintipnya, aku langsung membalikkan badanku dan berjalan cepat menjauhinya, supaya Nina tidak tahu bahwa diam-diam aku memperhatikannya. Aku hanya takut Nina menjadi ilfil dan membenciku.

Akupun cepat-cepat berlari menuju ke arah pintu keluar dekat lift. Dari pintu kaca tersebut, aku melihat Nina berjalan melewatiku.

‘Cantik. Cantik. Cantik’ gumamku dalam hati. Sungguh, aku sangat tergila-gila pada Nina.

‘Sampai kapankah aku harus memendam perasaanku ini ? Bertahun-tahun aku hanya bisa melihat dan memandangmu dari jauh, Nina..’
***

Pagi ini kulihat Nina terburu-buru untuk pulang, meskipun di luar terdengar rintik hujan yang membasahi rumah sakit tempat Nina bekerja.

‘Shift malam memang sangat melelahkan, ya Nina ?’ ucapku dalam hati.

Ingin rasanya aku mendekatinya dan memberikan segelas coklat hangat untuk menemaninya; bila ia masih memiliki hobi yang sama seperti dulu: menikmati segelas coklat hangat sembari mengunyah keripik kentang.

’Atau kau ingin kubuatkan semangkuk mi rebus, Nina ?’ tanyaku percuma. Karena  aku tahu, Nina pasti tidak bisa, atau tidak mau untuk mendengarkan perkataanku.

“Bu, Nina pulang dulu ya” ucap Nina kepada salah seorang perawat senior.

“Masih hujan, Nina. Apa gak nanti aja, nunggu reda ?” jawab perawat itu.

“Engga deh bu. Saya buru-buru. Mari bu”

Tanpa menunggu jawaban, Nina langsung mengemasi barangnya dan berjalan keluar ruangan.
Kakiku terstimulus untuk mengikuti deru langkah kaki Nina yang terburu-buru itu. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil tetap bersembunyi, kalau-kalau tetiba dia menoleh dan melihatku. Aku merasa tidak cukup tampan untuk bertemu dengannya saat ini.

Menuju pintu keluar, Nina mengambil payung hitam miliknya dan berjalan menerobos rintik hujan. Akupun menerobos hujan sambil tetap berjalan di belakang Nina.

Langkah Nina terhenti setelah melewati beberapa blok dari rumah sakit. Nina masuk ke dalam tempat itu, tempat yang dingin dan sunyi.

Kulihat Nina berjalan dan akhirnya setelah berhasil menemukan tempat yang dituju, ia berhenti sembari mengeluarkan setangkai mawar merah.

“Untukmu. Dan hingga saat ini, aku masih sangat merindukanmu”

Itu adalah kata-kata yang sama yang diucapkan Nina hampir setiap harinya, di tempat di mana aku beristirahat untuk selama-lamanya, di depan kuburku.

‘Akupun juga sangat merindukanmu, Nina’



This short story dedicated to Antoninaerviana, thank you for your inspiring story J
 



Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...