Sunday, August 6, 2017

Ada Apa dengan Kebijakan ?

‘Kebijakan yang kayak gimana maksudnya ? Yang meningkatkan kesehatan ?’
Can you give the details about the policy ?’

Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang muncul ketika saya mengajukan pertanyaan kepada beberapa orang berlatar belakang kesehatan via LinkedIn mengenai kebijakan kesehatan yang menurut mereka mendesak untuk segera dilakukan. Dari pertanyaan saya tersebut kemudian perbincangan maya kami berkembang menjadi sebuah diskusi kecil yang menarik. Menarik karena jawaban yang diberikan ternyata tidak jauh berbeda, meskipun subyek yang saya beri pertanyaan berasal dari belahan negara yang berbeda. Mereka memberikan beberapa poin jawaban di mana salah satu poin pasti ada yang terkait dengan penyakit kronik.

Penyakit kronik menjadi permasalahan berskala global dan memiliki banyak pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Kebijakan mengenai penyakit kronik dirasa mendesak karena tingkat mortalitas dan morbiditas yang disebabkan oleh penyakit ini cukup tinggi dan semakin meningkat dari tahun ke tahun serta menyebabkan penurunan produktivitas yang kemudian dapat mempengaruhi banyak aspek, seperti aspek kualitas hidup, aspek kejiwaan, dan aspek-aspek lainnya.

Penyakit kronik adalah penyakit yang terjadi dengan durasi yang lama, bisa dalam hitungan bulan atau tahun, di mana pengobatan yang dilakukan membutuhkan waktu yang panjang bahkan seumur hidup. Pembahasan mengenai penyakit kronik ini dikemukakan oleh narasumber-narasumber saya via LinkedIn. Ternyata, penyakit kronik tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, namun juga di luar Indonesia. Hal inilah yang membuat jawaban narasumber saya banyak terkait dengan kebijakan mengenai penyakit kronik.

Kebijakan yang dikemukakan mengenai penyakit kronik beragam, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga sistem pembiayaannya. Yang pertama adalah kebijakan mengenai pencegahan penyakit kronik. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan menggalakkan pola diet sehat yaitu makanan rendah lemak dan mengutamakan sayur-sayuran (Whole Food Plant Base). Seperti kita ketahui banyak penyakit kronik seperti penyakit kardiovaskular, obesitas, atau bahkan kanker sangat berkaitan erat dengan pola dan gaya hidup seseorang. Salah satu gaya hidup yang memiliki peran penting adalah pola diet. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, pola diet masuk ke dalam tiga besar faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Pola diet yang dimaksudkan mencakup makanan manis, makanan asin, dan makanan berlemak. Dengan adanya kebijakan pencegahan dengan tujuan mengajak masyarakat untuk memiliki pola diet yang sehat, tentu diharapkan mampu untuk mengurangi insidensi penyakit kardiovaskular.

Lembaga kesehatan masyarakat dapat menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan kebijakan ini. Bila kebijakan ini diaplikasikan di Indonesia, tentu lembaga kesehatan masyarakat yang dimaksud salah satunya adalah Puskesmas. Kebijakan ini sebenarnya sudah diberlakukan di Indonesia, yaitu dengan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) di mana salah satu indikatornya adalah dengan pola diet sehat. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya masih belum optimal.   

Kebijakan kedua adalah mengenai penanganan. Penanganan ini berfokus pada pemahaman mengenai tatalaksana dari suatu penyakit, secara khusus adalah penyakit kronik dan secara umum adalah penyakit lainnya. Sampai sekarang belum ada suatu pedoman khusus dalam hal pengobatan suatu penyakit. Pengobatan suatu penyakit masih banyak yang menggunakan pedoman khusus, misalnya adalah pedoman berdasarkan pengalaman, atau bahkan terkotak-kotakkan sesuai dengan institusi pendidikan. Sehingga, antara institusi pendidikan satu dengan yang lain bisa memiliki tatalaksana yang berbeda pada penyakit yang sama. Hal ini menjadi dasar bahwa perlu diberlakukan suatu kebijakan mengenai pedoman tatalaksana dan pengobatan penyakit yang dapat diterapkan oleh seluruh institusi pendidikan secara umum.

Ketiga adalah mengenai pembiayaan. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia sudah menerapkan sistem BPJS dalam pembiayanan pelayanan kesehatan. Sistem BPJS ini dinilai sangat membantu terutama pada pasien dengan penyakit kronik yang membutuhkan pengobatan jangka panjang atau bahkan seumur hidup. Sebagai sebuah sistem yang baru berlangsung beberapa tahun terakhir, tentu banyak kekurangan yang ada. Salah satu hal yang disoroti adalah terkait pembiayaan BPJS.

BPJS sebagai sebuah sistem yang berkaitan dengan uang, tentu akan sangat menggiurkan bagi oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengurangi terjadinya kecurangan yang bisa dilakukan, diperlukan adanya kebijakan untuk membentuk suatu lembaga atau sistem kontrol pengendali kecurangan dana BPJS Kesehatan atau bantuan operasional kesehatan lainnya. Lembaga atau sistem ini sebaiknya ada di setiap pelayanan kesehatan, seperti klinik pratama, puskesmas, rumah sakit, dan instansi kesehatan lain. Dengan adanya lembaga atau sistem ini diharapkan dapat mengurangi tindakan kecurangan dan penyelewengan dana bagi jaminan kesehatan sehingga dana yang dialirkan bisa sepenuhnya berguna bagi masyarakat.

Selain mengenai kebijakan-kebijakan terkait penyakit kronik, terdapat beberapa kebijakan lain yang disampaikan oleh narasumber. Kebijakan ini memang tidak mendesak untuk dilakukan, namun bagi saya menarik untuk dibahas.

Pertama adalah kebijakan mengenai pengadaan asuransi malpraktek. Sebaiknya dokter bisa dilindungi oleh asuransi dan tidak hanya mengandalkan IDI. Perlindungan ini dibutuhkan agar dokter bisa tenang dan fokus pada pelayanan kesehatan tanpa merasa khawatir terhadap oknum-oknum tertentu yang senang mengambil kesempatan dalam kesempitan.  Asuransi malpraktek ini ternyata sudah dikeluarkan oleh beberapa asuransi swasta seperti Prudential dan Allianz, di mana asuransi ini mengover pembelaan pengadilan, ganti rugi, dan biaya pengacara.

Kedua adalah kebijakan mengenai program pengadaan suplemen vitamin D untuk anak dan dewasa yang memiliki aktivitas indoor. Kebijakan ini mungkin tidak mendesak dan kurang populer bila  diaplikasikan di Indonesia. Akan tetapi, ternyata kebijakan ini cukup mendesak untuk dilakukan di United Kingdom. Defisiensi vitamin D menjadi masalah serius di sana, mengingat banyak Negara Eropa Utara dan Kanada letak geografisnya jauh dari garis equator. Faktor kultur dan budaya ternyata juga memiliki pengaruh pada hal ini. Contohnya adalah Saudi Arabia dan Pakistan. Narasumber saya mengatakan, jumlah vitamin D sangat rendah pada wanita, hal ini disebabkan karena mereka harus memakai baju yang serba tertutup. Atau bahkan di Negara China, jumlah vitamin D rendah pada wanita yang menyusui, ternyata hal ini berkaitan dengan tradisi bahwa wanita menyusui harus selalu berada di dalam rumah.   

Demikianlah tulisan saya mengenai kebijakan kesehatan. Dapat diketahui bahwa ternyata terdapat masalah yang secara global meresahkan dan mendesak untuk dilakukan tindakan, namun tidak semua masalah memiliki solusi dapat diaplikasikan secara global. Perlu pengkajian dan perumusan yang mendalam untuk dapat memutuskan suatu kebijakan.

Terima kasih. 



Terima kasih saya ucapkan kepada narasumber saya:
dr. D. Fachrur Razy
dr. Relca Adriansyah
dr. Colin Walsh
Nicole Findlay

Monday, July 31, 2017

Kebijakan Puskesmas Bambanglipuro

Puskesmas sebagaimana diatur dalam Permenkes 75/2014 adalah fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki beberapa kebijakan terkait UKM (Usaha Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Usaha Kesehatan Perorangan). Puskesmas Bambanglipuro sebagai fasilitas pelayanan primer yang memberikan layanan kesehatan preventif dan promotif juga tentu memiliki kebijakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat terutama di tingkat kecamatan.

Selama dua minggu menjalani kepaniteraan klinik di sana, kami melihat banyak kebijakan baik tertulis maupun tidak tertulis yang berlaku. Salah satu kebijakan yang paling menarik bagi kami adalah mengenai UKP (Unit Kesehatan Perorangan) terutama pelayanan gawat darurat. Puskesmas Bambanglipuro tidak memiliki dokter jaga pada shift malam di UGD. Dokter jaga hanya berlaku dengan sistem on call, yaitu dokter tidak stand by di tempat, namun akan datang bila mendapat panggilan darurat dari bidan atau perawat.

Kebijakan ini menjadi menarik karena mengingat UGD merupakan unit kegawatan di mana penanganan pasien harus dilakukan dengan segera. Bila menggunakan sistem on call, tentu banyak waktu yang terbuang untuk menunggu kedatangan dokter. Idealnya memang seharusnya ada dokter jaga UGD untuk setiap shift.

Namun tentu kebijakan ini sudah melalui banyak proses dan penyesuaian. Berdasakan data mortalitas dan morbiditas di daerah Bambanglipuro beserta penyesuaian dengan jumlah SDM yang ada di Puskesmas, tingkat urgensi dokter stand by bisa digantikan dengan sistem on call. Hal ini dianggap lebih efektif dan efisien, mengingat jumlah dokter di Puskesmas Bambanglipuro hanya lima orang dan jumlah warga di sana mencapai 40.000 jiwa.

Dalam pelaksanaan kebijakan ini tentu melibatkan banyak pihak. Pihak-pihak yang berperan antara lain :
1. Dokter : baik dokter kepala Puskesmas ataupun bukan. Dokter kepala Puskesmas sebagai pembuat kebijakan dan dokter lain sebagai pelaku kebijakan
2. Bidan : sebagai pelaku kebijakan
3. Perawat : sebagai pelaku kebijakan
4. Petugas administratif : sebagai pendukung dalam kebijakan ini. Petugas administratif dapat membantu bidan ataupun perawat berkaitan dengan rekam medis pasien
5. Driver ambulans : sebagai pendukung dalam kebijakan. Driver dapat membantu dalam merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih besar
6. Pasien : sebagai orang yang mendapat kebijakan

Tak dapat dipungkiri, setiap elemen dalam puskesmas sangat berperan dalam setiap kebijakan yang berlaku, baik peran yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pihak-pihak yang disebutkan di atas adalah pihak yang secara langsung berperan dan terjun dalam kebijakan ini. Namun, pada dasarnya setiap SDM Puskesmas memiliki peran secara tidak langsung. Setiap kebijakan yang direncanakan pasti memerlukan musyawarah yang melibatkan semua SDM Puskesmas untuk menciptakan suatu kesepakatan kebijakan.
Kebijakan Puskesmas ini membuat kami berefleksi bahwa SDM Puskesmas sangat terbatas sehingga memerlukan suatu strategi yang efektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Terima kasih.

Disusun Oleh :
1.       Gratiana Kartika (42150059)
2.       Maria Harina Nugraheni (42150061)

Saturday, July 8, 2017

Spicy Food vs Acne

One day I had a fight with my mother. We talked about spicy food. My mom didn’t like if I ate  it because she thought that spiciness can cause acne. Otherwise, I didn’t think it’s true. Who will won this battle ? Let’s check :D

First, we have to know what is spicy food.

Spicy is not a taste, it is a sensation caused by a kind of chemical substance in spiciness. It’s activating sensory neurons called polymodal nociceptors. This nociceptors are activated by extreme heat and can be found easily all over the body, include tongue and nose. If we eat spicy food, these nociceptors will give signals to the brain of cell irritation or burning of the cell, almost the same as skin exposed to heat, so brain will response this overheating a spicy sensation, like sweating and a fast heart beating (TED-ed vid)

Second, what’s acne ?

Acne vulgaris, often reffered to as acne, is a disorder of pilosebaceous follicles. Acne begins with “clogged pores” as known as comedoes. There are some factors are involved in the formation of acne lesions :
-   Increase in sebum production (influenced by androgens)
- Keratin and sebum plug the hair follicle and accumulate leading to hyperkeratosis (comedo formation)
- P.acnes (bacteria) proliferates in the sebaceous follicle (releases enzymes and stimulates release of pro-inflammatory cytokines)
- Inflammatory response
(American Academy of Dermatology, 2015)

After knowing about spicy food and acne, let’s check about their correlation. There are many studies to know the correlation between dietary and acne. Study by Dave Kairanee, Gujarat in 2010 showed that spicy food had an effect to aggravate or precipate acne. The majority of the respondents in the study had reported that consumption of spicy food led to flares and or aggravate the pre-exsiting acne. Another study said that fatty food, chocolate, potato chips, and spicy food were considered a cause of acne (Darwish, et al 2013). Many studies believe that spicy food can increase production of sebum and can cause acne (Indonesia University, Faculty of Medicine, 2009).  But others believe that as long as there’s no blockage or plug in sebum follicle, there’s no acne.

The IAA Consensus Document from Indian Journal of Dermatology, Venerology, dan Leprology in 2009 had reported that spices and oil not directly cause acne, but the exposure during cooking may cause acne. A cross sectional, community based study was performed and from this study known that gender, spicy foods, and smoking were not associated with acne severity (Ghodsi et al, 2009). In this study, told that familial history of acne was significantly more common in patients with moderate to severe acne. What a contradiction with study from Darwish et all in 2013.

The newest study that I found, spices such as oregano, cinnamon, clover, ginger, and garlic (just knew that they are included in spices. LOL) may be able to inhibit the production of AGEs. AGEs is advanced glycation end products, with accumulation of AGES, structural changes in the skin can occur, resulting in increased and reduced elasticity and this is related to aging skin (Katta, 2014).

After reading about many studies about spicy food and acne, we know that there are many different and contradiction result. So that, I asked few of dermatologist; first dermatologist said that spicy food didn’t has effect for acne. Furthermore, she said that pepper had high vitamin C that good for the skin. My second and third doctor said so. They didn’t believe that spice can aggravate or cause acne. But the fourth doctor said, we should avoid spicy, fatty, and oily food to make a better skin.

After reading few studies and asking some dermatologist, we know that the theory about dietary and acne still debatable. There are many limitations in the study that can’t be applied in another respondent.


Well, the end of the story, I’ve told my mom about this and she said, “I believe that spice can aggravate acne. Forever and ever” and I just walk away. Hahahhaa.. love ya mom ! <3  

NB : I'm sorry that I missed my June for blogging. Hope be better for the next post !

Wednesday, May 31, 2017

Kisah di Bangsal Cempaka

Hey guysss ! I made a short-yet-long-love-story again :)) inspired while having a shift in a hospital ward. Enjoy ! 

Bangsal Cempaka, 17 Januari 2017

“Nuryati ! Nuryati ! aaaaaarrrgghhhhh.. adooohhh.. sakit kepalakuuuu”

Sebuah erangan yang memekakkan telinga terdengar di bangsal Cempaka pagi itu. Pak Rudi, pasien kamar 3A, tak henti-hentinya mengeluhkan nyeri kepala hebat yang dialaminya. Pak Rudi adalah salah satu pasien bangsal Cempaka, bangsal saraf, di sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Pada usianya yang terbilang muda, yakni 35 tahun, ia harus mengalami penyakit stroke perdarahan yang membuatnya harus mendapatkan penanganan craniotomy –bedah otak, untuk menghilangkan perdarahan di kepalanya.

“Iya Pak.. istirahat saja. Sebentar lagi obat anti nyerinya dibagikan” ucap perawat bangsal dengan sabar.

Entah brapa kali para perawat bangsal harus menenangkan Pak Rudi. Pasien yang mengalami post craniotomy memang akan mengalami nyeri kepala yang hebat. Tak hanya itu, mereka juga bisa mengalami gangguan kesadaran,  yang membuatnya tidak awas terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka bisa mengeluarkan obrolan atau kata-kata yang tidak jelas dengan kondisi yang gelisah.

Bangsal Cempaka memang bukan tempat yang tepat bagi pasien seperti Pak Rudi. Pasien-pasien post craniotomy seharusnya mendapatkan penanganan lanjut di ruang Intensive Care Unit, namun karena keterbatasan biaya, Pak Rudi terpaksa ditempatkan di bangsal ini.

Sedangkan bangsal Cempaka sendiri adalah bangsal khusus penyakit saraf, berupa ruangan persegi panjang sebesar 7x6 m dengan 12 bed untuk pasien. Pasien yang dirawat di tempat ini adalah pasien yang bisa dibilang stabil, dengan tidak memiliki gangguan kesadaran dan pada umumnya  mereka masih dapat berkomunikasi dengan baik. Sehingga wajar bila pasien lain yang dirawat di bangsal ini mengeluhkan kesusahan tidur karena teriakan dan erangan Pak Rudi. Hal ini membuat para perawat mau tak mau juga harus menenangkan pasien lain yang merasa terganggu.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Saatnya untuk keluarga pasien memasuki bangsal Cempaka untuk menyuapi para pasien. Di sini, keluarga tidak boleh berada di dalam bangsal, mereka ditempatkan di satu ruangan khusus penunggu pasien. Mereka hanya diperbolehkan masuk pada jam-jam tertentu, seperti pada waktu makan. Termasuk bagi keluarga Pak Rudi, yaitu Nuryati, istrinya.

“Mas, ini nasinya yuk dimakan..”ucap lembut Nuryati.

“Ha…. Opo koweeeee.. aku ki meh adus.. hahaha…” lagi-lagi Pak Rudi mengeluarkan kata-kata yang tidak nyambung. Nuryati hanya bisa menghela napas dalam-dalam melihat kondisi suaminya.

Nuryati adalah istri Pak Rudi. Ia berusia 5 tahun lebih muda dari suaminya. Mereka memiliki seorang anak laki-laki berusia 2 tahun buah cinta pernikahannya. Sehari-hari Nuryati bekerja sebagai buruh cuci sedangkan suaminya bekerja sebagai penjaga konter HP. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana hasil warisan dari almarhum orang tua Nuryati.

Nuryati termenung melihat suaminya yang berbaring di bed. Pikirannya melayang-layang, bagaimana ia harus membayar biaya rumah sakit. ‘untuk hidup sehari-hari saja sudah susah, bagaimana aku harus membayar semua biaya perawatan suamiku ?’ ucapnya dalam hati sambil memegang sendok berisi sesuap nasi.
***
Bu Rina. Seorang perempuan berusia 33 tahun yang mengalami stroke iskemik mulai masuk pagi ini. Ia mengalami gangguan berupa mulut perot dan kelemahan anggota gerak kanan. Hasil CT Scan menunjukkan adanya kematian jaringan pada otaknya. Bukan kali pertama Bu Rina harus menginap di bangsal Cempaka. Dua tahun yang lalu ia pernah mengalami penyakit yang sama, yaitu stroke. Perbedaannya, dulu ia mengalami kelemahan anggota gerak kiri. Meskipun sudah dinyatakan sembuh, namun anggota gerak kiri Bu Rina tidak bisa berfungsi secara maksimal. Hal inilah yang membuatnya menjadi orang yang cukup temperamental. Segala hal yang biasanya dilakukan sendiri, saat ini harus bergantung pada orang lain. Sebagai orang yang perfectionist, ia ingin segala pekerjaannya sempurna dengan hasil tangannya sendiri.

“Aku gamau makan tahunya ! Kamu tau kan aku ga suka sama tahu !” teriak Bu Rina kepada Pak Toni, suaminya yang sedang menyuapi sarapan pagi untuk Bu Rina.

Pak Toni adalah seorang pria berusia 34 tahun dan merupakan seorang PNS di Kota Yogyakarta. Istrinya, Bu Rina, adalah seorang wiraswasta yang memiliki usaha sprei yang cukup sukses, sebelum penyakit stroke menyerang dirinya. Setelah terkena penyakit itu, usaha sprei miliknya harus gulung tikar dan suaminya menjadi tulang punggung bagi istri dan seorang anaknya masih berusia 5 tahun.

“Iya, bu.. tapi tahunya harus dimakan.. biar cepet sehat..” ucap Pak Toni sabar.

“Ahhh.. kamu itu ga berguna ! Udah pergi aja ! Aku mau tidur aja ! Dari kemarin aku gabisa tidur gara-gara ada yang berisik !!” amuk Bu Rina sambil mengarahkan matanya ke bed Pak Rudi.

Nuryati hanya bisa memandang Bu Rina dan Pak Toni dengan tatapan malu.

"Sudah bu.. sekarang istirahat saja. Makannya nanti lagi" kata Pak Toni menenangkan.

"Iya udah kamu pergi sana !" usir Bu Tina.

Pak Toni kemudian melangkah ke luar ruang Cempaka. Sesampainya di ruang tunggu keluarga pasien, Pak Toni termenung. Ia menghela napas panjang menghadapi isrinya yang suka marah-marah sendiri.


"Entah sampai kapan aku harus merasakan amarah dan menjadi pelampiasan kekesalan istriku ?"

Lamunan Pak Toni terhenti ketika ada seseorang yang menepuk bahunya.

"Maafkan suami saya, pak" ternyata Nuryati yang menepuk Pak Toni, menyapa dengan mata berkaca-kaca.

"Oh, tidak apa apa bu. Namanya juga orang sakit. Saya juga minta maaf atas ucapan istri saya yang kurang berkenan.." jawab Pak Toni.

"Tapi tetap saja saya merasa tidak enak, Pak... suami saya terkena stroke perdarahan dan kepalanya dibedah.. jadi mungkin karena itu suami saya jadi gelisah, berisik, dan mengganggu..." ucap Nuryati terbata-bata.

"Sudah bu, tenang.. istri saya juga di rumah sudah susah tidur.. apalagi keadaa  sakit seperti ini makin susah dia.. jadi tidak perlu Ibu... maaf, siapa nama anda ?" tanya Pak Toni.

"Nuryati"

"Toni" 

Mereka berdua pun berpandangan sambil berjabat tangan. Sejenak sekeliling terasa hening. Mereka hanya terpaku bertatapan. 

"Eng.. jadi tak perlu ibu Nuryati merasa bersalah" kata Pak Toni memecah keheningan.

"Ah.. panggil Nuryati saja, Pak.." senyumnya.

"Hahaha.. baiklah, bu.. eh.. Nuryati" Pak Toni balas melempar senyum.

Mereka berdua kemudian duduk di ruang tunggu sambil berbincang. 

"Tinggal di mana, Nur ?" Tanya pak Toni.

"Di jalan damai, dekat mall besar itu, pak.." 

"Wahh.. sering jalan-jalan ke mall dong.."

"Hahaha.. tidak. Ga punya uang. Kebetulan suami saya berjualan pulsa di konter kecil seberang mall itu. Bapak bekerja di mana ?"

"Saya bekerja di kantor kelurahan.. itu di..” belum sempat ia melanjutkan perkataannya, terdengar suara.. ‘krucuk krucuk’. Ternyata suara itu berasal dari perut Pak Toni, yang belum makan seharian ini.


Sambil tertawa kecil Nuryati berkata, “Wah, lapar ya, Pak ? Ini saya tadi pagi sempat memasak sayur sop dan tempe garit. Mungkin bapak mau..” Tanpa menunggu jawaban dari Pak Toni, Nuryati   langsung mengeluarkan rantang bertingkat miliknya dan mulai menata makanan.

“Wah, langsung disuguhi begini mana bisa saya menolak. Hahaha..” Pak Toni tersipu malu.
  
Mereka kemudian mulai makan bersama dan berbincang-bincang.

“Sudah lama saya tidak merasakan masakan rumah seperti ini. Biasanya sebelum bekerja saya sarapan dulu di warteg depan kantor.. hehe..” ucap Pak Toni.

“Loh.. memangnya istri bapak tidak memasak ?” Tanya Nuryati.

Pak Toni terdiam sejenak dan menjawab, “Istri saya 3 tahun lalu terkena stroke.. hal itu menyebabkan bagian tubuh kirinya lemas. Jadi malah saya yang masak kalo sempat.. hahaha…”

“Wah, maaf atas pertanyaan saya yang kurang berkenan, Pak..”

“Hahaha.. tidak apa-apa, Nur. Hmm.. masakanmu enak sekali” kata Pak Toni sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Terima kasih banyak, Pak” jawab Nuryati sambil tersenyum.

***

Begitulah awal perkenalan Nuryati dengan Pak Toni. Semenjak saat itu, mereka jadi sering berbincang di ruang tunggu keluarga pasien. Tak hanya itu, mereka berdua juga masuk bersamaan ke bangsal Cempaka untuk menyuapi makan bagi pasangan mereka masing-masing. 

"Mas, ini makan dulu" ucap Nuryati kepada suaminya.

"Hahahahha.. adohh.. sirahku mumet tenan iki. Jaaaannn.. mumet pool" Pak Rudi mengerang kesakitan.

Nuryati hanya bisa diam melihat kondisi suaminya, ia tak tahu harus berkata apa. Pandangannya lalu mengarah ke depan. Ternyata tanpa ia sadari Pak Toni, yang juga  sedang menyuapi istrinya, melihat Nuryati. Sejenak mereka berpandangan dan saling melempar senyum malu.


“Nuryati, makan di luar yuk” ajak Pak Toni setelah keluar dari bangsal Cempaka.

Nuryati menoleh dengan senyum, “Ah, terima kasih, tidak usah, Pak. Saya sudah membawa makanan. Eng.. saya membawa makanan juga untuk Pak Toni”.

“Wah.. Baiklah. Bagaimana bila nanti siang makan di luarnya ?”

Nuryati hanya mengangguk sambil tersipu.

***
Pagi itu tidak seperti biasanya. Pukul 06.00 Pak Toni sudah menuju ke kamar mandi dekat ruang Cempaka, yaitu tempat di mana para penunggu pasien biasa membasuh diri. Pak Toni mandi dan tak lupa menyemprotkan parfum yang baru saja dibelinya. Tak lupa Pak Toni menyanyikan lagu gembira dan bersiul-siul dengan ceria. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini, seperti ketika muda.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Seperti biasa keluarga pasien diperbolehkan masuk ke ruang Cempaka untuk menyuapi pasien. Namun kali ini Pak Toni melihat pemandangan yang  “tidak biasa. Nuryati tidak ada di tempat untuk menyuapi suaminya. Yang tampak adalah seorang pria separuh baya, mungkin usia 25 tahun an. Pak Toni mulai menyapa pria tersebut,

“Maaf, sepertinya saya baru melihat anda di sini. Biasanya istrinya yang datang ?”

“Kakak ipar saya, Mbak Nuryati, kebetulan sedang sakit. Saya diminta untuk menemai mas Rudi. Bapak siapa ?” tanya pria tersebut.

“Saya Toni. Saya menemani istri saya di sini. Sakit juga. Hehehe… tumben kok ga lihat bu Nur, biasanya saya hapal dengan orang-orang di sini” jawab Pak Toni. “Kalau boleh tau,bu Nur sakit apa, mas ?” lanjutnya.

“Masuk angin aja, Pak. Kecapaian mungkin” jawabnya.

Pak Toni hanya berdiam diri. Pria yang merupakan adik dari Pak Rudi pergi meninggalkannya. Sepanjang hari Pak Toni merasa ada sesuatu yang hilang.

Pak Toni terus berpikir,

‘mengapa hari ini aku merasa sangat sedih ? Apakah karena aku melihat kondisi istriku yang sama persis seperti beberapa tahun yang lalu ? Oh Tuhan, tolong kuatkan hambaMu. Kasihanilah istriku, ia sudah kehilangan banyak hal dengan kelemahan di bagian kirinya.. dan sekarang Kau beri cobaan lagi… Tuhan, tak pantaskah ia, kami….. atau aku merasakan kebahagiaan ? usiaku baru 34 tahun dan aku berhak untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan. Aku berhak untuk dihargai, bukan diinjak-injak atau disuruh-suruh. Aku berhak untuk menjadi seorang pemimpin….. Ahhh.. aku merasa sangat kesepian. Biasanya ada Nuryati untuk bisa aku ajak bicara dan berdiskusi tentang pekerjaanku.. sesuatu yang.. tidak bias kudapatkan dari istriku… kalau misalnya Nuryati datang, apakah aku akan tetap merasa sedih seperti saat ini ? hari ini, seperti ada yang kurang.. Apakah aku mulai menyukai Nuryati ?’

***
Bangsal Cempaka, 27 Januari 2017

Sudah 3 hari ini Nuryati tidak datang ke rumah sakit. Pak Toni hanya bias terduduk lemas di ruang tunggu sambil menatap ke televisi. Meskipun demikian, pikirannya kosong.

“Siang, Pak” ucap lembut seseorang membuyarkan lamunan Pak Toni.

“Nuryati ! Terasa lama sekali tidak bertemu denganmu. Bagaimana sakitmu ? Aku.. sangat mengkhawatirkanmu…” ucap Pak Toni sambil memegang tangan Nuryati.

Nuryati hanya bisa memandang Pak Toni dengan sayu.

***
Rumah Nuryati, 24 Januari 2017

Nuryati duduk terdiam di dipan rumahnya. Matanya menerawang ke depan, pikirannya melayang-layang. Sudah 1 minggu sejak perkenalannya dengan Pak Toni yang membuat hatinya kalut. Terngiang kata dokter bedah saraf yang menangani suaminya,

‘Bu, ini bapak kan sudah saya ambil perdarahan di otaknya. Kita berharap hasilnya baik. Tapi sebaik-baiknya hasil yang terjadi, bapak ada kemungkinan tidak bisa seperti dulu lagi, yang mungkin dulu ngapa-ngapain bisa sendiri saat ini ya harus didampingi, gatau sampai kapan. Karena begini ibu, perdarahan bapak ini cukup luas dan letaknya sulit. Begitu ya ibu, mohon kesabarannya’

Nuryati hanya bisa bepikir, ‘Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku yang seorang buruh cuci harus menghidupi anak dan suamiku ? Mengapa Engkau memberikan cobaan yang begitu besar kepadaku ? Aku masih muda, usiaku baru saja 30 tahun dan anakku juga masih kecil. Aku juga ingin bahagia seperti keluarga lain … Mengapa aku harus bertemu Mas Rudi, mengapa aku harus menikah dengannya ? mengapa dia harus terkena penyakit yang berbahaya ?’

Kalimat itu terus terngiang di benak Nuryati. Pikirannya berlanjut mengingat pertemuannya dengan Pak Toni.

‘Apakah pertemuanku dengan Pak Toni adalah sebuah kebetulan, Tuhan ? Setiap hari bertemu dengannya. Jujur, ia adalah orang yang membuatku bersemangat untuk setiap hari datang ke rumah sakit. Apakah ini sebuah hal yang benar ?’

***
Bangsal Cempaka, 30 Januari 2017

Pintu keluar bangsal Cempaka terbuka. Tampak Nuryati sedang mendorong kursi roda dari bangsal Cempaka menuju ke arah pintu keluar.

“Terima kasih bapak ibu perawat,” ucap Nuryati sambil tersenyum kepada penjaga bangsal pagi itu.

“Iya sama-sama, bu. Semoga bapak lekas sembuh,” jawab salah satu perawat.

Hari ini adalah hari kepulangan Pak Rudi. Meskipun belum sembuh, namun Nuryati meminta kepada para petugas medis untuk bisa membawa Pak Rudi pulang dengan alasan keterbatasan biaya. Hutang Nuryati sudah di mana-mana dan harta bendanya sudah terjual untuk membayar biaya rumah sakit Pak Rudi karena mereka belum mengikuti asuransi kesehatan atau BPJS. ‘Saya tidak tau tentang hal itu’ jawab Nuryati ketika para perawat menanyakan mengenai jaminan kesehatan yang dimiliki.

Sebelum keluar dari pintu bangsal, Nuryati bertemu dengan Pak Toni.

“Hati-hati di jalan, Nur” kata Pak Toni.

“Terima kasih, Pak. Semoga bu Rina lekas sembuh” jawab Nuryati singkat. Nuryati sengaja tidak mau memandang Pak Toni. Tatapannya hanya menunduk ke bawah.

‘Ini yang terbaik. Aku tidak bisa lebih lama lagi di sini. Lebih lama di sini berarti aku harus bertemu dengan Pak Toni. Aku tidak mau perasaan ini tumbuh subur. Aku sudah memiliki suami. Dan aku sudah berjanji padanya, kepada keluarganya, dan kepada Tuhan. Bahwa aku akan bersamanya dalam keadaan suka dan suka, kaya dan miskin, sehat ataupun sakit’

Nuryati pun kembali mendorong kursi roda suaminya keluar dari bangsal Cempaka.






Sunday, April 30, 2017

April's Cake Steam

I'm a pro B)
.
.
Procrastinator :(

I've tweeted this on 22nd January 2017 on my twitter account.. and i admit that this tweet is really relates to myself; especially on this month. I've spent my radiology rotation. For some people, this rotation is comfortable and relaxing. HELL NO. This rotation was super hectic. We had to make a presentation everyday... how come they said it was not-hectic- rotation ? :(

After radiology rotation, finally, i had my one week holiday. There was so many things on my mind to do. I want to make some cookies again, i want to make crab stew, i want to make a good blog, i want to study, and so on. But...... i spent my holiday for sleeping and do nothing. I am too lazy to do things..

Well, at least i've made a steam cake. But... :)) Let's see the ingredients.

1 egg

250 gr sugar

1 tbs sp --> what's sp ? kinda baking soda. You can ask in the market.

250 gr flour

200 ml milk

1 box strawberry

How to make :

1. Crushed the strawberries <3

2. Mix egg, sugar, and sp until they fluffy

3. Add milk, flour, and crushed strawberry. Stir until they fully mixed

4. Preheat your streamer. Cover the pot lid with a napkin so the water doesn't go down and make our dough watery

5. Put the dough in the mold and steam it for about 15 minutes until they fluffy

Result :

Mine is.. FAIL. hahahaha.. because i miss-understand about sp. I thought that sp was a sprite, But i was totally wrong. My cake doesn't fluffy as it should be :))
My friend thought that i just made a cilok. Oh no :)))

I will make it later ;)
.
.
Hopefully i am not in my procrastinator mode ~~

Wednesday, March 29, 2017

My Rocky Oreo Cookies

Hi guys ! It's a long time to not to post in this blog. I had done my hectic neurology rotation and hopefully we can get an A scores. Amen :'D Now, I am in radiology rotation. In this rotation, we have to make a running presentation of radiology imaging for 15 days later... Well, it's like we (or I ? :p) make an open mic for stand up comedy because this imaging is so much hard and our consultants keep laughing because of (my) stupidity :"

Anyway, at the Silence Day, I made a cookie ! :D First, I got the recipe from twitter, looks simple and easy to make. But, I didn't understand about the measurement because they used cups (not gram) for each ingredients. Then I searched the other recipe and found the good one. I made "Oreo Cookies" you can get the recipe here : https://www.zoella.co.uk/2015/11/gooey-oreo-cookie-cookies.html :D

this is my version :


  • 200g Plain Flour
  • ½ Tsp Baking Powder
  • 150g refined sugar (the actual recipe uses 50g light brown sugar and 100g white sugar, but I can't find it in my nearest market)
  • 110g butter (I used Wijman butter, kinda expensive but worth it)
  • 75g chocolate chips (the actual recipe uses 50g but I thought it's not enough)
  • 14  of Oreo Cookies, (crushed it, it's free if you want to make it smooth crushed, but I tried to crushed it not too smooth because I still want the texture of Oreo) 
  • 1tsp Vanilla extract
  • 1 Egg
 and this is the step to make it :

1. Melt the butter then mix it to refined sugar. First, the texture is not fully mixed, there was some smooth roundness.

2. Add egg and vanilla extract carefully, make sure it's not overbeat. After adding egg, the texture is fully mixed and very thick.

4. Overheat the oven with small fire. I used stove oven (because electrical oven needs a high watt. Once I used the electrical oven, I had to turn off lights, television, and everything that uses electricity. LOL)

3. Add in the flour and mix it. Then add baking powder, stir until it's mixed.

4. Add chocolate chip and crushed Oreo. Stir again. At this step, the flavor of this dough was incredible ;)

5. By using spoon or hand (I used my hand) form a small balls then pop into the baking line tray. Don't forget to give a space for the cookies to spread out.

6. Wait until the cookies is lighty golden brown. Well, by using stove oven with small fire, I had to wait about 1 hour till the cookies was ready.

*if you want to make cookies with electrical oven, bake at 180oC for 9 - 11 minutes



What's the result ???
The shape is not as round as a "Goodtime Cookies" because I used roughly crushed Oreo. The texture... is stony ! hahaha.. It was sooo hard to chew :)) just like you eat fried meatball :)) But for the flavor.. still awesome !!
SURPRISINGLY, after one day I made this cookies.. the cookies isn't hard again :)) It's in a good texture ;D thought that maybe in normal cookie it will go soggy, but since my cookie is stony, it goes a good texture.

The testimony (from friend of mine) :
..Overall I will give it score 6.8 because the cookie is hard like a stone, but I have to admit that the flavor is wonderful, I give 9 for that -M
..The flavor is good enough, but the texture.. it's hard -Mom
...It's yummy ! It's not hard as you sad.. I'll give it 8 -R  (i gave her in the next day)

Recommendation :
EAT IT WITH A WARM MILK ! hahaha.. I think it will easier to eat this rocky oreo cookies :)) Next time, maybe I have to add more egg yolks (so I use 3 egg yolk and 1 white egg) because egg yolk can make cookie or cake softer ;D or.. maybe i should be patient to wait the cookies become soggy.

The best thing in making this cookies is its smell, it was wonderful and incredible. I remember one good quote about baking, that will make me keep baking :

"The smell of baking makes a house, a home" :)
 
hi ! we are the cookies :)

Wednesday, February 22, 2017

Stay - Noodle



Stay. The first thing that I thought about stay is a struggle. How I can keep having a faith, even though, maybe, the world doesn’t in my side. This makes me think again.
Am I should keep staying for every thing ? Is staying always referred a positive thing ? When to decide to stay or leave ?
***
I love eating noodle. I love it that I can eat it every day. But, is it good for health ? I believe that many people can relate to this problem.
I read a short research about it :

Instant noodle is not easily digested in the body then the digestive tract has to work harder. If the instant noodle stays in the digestive tract for a long time, it will affect the absorption others nutrition. Besides, instant noodle has no nutrition for the body. Otherwise, the body will absorb additive substance, include toxic substance from preservatives, for example, tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ).

TBHQ is a synthetic antioxidant chemical substance. It’s usually used in instant noodle, but this substance can be found in the non-food material, such as pesticide, cosmetic, and perfume because its character to reduce evaporation.

Five grams of TBHQ is dangerous for the human body because it can cause nausea, vomit, and hard breathing. People whose eat instant noodle more than two times a week has a high risk to get metabolism disease, for example, obesity, high blood pressure, increasing blood sugar, and high cholesterol. Besides, there is benzopyrene (substance caused cancer) in some of the instant noodles (gizi.depkes.go.id).

There are many researches to find out a relation between instant noodle and health. A study in Harvard said that instant noodle consumption linked to heart risk in women (www.hsph.harvard.edu). Another study said that instant noodle intake and dietary patterns are associated with distinct cardiometabolic risk factors in Korea (Shin et all, 2014).

The high risk of heart disease with people that consume instant noodle is linked with salt level. The amount of salt in instant noodle in Australia is higher than eight packets of Smith’s salted potato chips and two Big Macs in common or it’s containing more than 80% of the daily recommended maximum salt intake of five grams a day. Furthermore, the noodle product with the highest sodium content per 100g was found in Indonesia, containing 7584 mg per 100g, almost 30 times the amount of sodium found in those with the lowest sodium content in New Zealand (www.goodfood.com.au).

The amount of salt level can cause high blood pressure. The mechanism is complex, as far as I know, salt contains natrium/sodium, it bounds with water. Consumption much salt can make water that bound in salt is higher. This condition makes blood volume increasing but it doesn’t effect the wide of the blood vessel. Then blood will flow heavily and the blood pressure will increase. High blood pressure is like a gate to cardiovascular disease.
***
After reading about noodle, should I stay eat it every day ? Based on the theory, the answer is no because it’s bad for health. But deep down in my heart, the answer is yes since I love it too much.  Can I say there is a contradiction between the heart and logical ? Maybe we have faced this moment but in a different case.

Then, what to decide ?
It depends on myself, what I want to choose, but I have to face every consequence. But I have to remember, stay is not always the best answer. 

If it bad for myself or it can make my life get worse, should I stay ?
If it not worth it and have a bad effect, should I stay ?
If it makes me feel the pain, so-much-pain, should I stay ?

Stay is not always the best answer. Sometimes, leave, is.

Sunday, February 5, 2017

Dian

Hey guys ! I've been made a short yet long love story. hahaha.. hope you'll enjoy it ! :D


Namaku Dian. Pertengahan tahun ini usiaku menginjak 27 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah, kata orang-orang. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Masku, Bimo, adalah seorang dokter yang sudah berkeluarga dan saat ini menetap di ibukota. Sedangkan aku bekerja di sebuah bank swasta di tengah kota Yogyakarta.

Hari ini aku menjalani kehidupanku seperti biasa. Masuk kantor jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore. Sebagai pegawai swasta kami dituntut untuk bekerja keras dengan tekanan yang cukup memusingkan otak.  Namun semua tidak terasa melelahkan karena aku menjalani perkerjaanku dengan gembira. ‘Do with love and love what you do’ kalau kata ibuku. Yah, meskipun setiap hari ada saja yang membuat atasanku berkacak pinggang. Seperti hari ini, dia menegur kami karena setelah rapat tidak ada yang mematikan lampu. Hihihi, ‘lagi PMS kali’ kata temanku sebal. 

Lamunanku terhenti setelah petugas TransJogja berteriak dengan nyaring bahwa bus sudah hampir sampai di shelter tujuanku. Turun dari terminal, aku langsung menuju ke pangkalan ojek dekat shelter bus.  Awan mendung dan rintik hujan membuatku malas untuk berjalan kaki menuju ke rumah, meskipun aku membawa payung. Biasanya aku memilih untuk berjalan dari shelter hingga ke rumah, mungkin sekitar 1 kilo jaraknya. Kata pacarku, setidaknya sempatkan waktu sekitar 30 menit tiap harinya untuk olahraga agar kesehatan tetap terjaga. Pegawai kantoran macam aku mana sempat pergi ke gym, ikut senam atau zumba ? Hahaha, jadilah aku memilih jalan kaki sebagai alternative olah raga. Namun kali ini engga deh. Rintik hujan semakin membasahi badanku dan aku buru-buru naik ojek tanpa ada tawar menawar harga.

Deru mesin ojek yang kunaiki sudah sampai depan rumah. Kuberikan selembar uang 20 ribuan untuknya. 

“Ini mbak kembaliannya” kata tukang ojek sembari mengeluarkan uang 5 ribuan dari dompetnya.

“Gausah pak. Ambil aja kembaliannya” kataku. Terkadang aku tidak tega melihat tukang ojek yang saat ini harus lebih bersaing ketat dengan adanya Gojek atau Uber.

“Wah, terima kasih banyak mbak !” ucap tukang ojek itu gembira.

Ucapan terima kasih tukang ojek hanya kubalas dengan senyum. Aku buru-buru mau masuk ke dalam rumah karena hujan sudah mulai menderas. Masuk ke dalam rumah, kulihat ibuku sedang duduk berbincang di ruang tamu dengan seorang laki-laki, mungkin seumuranku; namun aku tak mengenalnya. Belum sempat kuberi salam kepada ibuku, ibuku langsung berkata kepadaku,

“Dian, sini duduk dulu. Kenalin, ini Tomi, anaknya Tante Nur teman SMA ibu dulu”

Kuulurkan tanganku dan dengan senyum tipis aku mengenalkan diriku,

“Dian”

“Tomi” jawabnya sambil tersenyum.

“eng… mari” ucapku sambil berlalu. Entah mungkin aku terlalu lelah akan pekerjaanku atau aku terlalu malas untuk berkenalan dengan-siapa itu ? Tomi ?-, aku lebih memilih untuk langsung masuk ke kamarku.

Orang semacam Tomi bukan yang pertama, mungkin dia adalah laki-laki kesepeluh yang dikenalkan orang tuaku kepadaku. Meskipun keluargaku tahu aku sudah memiliki pacar sejak 6 tahun yang lalu, namun mereka tetap saja mencoba mengenalkan aku kepada orang yang mereka anggap lebih baik. Aku tidak mengerti, apakah karena pacarku berasal dari keluarga broken sehingga mereka kurang menyukainya ? Entahlah.

Tok tok tok .. ! Terdengar suara pintu kamarku diketuk.

“Dian, buka pintunya..” suara ibuku terdengar lembut.

“Iya bu ?” ucapku sambil membuka pintu kamar.

“Tolong buatkan teh ya untuk Tomi.. sama itu.. di lemari ada kue kering nanti kamu masukkan ke toples trus dibawa ke depan..” pinta ibuku sambil tersenyum dan membelai rambut panjangku.

“Iya bu.. untuk ibu, Dian ambilkan air hangat aja ya. Jangan minum yang manis-manis, ingat diabetes.. nanti Dian laporin ke mas Bimo lho.. hihihi” jawabku menggoda ibuku. Ibuku memang menderita sakit gula sejak 2 tahun yang lalu. Dan mas Bimo selalu memintaku dan ayah untuk mengawasi pola makan ibu.

“Aduh kamu ini.. Iya Dian.. muah. Ibu ke depan dulu ya” kecup ibuku.

Segera aku membuat teh hangat dan menyiapkan hidangan kue. Aku merasa sangat beruntung dilahirkan di keluarga ini. Aku memiliki ayah, ibu, dan kakak laki-laki yang sangat baik. Meskipun mereka sering mengenalkan aku kepada banyak pria dan belum bisa menerima pacarku, namun aku menyadari bahwa itu mungkin demi kebaikanku sendiri, yang sampai saat ini tidak bisa kumengerti. Aku merasa senang karena walau dikenalkan dengan berbagai pria, mereka tidak pernah meuntutku untuk menjalin hubungan dengan pria-pria tersebut. 

Selesai menyiapkan makanan dan minuman, aku mengantarkannya ke ruang tamu. Lagi-lagi, Tomi tersenyum hangat dan aku harus membalasnya dengan senyuman akward. Tak ingin berlama-lama berada di ruang tamu, aku langsung masuk kembali ke kamarku, sementara ibuku masih asyik berbincang dengan Tomi.

Jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Tak sabar aku membuka chat line, berharap pacarku menghubungi. Dan ternyata benar, senyum bahagia tak dapat lagi kutahan. Pacarku mengirimiku sebuah pesan singkat. Selama 6 tahun berpacaran aku selalu deg-degan tiap kali pacarku menghubungiku, baik itu hanya mengirim pesan atau telpon. Just like there’s butterfly flying in my stomach. Hehe..

Hei. How’s your day ?” itulah pesan singkat yang kuterima.

Pretty good, except Bu Arum yg spt biasa suka marah2. Hari ini dia marah gara2 kita lupa matiin lampu.. hahaha.. how’s your day eh ? :)balasku. Tak lupa kusisipkan emot senyum, ya, karena memang dia membuatku tersenyum. Selalu tersenyum.

“Biasa aja. Nothing special. Satu2nya yg bikin spesial ya cm ngeline km ini :p” jawabnya.

Hanya dengan membaca pesan seperti itu saja aku langsung merasa, lagi-lagi, the butterfly keeps flying and flying high in my stomach. Aku memang selalu mudah termakan gombalan pacarku yang sebenarnya mungkin tidak romantis. Kemudian kukirimkan sticker Brownie Conny berpelukan.

Thanks for always make me smile ya :)” jawabku. 

Kuhela napas dalam-dalam, mulai berpikir apakah aku perlu bercerita tentang Tomi, pria yang dikenalkan ibuku kepadaku. Dan akhirnya, seperti biasa, aku memutuskan untuk tidak menceritakannya kepada pacarku. Aku tak pernah mau bercerita tentang semua pria yang dikenalkan orang tuaku kepadaku. 

Karena pasti dia akan memintaku untuk mengikuti saran orangtuaku. 

Karena pasti dia akan memintaku untuk meninggalkannya.

Aku tak mau.

That’s why God sent me to you. To make you smile”  jawab pacarku.

Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Sungguh sangat takut bila aku harus kehilangannya. Kudekap handphone ku erat-erat pada dadaku, membayangkan bahwa yang kudekap adalah pacarku.

***

“Dian, buka pintunya ! Sudah malam, ayo makan dulu !” teriakan ibuku membangunkan tidurku.

Segera aku melihat jam dinding. Ternyata sudah jam 9 malam. Ternyata aku tertidur setelah asyik chattingan dengan pacarku. Aku langsung melompat dari tempat tidurku dan membuka pintu kamarku. Akupun disambut hangat oleh ayahku.

“Aduh, anak ayah yang paling cantik sedunia baru bangun tidur” ucap ayahku sambil membelai rambutku.

“Capek yah tadiii. Keujanan lagi” jawabku manja.

“Eiyaaa.. kamu ini. Dari pulang tadi kan belum mandi. Ini ibu sudah siapin air anget buat kamu mandi. Mandi dulu sana, trus makan” ibuku menimpali.

“Ayah bawa cumi bakar madu kesukaan kamu lhoooo…” kata ayahku, masih sambil membelai rambutku.

“Iyaaa.. Dian mandi dulu ya. Tapi ayah jangan makan cuminya Dian lho ! Dian laper banget, kayaknya cumi-cumi satu samudera bisa Dian makan” jawabku kepada ayah ibuku.

“Iya, makanya mandi dulu, Dian..” kata ibuku.

Belum sempat aku menuju ke kamar mandi, tiba-tiba telepon berdering.

Kring kring kring !!

“Dian aja yang angkat yaa.. “ kataku kepada ibuku dan ayahku.

"Halo ?" jawabku.

"Halo adek.."

"Mas !!!" jawabku kegirangan
.
Ternyata mas ku, Bimo, yang menelepon.

"Ih, mas jarang telpon aku sekarang.. udah 1 minggu lho... Sibuk ya ? Dik Rara gimana ? Udah bisa merangkak belum ?" Sepertinya mas Bimo bingung karena diberondong pertanyaan yang begitu banyak dari adiknya ini. Maklumlah, saat ini ia berada di Jakarta dan sudah berkeluarga. 

"Hahaha..  Aduh, ini pertanyaan beruntun kayak kereta. Iya mas baik, dek. Adek gimana kabarnya ? Sehat ?"

"Sehat mas.. oya, Dian mau cerita. Hari ini, seperti biasa tadi ibu kenalkan Dian ke ... siapa ya tadi namanya... hahaha.."

"Lagi dek ? Ganteng ga ?"

"Ganteng sih. Tapi Dian kan ga minat..."

"Siapa yang telpon itu, Dian ?" tanya ibuku.

"Mas Bimo bu" jawabku, "Mas, ini ada ibu. Nanti aja ya ngobrol sama ibunya, pas Dian mandi. Hihihi.. Mas ada cerita apa di sana ?”

“Hmm.. hari ini banyak pasien yang aneh-aneh dek. Ada pasien yang kecelakaan, minta difotoin pas lagi sakit. Katanya baru pertama kali dia sakit masuk IGD. Padahal ya, lukanya cuma luka lecet kecil aja. Hahaha.. Ada lagi pasien yang matanya kelilipan getah pohon. Itu sampe pohonnya dibawa lho dek. Pake pot gede banget gitu..” 

“Huahahahaha… asik banget sih mas. Ketemu orang-orang ajaib. Kalo Dian mah.. di kantor cuma Bu Arum yang ajaib. Hahahaha.. Hari ini beliau marah-marah, soalnya kita lupa matiin lampu pas rapat. Lebay amat” jawabku kesal. Entah brapa kali aku menceritakan kejadian ini kepada orang-orang terdekatku.

“Hahaha.. Biasa, hormonal mungkin itu dek. Besok lagi kamu catat kalo beliau lagi marah, mas yakin itu berpola setiap 28 – 35 hari sekali. Jadwalnya orang menstruasi tu” ucap masku singkat.

Belum puas aku berbincang dengan masku, ibuku langsung menarik telpon dan berkata,

“Halo Bim. Ini adeknya biar mandi dulu ya. Masak pulang tadi, keujanan, ga mandi sampe sekarang” ibuku berkata sambil melirikku. Akupun bergegas menuju ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, aku berkali-kali mengucap syukur. Sungguh aku berterima kasih kepada Tuhan memiliki keluarga yang amat sangat harmonis dan menyayangiku. Semoga suatu hari nanti aku bisa membuat keluargaku bahagia.

***

Sore itu seperti biasa aku berjalan kaki pulang ke rumah. Setibanya di depan pintu gerbang, aku melihat ada pemandangan yang tidak biasa. Aku melihat ada sepatu Skecher yang amat kukenali. Ini sepatu mas Bimo ! Dengan senang aku langsung membuka pintu. Belum sempat aku mengucapkan salam, senyum bahagiaku mendadak terhenti.

Aku melihat ayahku, ibuku, dan masku duduk di ruang tamu. Mereka juga tampak kaget dengan kedatanganku. Aku melihat ibuku sedang menangis tersedu-sedu, di samping kirinya ada ayahku yang membelai rambut sambil memegang erat tangan ibuku. Di samping kanan ibuku, aku melihat mas Bimo yang juga sambil berkaca-kaca menatapku.

“Dian, tolong duduk sebentar” kata ayahku perlahan.
  
“Ada apa ini?” ucapku bergetar menahan tangis.

“Adek tau kan kalo kami ini sayang banget sama adek ?” kata mas Bimo bergetar.

“Iya, tau mas. Ini kenapa ? Dian bingung mas..” air mata sudah mulai menetes di pipiku. Aku memang tidak tau apa yang terjadi, namun melihat ibuku menangis sesenggukan, dan kedatangan mas Bimo yang tiba-tiba, pastilah ada sesuatu yang sangat penting terjadi.

“Adek.. kali ini mas, ayah, dan ibu meminta adek dengan sangat.. adek mau ya dijodohkan dengan teman mas, namanya Bobby. Orangnya baik kok, dek..” kata mas Bimo pelan, sambil menggenggam tanganku.

“Hah? Maksudnya apa ini mas ? Jauh-jauh mas datang ke sini buat bilang kayak gitu sama Dian ?” nada bicaraku meninggi.

“Dian, ayah mohon.. Dian sudahi ya hubungan dengan pacar Dian itu.. Ini ada orang yang jauh lebih baik untuk masa depan kamu..” kata ayahku, dengan tatapan nanar.

Belum sempat satu kata keluar dari mulutku, mas Bimo langsung berlutut di hadapanku dan memandangku sambil berkata, 

“Anggap ini permohonan terakhir kami, Dian..”

Semua gelap. Mataku berkunang-kunang.

***

Denting lonceng gereja terdengar nyaring. Saat ini aku berdiri di depan pintu gerbang gereja, untuk memasuki tahapan baru dalam hidupku. Pernikahan. Sambil menggenggam erat tanganku, Bobby, calon suamiku, tersenyum lembut kepadaku.

How’s your feel honey ?”  tanyanya.

“Gimana ya.. gatau nih. Campur-campur” ucapku sambil mencoba tersenyum.

Di belakang kami sudah terbentuk barisan rapi, ayahku, ibuku, dan kedua orang tua Bobby. Mas Bimo sekeluarga, kerabat dan saudara-saudara kami berdua sudah masuk ke dalam gereja. 

Lagu pembukaan sudah dimulai. Kamipun berjalan untuk menuju ke altar.

Ketika berjalan menuju ke altar, aku melihat sesosok yang amat kukenal berdiri di depan bangku gereja. Pacarku, yang saat ini menjadi mantanku. Sudah 1 tahun sejak aku memutuskan untuk menghentikan komunikasi dengannya, dan tiba-tiba saja kukirimkan undangan pernikahanku. Begitu jahatnya aku.

Dan saat ini sosok itu hadir di hari pernikahaku. Sosok itu adalah yang selama 6 tahun selalu menghiasi hari-hariku. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun putih dan rambut hitamnya yang terurai panjang dengan jepit kupu-kupu yang menghiasi rambut indahnya itu. Aku sangat ingat dengan jepit itu karena aku sendiri yang memilihkan dan memasangkannya pada rambutnya untuk pertama kalinya. Rambutnya semakin panjang, wajahnya semakin cantik sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Kulihat senyum menghiasi wajahnya. Senyum menahan tangis dan berusaha mengikhlaskanku. Aku sangat mengetahuinya. 

***

Namaku Dian. Aku adalah seorang lesbian.  Sebuah kondisi yang tidak aku pilih, tidak aku rencanakan, dan mungkin tidak aku harapkan. Aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi seorang lesbian. Yang kuingat hanya pada waktu kelas 1 SD, aku merasa sangat kehilangan teman bermainku yang pindah sekolah karena pekerjaan orang tuanya. Ya, dia perempuan. Apakah dia cinta pertamaku ? Mungkin. Yang kuingat setelah itu hanyalah aku tertarik pada perempuan.

Pernahkah kalian, wahai perempuan, merasa tertarik pada pria tampan dan tidak merasa tertarik pada perempuan yang cantik ? Akupun. Aku tertarik pada wanita cantik dan tidak merasa tertarik pada pria tampan.

Pernahkah kalian, wahai perempuan, merasa ingin memiliki pria baik hati dan tidak merasa ingin memiliki perempuan yang baik hati ? Akupun. Aku ingin memiliki wanita yang baik hati dan tidak merasa ingin memiliki pria yang baik hati.

Pernahkah kalian, wahai perempuan, mencintai seorang pria yang kalian rasa sempurna dan tidak mencintai seorang wanita yang kalian anggap sempurna ? Akupun. Aku mencintai wanita yang kuanggap sempurna dan tidak mencintai pria yang kuanggap sempurna.

Dan pernahkah kalian, wahai perempuan, memilih kepada siapa kalian mencintai ? Tidak. Akupun, tidak. Bila diperbolehkan memilih, aku tidak mau mencintai seorang perempuan.

***

Namaku Dian. Aku adalah seorang lesbian. Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang amat kusayangi, kuncintai, dan kukasihi. Namanya Putri. Aku mengenalnya sejak di bangku kuliah. Yang pada awalnya kuanggap dia hanyalah seorang sahabat, dan lama-lama aku mencintainya. Kepadanya aku mengakui bahwa aku adalah penyuka sesama jenis. Dengan harapan, bila dia adalah orang ‘normal’ mungkin dia akan menjauhiku dan aku harus mengubur harapanku untuk bersamanya.

“Put, jujur, aku ini lesbi. Aku jujur sama kamu karena aku gamau kamu risih. Kamu boleh jauhin aku sekarang karena kayaknya perasaanku ke kamu berubah, dari sahabat jadi… pengin memilikimu…” ucapku pada Putri saat itu.

Jawaban Putri sungguh di luar bayanganku. Tanpa berkata apa-apa ia langsung mengecup bibirku dengan lembut. Sambil mengusap rambutku ia berkata,

“Aku seneng banget kamu jujur sama aku, Dian. Karena sesungguhnya, akupun merasakan hal yang sama..”
Setelah itu kami berdua berpelukan dengan erat. Bahkan, sampai saat ini, saat aku berjalan menuju altar pernikahanku, dengan orang yang sama sekali tidak kucintai, aku masih bisa merasakan kehangatan pelukannya saat itu.

Tanpa sadar, lamunanku terhenti ketika kami berdua sudah sampai di depan altar untuk memulai prosesi Misa Suci Sakramen Perkawinan. Kutahan air mataku, jangan sampai ia jatuh membasahi dan membuat luntur make up ini.

Sepanjang prosesi ibadah pikiranku melayang ke mana-mana. Tatapanku kosong. Berkali-kali, Bobby, calon suamiku, menggenggam erat tanganku dan tersenyum kepadaku. Bobby adalah pria yang sangat baik hati, dan mungkin sempurna bagi kalian wahai perempuan. Tapi aku tidak bisa mencintainya. Pikiranku tetap tertuju kepada tambatan hatiku, Putri.

***

Tak terasa khotbah Romo sudah selesai. Tanganku menjadi kaku dan dingin. Saat inilah saat paling sacral. Ucapan janji pernikahan, di depan Romo, keluarga, saksi, umat, dan di hadapan Tuhan. Kakiku terasa sangat lemas untuk berdiri. Bobby bahkan harus membantuku untuk dapat berdiri tegak. 

Saudara-saudari terkasih, kini tibalah saatnya kedua calon mempelai untuk meneguhkan janji perkawinan mereka. Pada upacara penerimaan Sakramen Perkawinan ini, Dian dan Bobby akan mempersatukan cinta mereka dalam ikatan cinta Kristus yang abadi. Saya mengundang kedua saksi untuk ke depan. Umat juga saya persilakan berdiri” ucap Romo.

Aku tidak mau mendengar semua ucapan prosesi. Mataku tertuju pada ibuku, ayahku, dan masku. Aku masih berpikir, mungkinkah aku bisa langsung lari dari altar gereja ini, menggandeng Putri, dan kami keluar dari gereja untuk bisa hidup bersama ?

Tidak.

Aku memang sangat menyayangi Putri. Akan tetapi aku menyadari, aku jauh lebih menyayangi keluargaku.

Ibuku, yang kutau setiap pulang arisan dengan tetangga, ibuku selalu masuk ke kamarnya untuk berdoa, karena tidak kuat mendengar omongan tetangga yang mengetahui keadaanku.

Ayahku, yang kutau mendapat tekanan luar biasa dari keluarga besarku, bude-pakde-om-tante, yang menganggap aku tidak normal karena aku adalah lesbian. Namun ayahku selalu membelai lembut kepalaku dan menatapku dengan penuh kasih.

Masku, yang kutau sering mendapat cacian dan hinaan dari keluarga istrinya, karena menganggap aku adalah ‘orang sakit’ yang tidak bisa disembuhkan. Namun ia selalu menghubungi dan menghiburku dengan obrolan-obrolan konyolnya.

“Dian , apakah saudari menerima dan meresmikan perkawinan ini dengan kesungguhan dan keikhlasan hati? ucap Romo.

Mungkin ini saatnya aku membalas kebaikan mereka semua, membalas rasa cinta mereka yang begitu besar kepadaku. Untuk membalas setiap tetes air mata mereka demi membelaku. Pernikahanku ini adalah bukti cintaku kepada mereka. Dan sekali lagi kutatap salib besar di sampingku.

Iya Tuhan, mungkin ini juga bukti cintaku padamu.

Sambil berkaca-kaca akupun berkata,

“Ya, saya bersedia”

***

Welcome!

Setelah bertahun-tahun tidak membuka blog, akhirnya yah, aku kepikiran lagi untuk menulis di blog ini. kuberi waktu untuk menulis selama 15 ...